Makan Bareng?

1110 Kata
“Oke, gue nggak akan pegang!” Sabna akhirnya menyerah, mengangkat kedua tangan, menatap Hanan dengan kecewa. Hendak pergi dan melangkah masuk duluan, tetapi langsung dicegah oleh Hanan. Lelaki itu menggeleng, lalu menggandengnya masuk ke dalam. Jari jemarinya dan jari jemari lelaki itu saling bertautan, terasa hangat sampai ke d**a. Berdesir lembut dalam jiwa, membelai dengan syahdu darah yang mengalir. Tampak semua orang langsung menoleh ke arah pintu utama tatkala Hanan masuk. Sebagian dari mereka para pengusaha, staf kantor biasa, sampai ke anak kuliahan. Sebagian mengenal Hanan. Namun, mereka tidak menyangka jika pengusaha muda itu membawa gadis lain untuk makan siang bersama saat istrinya sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Dalam satu malam, berita tentang ke salah pahaman itu sudah menyebar luas. Jangan heran, secara nama Hanan sudah tersebar juga di seluruh penjuru. Seorang pengusaha muda, pemilik perusahaan industri terbesar di Benua Asia. Akan tetapi, dari mereka tak ada yang berani menyapa Hanan sama sekali atau pun menegurnya. Mereka lebih memilih untuk tidak peduli sama sekali. Toh, itu urusan rumah tangganya, tidak ada yang berhak ikut campur. Kalau pun ada yang peduli, dipastikan karirnya tidak akan bertahan lama. Karena jika Hanan marah, maka semuanya akan hancur. Tak perlu berdiri menunggu lama, memilih kursi di mana. Seorang pelayan sudah lebih dulu menghampiri mereka, menanyakan apa yang mereka inginkan. Sementara tempat duduk sudah dipersiapkan sejak tadi. Tak heran, jika Sabna langsung dibuat kagum dengan pelayanan restoran ini. Bukan, bukan karena restoran ini, melainkan karena kegesitan Hanan dalam memberikan perintah. Sehingga saat mereka sampai, tempat duduk sudah dipersiapkan. “Silakan ikut saya, Pak, Mbak,” ujar pelayan, mempersilakan Sabna dan Hanan untuk mengikutinya menuju tempat duduk yang sebelumnya sudah dipesan oleh orang suruhan Hanan. Keduanya tak luput dari tatapan orang-orang, entah itu yang merasa iri karena Sabna bisa berjalan beriringan dengan CEO ternama, atau dengan ketampanan dan kekayaan yang Hanan miliki. Hanan menarik kursi, duduk. Menatap sekeliling, lalu berdeham. Menghiraukan tatapan mereka, toh, dia makan dan bayar di sini. Bukan mengemis atau mencari keributan. “Ish, kok, lo nggak tarik kursi buat gue, sih?” rajuk Sabna, memajukan bibirnya beberapa senti, kesal. Baru berbicara seperti itu, pelayan yang mengantar Hanan dan Sabna ke tempat makan, segera menarik kursi, mempersilakan Sabna untuk duduk. Membuat wanita itu hanya bisa mendengkus kesal, sedangkan sang pelayan tersenyum ramah dan berpamitan mengambil menu makan terlebih dahulu. Tak lama, pelayan itu kembali. “Silakan untuk menunya, Pak, Mbak,” ucapnya, menyodorkan dua buku menu andalan restoran itu dan mengeluarkan buku kecil serta pulpen dari dalam saku celemek hitam yang dipakai. Hanan mulai membuka buku menu, begitu juga dengan Sabna. Mata mereka melihat apa saja hidangan favorit di restoran ini. “Air putih satu, steak kentang satu.” Hanan mengembalikan buku menu itu dengan raut datar. “Kok, lo cuma pesan itu aja, sih?” protes Sabna, karena ucapan Hanan tak sesuai dengan apa yang dilakukan lelaki itu di restoran ini. Apa-apaan ini? Di kantor tadi mengajak makan siang, kenapa di restoran hanya memesan steak kentang saja? “Yaaa karena saya hanya ingin itu, tidak ingin yang lain.” “Tapi kan lo tadi—“ “Mau makan atau enggak? Buruan pesan!” ketus Hanan, memotong ucapan Sabna. Kemudian, melirik arloji yang melingkar di pergelengan tangan. Sabna menghela napas pelan, menatap buku menu lagi, sesekali menatap Hanan yang sudah sibuk dengan ponselnya. Kemudian, mendongak, menatap pada sang pelayan. “Samakan saja sama dia, Mbak,” ucapnya sembari menyodorkan buku menu dengan tatapan nanar. “Baik, Mbak. Silakan ditunggu, ya, pesanannya.” Pelayan itu pergi, meninggalkan Hanan dan Sabna yang masih bergelut dengan pemikiran mereka sendiri. Hanan terlihat jelas tengah fokus pada ponsel. Entah hal apa yang membuat laki-laki itu mengabaikan gadis secantik Sabna. Membuat gadis itu terus mendengkus kesal. Tak bisakah laki-laki itu mengajaknya mengobrol sebentar? Membahas masa lalu, misalnya? “Lo dateng kapan?” tanya Hanan dengan mata tetap fokus pada ponsel. Jari jemarinya bergerak lincah di atas papan keyboard. Tubuh Sabna duduk dengan tegak, akhirnya Hanan mengajakny bebicara. “Lusa. Gue kangen sama lo. Lo nggak kangen sama gue?” “Kangen. Tapi, sebagai sahabat.” Hanan menatap Sabna sekilas, lalu menatap ponsel, tersenyum. Memasukkan benda pipih itu kembali ke dalam saku jas. “Yaiya, emang, gue bakal geer? Enggak kali!” Sabna tertawa hambar, menertawakan nasibnya sendiri. Tidak kah Hanan tertarik dengan dirinya? Hanan hanya menanggapinya dengan senyum simpul, tak ada percakapan lagi setelah itu. Semuanya terasa begitu canggung, berbeda sekali saat masa SMP dulu. Selang beberapa menit, pelayan datang kembali membawa nampan berisi pesanan mereka. Meletakkan satu gelas air putih dan steak kentang bersama sausnya, masing-masing satu di meja Hanan dan Sabna. Mempersilakan mereka makan. Sekembalinya pelayan, Hanan langsung memakan apa yang dia pesan dengan lahap. Tanpa memedulikan Sabna, melirik pun tidak. Dia harus seger kembali ke kantor, menyelesaikan pekerjaan dan lekas ke rumah sakit. Hana sudah sadar, dia ingin bertemu dengan wanita itu. Setidaknya, meminta maaf atas kejadian semalam. Berebeda dengan Sabna, gadis itu tidak menyentuh makanan itu sama sekali, membiarkan angin berembus membawa aroma kentang dan membuat makanan dingin. Dia lebih fokus memperhatikan Hanan makan. Tanpa berniat memakan pesanan. “Lo kenapa nggak makan?” tanya Hanan, menatap Sabna dengan heran. Isi piring di depan gadis itu masih utuh, tidak tersentuh sama sekali. Sementara miliknya sudah setengah hampir habis. “Gue nggak nafsu makan.” “Ayok, makan. Saya masih banyak pekerjaan.” Hanan menarik tisu dari sebuah kotak yang ada di depannya, mengelap bibir setelah meminum air putih dan memanggil pelayan, meminta total makanan. “Semuanya dua ratus tiga puluh ribu, Pak.” Dia mengangguk, merogoh saku celana, mengeluarkan dompet dan memberikan uang pecahan merah dua lembar dan satu lembar uang pecahan biru. “Sebentar ya, Pak, saya ambil kembaliannya.” “Oh, tidak perlu, Mbak. Untuk Mbak saja,” cegah Hanan dan melirik pada Sabna. “Terima kasih, Pak,” ujar si pelayan kemudian berpamitan. “Saya harus pergi, masih banyak pekerjaan. Makanan sudah saya bayar. Kamu bisa, kan, pulang sendiri? Naik taksi online atau taksi di depan sana?” tutur Hanan, menunggu respons gadis tersebut. Sabna mengangguk pelan. Membiarkan Hanan pergi. Belum sampai Hanan ke ambang pintu, mendadak terdengar kericuhan. Dia menoleh ke belakang, mendapati orang-orang sudah berkerumun di tempatnya semula makan. “Sabna!” pekiknya, berlari ke meja di mana dia makan tadi, berharap tidak terjadi apa-apa pada gadis itu. Menerobos kerumunan, menghiraukan tatapan sengit dari orang-orang karena dia menerobos asal. Hanan membulatkan mata dengan sempurna tatkala melihat tubuh Sabna sudah terkulai lemas di lantai. “Sabna!” Hanan berjongkok, meraih tubuh gadis itu, menjadikan pahanya sebagai sandaran kepala Sabna. “Kenapa dia bisa pingsan seperti ini?” tanya Hanan, mendongak menatap semua orang yang mengelilingi gadis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN