Fakta

1102 Kata
“Kurang tau, Mas. Tadi mendadak pingsan saja setelah Mas pergi,” ujar seorang pelanggan kisaran tiga puluh tahunan. Hanan menatap Sabna dengan sendu. Salahnya juga, karena meninggalkan gadis itu. Padahal, sudah tahu jika Sabna mengidap penyakit leukimia. “Sab, bertahan. Kita ke rumah sakit sekarang!” ujar Hanan, lantas membopong tubuh gadis itu dibantu beberapa orang lainnya menuju mobil. Dengan kecepatan penuh, mobil melaju begitu kencang, membelah jalanan secepat kilat. Sesekali Hanan melihat ke spion agar bisa mengetahui kondisi gadis di bagian jok belakang. Dadanya terasa sesak bak dihimpit bebatuan besar, detik-detik ini seperti tengah mengingatkannya untuk kembali pada peristiwa di masa lampau. Seorang gadis dengan penuh darah, duduk di samping joknya. Namun, sayang, tidak tertolong. Hal itu membuat Hanan hilang kendali, kakinya menginjak pedal gas tanpa henti, terus menambah kecepatan sampai pada titik seratus dua puluh kilo meter per jam. Hampir menyeimbangi para pembalap. Dia tidak peduli, jika nyawanya terancam. Yang penting, Sabna selamat sampai tujuan, mendapatkan pertolongan segera. Sungguh, dia tidak ingin hal yang sama terjadi kembali pada gadis yang ada di dalam mobilnya. Cukup satu kali, tolong, jangan biarkan dia menyesal kembali karena telah meninggalkan Sabna begitu saja. Jarak yang cukup jauh, membuat Hanan harus buru-buru sampai. Perjalanan yang biasanya memakan waktu satu jam, dapat ditempuh dalam waktu dua puluh menit. Decitan rem terdengar memekakkan telinga, mobil berhenti tepat di parkiran rumah sakit. Hanan menarik napas dalam, mengembuskannya secara perlahan. Seperti berlari puluhan kilo meter atau balap liar, ini sungguh membuat jantung berolah raga, berdetak dengan cepat. Sesaat dia menoleh ke belakang, tampak Sabna masih terbaring lemah di sana. Kelopak mata yang dibalut dengan eyeshadow kuning keemasan itu tertutup rapat. Lantas, dia ke luar. Berteriak memanggil tenaga kesehatan. Tak lama, brankar sudah didorong ke arahnya dengan bantuan tiga tenaga kesehatan. Melihat itu, Hanan segera menggendong Sabna dan meletakkannya di atas brankar. Gesekan roda brankar beradu dengan lantai membuat siapa saja akan merasakan ketegangan yang luar biasa. Karena biasanya, keadaan darurat yang hanya memakai brankar. Hal itu juga berlaku pada Hanan, lelaki itu terus mendorong brankar dengan penuh kecemasan. Dibantu dengan tiga tenaga kesehatan tadi. Peluh menetes merambas membasahi pelipis, tetapi dia menghiraukan itu semua. Terus gencar mendorong brankar dengan sekuat tenaga dan berhenti tepat di ambang pintu saat seorang suster menghentikannya. “Maaf, Pak. Sebaiknya Bapak tunggu di luar dulu, biar kami yang menanganinya,” jelas sang suster dan diangguki Hanan. Pasrah, mungkin kata itu yang tengah ada dalam benak Hanan. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Napasnya tersengal-sengal, keringat sudah membasahi d**a dan punggung, apalagi pelipis yang sudah basah sejak tadi. Hanan menoleh ke samping, duduk di kursi panjang besi berisi empat kursi. Mengusap keringat yang sudah sampai ke dagu sembari menormalkan kembali napas yang sempat tidak beraturan. Dia mengusap wajah dengan kasar, menghela napas panjang. Andai tadi tidak meninggalkan Sana, mungkin semuanya tidak akan menjadi seperti ini. Salahnya juga, mengapa tadi terburu-buru untuk meninggalkan gadis itu. Lihatlah, semuanya malah menjadi seperti ini. Rumit sekali hidup. “Arrrghhh!” teriak Hanan, menjambak rambut dengan frustrasi. Tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan searang. Apa kejadian masa lalu akan terulang lagi? Apa semua yang selama ini telah coba dia tahan akan terkuak sepenuhnya? Karena sungguh, dia ingin mencoba damai dengan keadaan. Tak ingin lagi terus-menerus bergantung pada obat-obatan. Kepalanya mendadak sakit, terasa bak ditusuk ribuan duri, dadanya juga sesak. Ingin berteriak, tetapi tak mampu. Hanan meringiskesakitan, memegang kepala yang terasa berdenyut sekali. Sepertinya, penyakit ang dia derita selama ini kambuh. “O-obat ... obatku, tolong ...,” lirihnya berusaha meraih angin, pandangannya seketika mengabur seiring sudut mata yang berair. Sepasang suami istri itu terliat ceria. Passalnya, menantu kesayangan mereka sudah diperbolehkan pulang besok pagi. Tentu saja, hal itu sangat menggembirakan, bukan? Mengingat semalam kondisi gadis ituamat memprihatinkan. “Pah, Hanan sudah tau, kalau Hana besoksudah boleh pulang?” tanya Maya tanpa menoleh pada sang suami, fokusnya tengah terpusat pada bubu ayam yang baru saja dia beli di kantin rumah sakit, berniat memberikan makanan itu pada sang menantu. “Belum , Bu. Papah telpon dulu, ya. Semoga dia tidka sedang sibuk.” Maya mengangguk, tersenyum. Kemudian, berpamitan untuk ke ruangan Hana terlebih dahulu. Membiarkan sang suami yang mengurus segalanya dengan Hanan. “Iya, Bu. Nanti papah pasti nyusul kalau udah telpon Hanan.” Arya tersenyum, menatapkepergian sang istri dan lekas mengeluarkan benda pipih dari saku celana, berniat menghubungi sang putra. Jari jemarinya bergerak lincah di atas papan keyboard, mencari kntak atas nama sang putra. Dapat, segera menekan tombol hijau dan menghubungkan panggilan. Mulai tedengar sabungan telepon, lalu detik berikutnya terdengar nada dering ponsel disekitar Arya. Merasa tidak asing degan bunyi dering ponsel itu, Arya mencoba mencari tahu di mana letak bunyi tersebut. Sepertinya, berasal dari koridor di kanan depan sana. Lekas dia membawa kaki jenjangnya ke arah sana. Perlahan tetapi pasti, Arya mulai mendekati koridor di depan sana. Tak bisa dipungkiri, detak jantungnya malah berdegup lebih kencang. Namun, karena rasa penasaran dia harus berani ke sana. Tak terduga, dia melihat sosok pria berpakaian formal sudah terbaring lemah di atas kursi panjang itu. Dia terbelalak, menghampiri sosok itu dan mencari tahu siapa lelaki itu. “Hanan!” pekiknya tatkal mengetahui wajah putranyalah yang ada di balik tubuh itu. Panik, tentu saja. Dia segera memanggil tenaga kesehatan dan membawa Hanan ke sebuah ruangan dengan perasaan yang sudah tidak karuan. Berjalan ke sana kemari di depan pintu, menunggu kabar dari dokter yang menangani Hanan. Sudah dia putuskan untuk tidak memberi tahu Maya, supaya istrinya itu tidak merasa khawatir. Pantas saja, saat menghubungi Hanan tadi bunyi dering ponsel terdengar tak asing. “Hanan ... kenapa kamu bisa jadi seperti ini, sih?” gumamnya, pelan. Menatap ruangan di mana terbaring lemah Hanan di dalam sana. Duduk dengan perasaan gelisah, menanti kabar yang penuh harap, tersemogakan kesehatan Hanan. Berharap anak itu baik-baik saja. Mengapa harus seperti ini di saat Hana juga sakit? Apa yang terjadi dengan Hanan? Terdengar pintu dibuka, sontak Arya langsung berdiri. Menghampiri pria paruh baya dengan jas putih kebanggan, tak lupa stetoskop melingkar di lehernya. “Keluarga pasien!” “Saya ayahnya, Dok! Bagaimana keadaan putra saya?” tanya Arya dengan perasaan yang sudah tak dapat digambarkan, penuh kecemasan. “Tidak perlu khawatir, Pak. Putra Bapak baik-baik saja. Hanya efek terlalu stress. Maaf, apa putra Bapak memiliki trauma?” Arya tampak berpikir, mengangguk pelan. “Iya, Dok. Dulu, di masa lalu ada insiden yang membuatnya sama sekali enggan untuk keluar dari kamar.” “Mungkin karena efek itu masih ada, membuat kondisi fisiknya juga ikut terganggu. Saya harap, untuk ke depannya jangan biarkan anak Bapak terlalu banyak pikirkan. Resikonya akan sangat tinggi.” “Baik, Dok. Akan saya usahakan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN