“Tadi banyak kerjaan, Bu. Mau gimana lagi?”
“Sudah, Bu. Nggak papa kalau Mas Hanan sibuk.” Hana berusaha menengahi agar Hanan tak lagi merasa terpojokkan.
“Nih, suapi istri kamu!” ujar Maya, menyodorkan mangkuk berisi bubur ayam pada Hanan. Membuat putranya itu terperangah. “Kenapa diam, nggak mau? Malu, kalau harus suapi istri sendiri?”
Hanan menghela napas pasrah, tak ada yang bisa dia lakukan lagi. Menolak pun, percuma. Pasti akan kena semprot sang ibunda.
“Nih!” Maya mangkuk itu dan lekas beranjak dari kusri, membiarkan Hanan yang menggantikannya. Sementara dia, mengajak sang suami untuk ke luar. Sengaja, agar Hanan dan Hana bisa berdua. Romantis, bukan?
Terasa ruangan menjadi pengap, canggung. Hana salah tingkah, gugup karena hanya ada dia dan Hanan di ruangan ini. Dia ingat dengan jelas kejadian semalam, bagaimana Hanan begitu terlihat emosi melihatnya kesakitan.
“Kenapa senyam-senyum, nih, makan.” Hanan mulai menyendok bubur, menyuapi Hana dengan hati-hati. Walau wajahnya datar, tetapi juga merasakan kecanggungan. Kenapa ini, kenapa dia merasa ada yang berbeda dalam tubuhnya?
“Mas, udah. Aku udah kenyang.” Hana mengusap pelan sudut bibir dengan punggung ibu jari.
Hanan mengangguk, menukar mangkuk dengan gelas berisi air putih yang sudah ada di atas nakas. Membantu Hana untuk minum. Entah kenapa, ada yang bergetar dalam tubuhnya. Ada yang berdesir dalam darahnya saat menyentuh tangan Hana.
“Alhamdulillah ...,” gumam Hana setelah menyelesaikan minumnya. Membiarkan sang suami untuk kembali meletakkan gelas di atas nakas.
Suasana semakin terasa canggung. Keduanya tidak tahu harus mengawali obrolan dari mana. Hana yang menunduk dan Hanan yang celingukan ke sana kemari. Kedua orang tuanya itu pasti sengaja meninggalkan dia dan Hana agar bisa berdua.
Suara dehaman memecah keheningan, Hanan pura-pura merubah posisi duduk, mengurangi kecanggungan. Melewati beberapa menit dengan keheningan. Tak ada suara sama sekali.
“Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang masih sakit?” tanya Hanan, berusaha mencairkan suasana.
Hana menggeleng pelan. “Tidak ada, Mas. Semuanya sudah membaik, alhamdulillah.”
Hanan mengangguk paham, bersyukur dalam hati, menggumamkan hamdalah. “Syukur kalau gitu. Dua orang itu sudah ditangani oleh pihak berwajib. Jangan menolak,” cegahnya saat melihat Hana hendak membuka suara. “Tidak ada kata ampun bagi siapa pun yang sudah melukai orang-orang terdekat saya. Mereka harus diberi pelajaran agar tidak mengulangi hal yang sama.”
“Iya, sih, Mas. Tapi, apa harus seperti itu? Kasian, kalau mereka punya anak, bagaimana?” Hana menatap suaminya dengan intens, tak dapat menyembunyikan rasa cemasnya.
“Kamu tidak perlu cemas. Mereka tidak mempunyai anak, asisten saya sudah menyelidiki semuanya. Juga, hukuman mereka hanya enam bulan. Hanya membuat mereka jera akan perbuatan semena-mena seperti itu.”
Hana mengangguk, menghela napas lega. Dia percaya, Hanan tidak akan melakukan hal rendah dan kotor pada orang lain. Adil dan bijaksana. Walau terkadang, perbuatan lelaki itu di luar akal sehat.
Bunyi dering ponsel memecah suasana, membuat mereka terfokus pada sumber suara. Hanan yang merasa sakunya bergetar, lekas mengeluarkan benda lima koma lima inci itu dari sana. Tertera nomor tidak dikenal, dua belas angka yang menandakan nomor baru. Nomor siapa?
“Kenapa nggak diangkat, Mas?” tanya Hana, heran. Pasalnya, lelaki itu selalu fast respons jika ada yang menghubungi.
“Nomor baru, tidak dikenal,” jawab Hanan tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel.
“Angkat saja, siapa tau penting.”
Hanan mendongak, mengangguk. Kemudian, menggeser tombol hijau ke kanan. Menempelkan benda pipih itu ke daun telinga. Terdengar suara serak memanggil namanya di seberang sana.
“Hallo, iya, ini saya Hanan. Maaf, dengan siapa di sana?”
“Hanan! Ini gue, Sabna!” ujar sosok gadis di seberang sana.
Hanan terkesiap, menatap Hana yang tidak terkejut sama sekali walau dipastikan gadis itu juga mendengar obrolan dia dan Sabna.
Belum sempat dia menjawab kembali, ponselnya sudah direbut seseorang dari belakang. Tak terima, dia berbalik badan dengan cepat. Menatap sang ibunda yang ternyata, menjadi dalang itu semua.
“Ibu?”
“Kamu ini, Hanan ... Hanan. Nggak mikirin perasaan Hana apa. Istri kamu itu sedang sakit, kamu malah enak-enakan menerima telepon di hadapan dia!” omel Maya yang baru saja kembali dari luar bersama sang suami, Arya.
Mendengar Hanan tengah berbicara, awalnya mereka senang Itu artinya, putranya itu sudah bisa menerima kehadiran Hana. Namun, saat memasuki ruangan ternyata anak itu tengah menerima telepon. Benar-benar keterlaluan Hanan.
“Barusan, Bu. Itu juga atas izin Hana, kok,” protes Hanan, tak terima disalahkan.
“Tetap aja, salah. Istri kamu lagi sakit. Harusnya, kamu matikan ponsel kamu, bukan menerima panggilan. Menantu ibu itu terlalu baik, kamu yang harusnya bisa tau keadaan,” jelas Maya panjang kali lebar.
“Nggak papa, Bu. Lagi pula, Mas Hanan menerima panggilan itu pasti karena urusan bisnis. Penting kan, Mas?” tanya Hana, beralih menatap Hanan yang sudah membuang tatapan.
Tanpa mereka ketahui, di ruang rawat Mawar, seorang gadis tengah menutup mulut tak percaya saat mendengar sebuah fakta, bahwa Hanan telah memiliki seorang istri.
Gegas dia menekan tombol merah, mengakhiri panggilan secara sepihak. Tak peduli jika di sana sedang meributkan hal apapun.
“Lo bilang, nggak ada yang marah, Hanan. Tapi, apa ini?” gumamnya seiring air mata yang jatuh ke pipi. Hancur sudah harapannya.
“Tuh, kan. Dimatikan secara sepihak, penting apanya coba?” gerutu Maya, saat menyadari panggilan telah berakhir. “Pokoknya, ibu nggak mau tau. Ini ponsel, ibu sita sampai besok Hana pulang ke rumah!”
Hanan mendongak, “Bu! Kok, gitu? Terus, bagaimana aku kerja?”
“Jangan kerja dulu. Nanti biar ibu yang telpon Alex agar menghandle semua perkejaan kamu.”
Pasrah, hanya satu kata itu yang sekarang bisa Hanan lakukan. Ingin marah pun, percuma. Akhirnya, memilih duduk di sofa yang terletak di pojok ruangan. Memperhatikan Maya yang tengah menyuapi Hana buah-buahan.
Di sisi lain, gadis dalam ruang rawat mawar tengah terisak. Ruangan yang semula tertata rapi, kini sudah menjadi kapal pecah. Peralatan kesehatan sudah berhamburan di lantai. Jangan tanya keadaanya seperti apa, persis seperti orang yang sudah kehilangan akalnya.
Matanya begitu sembab, rambut pirang yang acak-acakan. Infus sudah terlepas sejak tadi. Banyak beralih ke lantai dan sofa.
“Arrrghh, sialan! b******k lo, Hanan! Aaaaaaaaah! Huh, huh, huh ....” teriaknya dengan sangat keras, napasnya sampai terengah-engah, dadanya terasa sesak sekali saat mengetahui fakta itu.
Tidak. Dia sudah jauh-jauh dari luar negri untuk ke sini, menemui Hanan. Berharap bisa menjadi istri sahabat masa kecilnya itu dan memperbaiki keadaan. Namun, jika seperti ini, dia telah kehilangan kesempatan.
“Nggak papa, Sab. Nggak papa. It's oke, kalau Hanan sudah punta istri. Lo masih bisa jadi pacaranya, kan? Lihat aja, gue nggak bakal nyerah buat rebut Hanan dari wanita itu! Seorang Sabna tidak akan pernah menyerah sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan!” gumamnya dengan tatapan lurus ke depan tanpa keraguan.