Haruskah?

1179 Kata
Pria berjas putih itu mengangguk, lalu mengeluarkan selembar kertas kecil, memberikannya pada Arya. “Ini, silakan tebus obatnya. Sekarang juga sudah boleh pulang kalau sudah siuman.” “Terima kasih, Dok.” Arya menghela napas panjang, menatap kepergian sang dokter dengan nanar. Kemudian, beralih menatap kertas yang ada dalam genggamannya. Sampai kapan Hanan akan terus bergantung pada obat? Dia harus segera melakukan sesuatu. Faktanya, cinta bisa mengubah dan mengobati segalanya bukan? Maka satu-satunya cara adalah dengan menyatukan Hanan dan Hana. Mereka akan saling melengkapi, bahagia bersama. Dengan itu, pasti luka batin Hanan akan sembuh seiring berjalannya waktu dengan bantuan cinta Hana. Lantas, dia melangkah ke arah apotik, menebus obat sang putra, sembarj menunggu Hanan sadar. Kasian sekali anak itu, harus terus menerus mengonsumsi obat seperti ini. *** Mata Arya berbinar manatap dua botol obat yang sudah ada dalam genggamannya. Namun, seketika raut cerianya berubah tatkala melihat tubuh tegap Hanan keluar dari ruangan. Dia tahu, itu pasti Hanan dari postur tubuh dan baju yang dikenakan. “Hanan!” panggilnya sembari berlari kecil. Benar, Hanan menoleh. Mendapati sosok sang ayah yang tengah berlari menghampirinya. Fokusnya langsung pada obat yang ada dalam genggaman sang ayah. “Obat siapa itu, Pah?” tanya Hanan, menjunjuk dua botol yang ada di dalam kresek, di tangan Arya. “Obatmu, huh huh huh ...,” jawab Arya kemudian mengontrol napas yang tersengal-sengal. Usia yang sudah tak muda lagi, membuat tubuhnya rentan. Berlari segitu saja, sudah membuat napas tak beraturan. “Aku? Aku nggak butuh obat, Pah ....” Hanan memelas, dia sudah lelah dengan pil pahit yang hampir setiap hari harus melewati tenggorokannya. “Hanan ... kalau kamu tidak ingin meminum obat ini lagi, bagaimana dengan keadaan kamu, hum? Lihatlah, tadi saja papah temukan kamu tidak sadarkan diri. Kambuh, kan?” Arya menatap sang putra dengan dalam, iba lebih tepatnya. Kemudian, menyerahkan obat itu pada Hanan. “Diminum. Oh, ya. Hana sudah sadar dan boleh pulang besok pagi.” Hanan terlihat biasa saja, tidak bahagia atau pun terkejut sesuai dengan bayangan Arya. Putra tunggalnya itu malah terlihat datar, antara peduli dan tidak. Padahal, saat membawa Hana wajahnya jelas terlihat sangat khawatir sekali. “Ohh ... iya, Pah. Nanti aku jemput pulang. Aku ada urusan sebentar.” Hanan melengos begitu saja sebelum Arya bertanya mau ke mana dia. Lelaki paruh baya itu menggeleng pelan, menatap kepergian sang putra. Memperhatikan punggung Hanan yang semakin hilang dari pandangan. Lantas, dia kembali ke ruangan Melati, ruang di mana Hana masih dirawat. Di sisi lain, Hanan tengah tergesa-gesa untuk bisa sampai di ruangan Mawar. Dia khawatir dengan keadaan sahabatnya, Sabna. Bagaimana keadaan gadis itu sekarang? Ah, dia merasa bersalah sekali. Tiba di depan ruangan, langsung masuk. Tampak dokter dibantu dengan dua suster masih mengecek kondisi Sabna. Dia menghela napas pelan. “Bagaimana keadaan Sabna, Dok?” tanya Hanan, sesaat menatap dokter wanita berambut sebahu, lalu menatap gadis malang yang terbaring lemah di atas brankar. “Pasien sudah berhasil melewati masa kritisnya, tinggal menunggu dia sadar saja, Pak. Apa Bapak suaminya?” Hanan menggeleng dengan cepat. “Bu-bukan, saya bukan suaminya. Saya sahabatnya, Dok.” Dokter itu ber-oh ria, lalu berpamitan untuk kembali ke ruangan. Meninggalkannya berdua dengan Sabna, dia menarik napas panjang, mengembuskannya secara perlahan. Kemudian, menarik kursi dan duduk di samping ranjang rumah sakit. Menatap wajah yang matanya masih tertutup rapat. “Sab ... maaf, saya sudah membuat kamu begini.” “Nggak Papa, Nan. Gue baik-baik aja, kok,” ujar Sabna dengan suara sedikit serak, membuka mata perlahan dan membuat Hanan terkejut. Sontak lelaki itu berdiri, tersenyum lebar. Matanya berbinar sekali. Bahagia mendapati Sabna sudah siuman. “Lo udah lama, nungguin gue?” “Barusan, beberapa menit.” Hanan tersenyum. “Kamu mau apa? Mau minum atau mau makan?” “Gue nggak mau dua-duanya. Gue mau lo janji, nggak akan ninggalin gue lagi. Selalu temenin gue ke manapun, kapanpun.” Sabna terbatuk pelan, membuat Hanan semakin khawatir. Terlihat jelas Hanan tengah bimbang, berpikir sejenak. Antara memenuhi atau tidak. Dia takut jika menolak, akan membuat kondisi Sabna semakin parah. “Baiklah, saya janji,” ucapnya tanpa keraguan sedikit pun, mengangguk pelan. Sabna tersenyum, menatap Hanan dengan lekat. Hatinya merasa puas mendengar keputusan lelaki itu. Tiba-tiba bunyi dering ponsel terdengar, bergetar di saku celana Hanan. Buru-buru lelaki itu merogoh saku, mengeluarkan ponsel dan melihat siapa yang menghubunginya. Tertera nama sang ibunda di sana, segera menggeser tombol hijau ke kanan, menempelkan benda persegi itu ke daun telinga. “Iya, Bu? Wa’alaikumsalaam warohmatullah.” Sabna mendengkus kesal, merasa momen bersamanya sudah diganggu oleh orang yang menelepon itu. Siapa, sih, yang menghubungi Hanan? Tampak serius sekali lelaki itu menerima panggilan, sampai menjauh dari ranjangnya. “Iya-iya, Bu. Aku segera ke sana.” Hanan menutup panggilan setelah mengucapkan salam, berbalik badan dan menatap Sabna dengan satu. Menghampiri gadis itu. “Sab ....” “Siapa yang nelpon, Han?” “Ibu, meminta saya untuk segera kembali. Kamu nggak papa, kan, kalau saya tinggal? Oh, ya, orang tua kamu ke mana, apa sudah dihubungi?” Hanan menoleh ke sana kemari, menatao sekitar. Tidak ada tanda-tanda akan ada kedatangan seseorang lagi ke ruangan ini. Sabna menunduk dalam. “Orang tua gue udah nggak ada, Han. Tapi, lo kalau mau pergi, pergi aja. Gue nggak papa, kok,” tuturnya disertai kekehan kecil. “Beneran?” tanya Hanan, memastikan. Sebenarnya dia tidak tega meninggalkan gadis itu sendirian, apalagi setelah mendengar kedua orang tua Sabna sudah tidak ada. “Iyaaa.” Sabna mengangguk, tersenyum. Hanan juga mengangguk, berpamitan. Sesaat matanya melirik gadis itu sebelum benar-benar keluar dari ruangan. Merasa berat meninggalkan Sabna sendirian. Sementara Sabna, gadis itu memperhatikan Hanan sampai menghilang dari pandangan. Kemudian, beranjak dari pembaringan dan duduk bersila di atas ranjang. Mendengkus kesal. “Baru juga sebentar, menyebalkan!” gerutunya, menatap selang infus yang tertancap di pergelangan tangan. Secepat kilat tangan kirinya mencabut dengan paksa jarum infus itu. “Awww, sakit ...,” lirihnya, mengusap tangan kanan yang terasa perih. Mengempaskan jarum infusan itu begitu saja. Sementara itu, Hanan mempercepat langkahnya menuju ruang rawat di arah yang berlawanan. Tak ingin membuat sang ibunda semakin marah. Bisa-bisa, mereka akan semakin marah saat mengetahui dia menemui Sabna tadi. Tiba di depan pintu, Hanan menarik napas dalam. Kemudian, memutar knop pintu dan menyembul. Aroma obat-obatan langsung menyeruak memasuki indra penciuman. Tampak Hana tengah duduk bersandar pada bantal, ranjang sedikit ditinggikan. Maya tengah menyuapi gadis itu sambil sesekali mengajaknya mengobrol. Sementara Arya, lelaki itu tengah berkutat di depan laptop. “Assalamu’alaikum, Bu, Pah ...,” salam Hanan, membuat semua orang yang ada di ruangan itu sontak menghentikan aktivitas mereka. Menatap Hanan yang baru saja datang. “Mas ... sini. Baru sampai?” tanya Hana penuh kelembutan, Hanan mengangguk, menghampiri sang istri, membiarkan wanita itu menyalami tangannya penuh hormat. “Mas udah makan?” Hana mendongak, menatap sang suami sambil sesekali menelan bubur yang baru saja dia kunyah. “Sudah. Kamu makan saja. Saya sudah kenyang.” Hanan beralih menatap sang ibunda. “Bu, apa Ibu sudah makan?” “Apa-apaan kamu, istri lagi sakit malah sibuk kerja,” ketus Maya tanpa berniat menjawab pertanyaan sang putra. Memilih fokus menyuapi menantunya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN