“Lo banyak berubah, ya. Gue nggak nyangka, ternyata lo bisa sedingin ini sama gue.”
Hanan menghela napas panjang, memijit pangkal hidung. Terasa berdenyut sekali kepalanya, ditambah kehadiran tamu tak diundang ini.
“Kalau kamu datang hanya untuk protes, lebih baik nggak usah dateng ke sini!” ketus Hanan tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.
Sabna mendengki kesal, menatap lelaki itu dengan tatapan tajam. Jika bukan karena tujuan, dia tidak akan mau menginjakkan kaki di perusahaan ini.
“Lo lupa sama janji kita dulu? Kalau kita mau bersama terus walau masing-masing udah dewasa dan memiliki pasangan?” Nada bicara Sabna melemah kemudian bangkit, berdiri. “Kalau lo nggak suka sama kedatangan gue, ya udah, gue pamit.”
Baru berbalik badan, hendak melangkah satu kali, mendadak Sabna memijat pelipisnya. Kemudian, tubuhnya tersungkur ke depan dan menimbulkan suara gaduh. Membuat Hanan sontak mendongak, menoleh ke arahnya.
“Sabna!” pekik Hanan, panik, lekas berdiri dan menghampiri gadis itu. Membantunya berdiri. “Kamu kenapa?”
Sabna menggeleng. “Gue ... gue sebenarnya ngidap penyakit leukimia, Han. Gue datang ke sini, pengen ketemu lo, ngabisin sisa waktu sama sahabat gue.”
Hanan tersentak, hatinya terenyuh mendengar pernyataan dari sahabatnya itu. Merasa bersalah, karena tadi sempat mengusir Sabna walau tidak secara langsung.
“Ya udah, sini, duduk dulu!” ujar Hanan, membantu gadis itu berdiri dan duduk di sofa. Lantas memanggil office girl untuk membawakan segelas air putih lewat telepon.
Tak lama, suara ketukan pintu terdengar, Hanan mempersilakan sosok itu masuk. Sudah pasti yang datang office girl mengantarkan air putih yang dia pesan tadi. Segera dia membantu Sabna untuk minum.
“Pelan-pelan,” ucapnya sembari membantu gadis itu memegang gelas.
“Ahh ... sudah, Han. Thanks.” Sabna tersenyum, mengusap jejak air di sudut bibir dengan punggung tangan. Menatap Hanan yang sedang meletakkan air.
“Maaf kalau tadi kata-kata saya terlalu kasar.” Raut wajah Hanan tampak datar walau mengucapkan kalimat tersebut, tetapi bagi Sabna itu sebuah keajaiban. Setidaknya, lelaki itu tidak berbicara ketus lagi.
“Nggak papa, gue tau lo sibuk dan capek. Gue mau ngajak lo makan di luar, mau nggak?” Tatapan mata Sabna begitu menyiratkan harapan. Membuat Hanan tidak merasa tega untuk menolaknya. Apalagi, mengingat penyakit yang tengah menggerogoti tubuh gadis itu, pasti sangat menyiksa.
Hanan mengangguk. Membuat Sabna berhambur memeluknya dengan senyum yang begitu mengembang. Hendak menolak, tetapi ingat kembali penyakit Sabna. Lagi-lagi dia tidak tega.
“Y-ya sudah, ayok kita makan!” ujar Hanan, berusaha mengalihkan topik agar Sabna melepaskan pelukan. Benar, gadis itu langsung melerai pelukan dan mengangguk antusias.
Mereka ke luar secara beriringan, membuat beberapa staf kantor bertanya-tanya. Bahkan, tak sedikit yang berbisik-bisik. Siapa gadis menor itu? Kenapa bisa dekat dengan bos besar mereka? Dan, apa hubungan mereka? Jika Bu Hana tahu, apa tanggapan wanita itu?
Berbagai macam pertanyaan timbul dalam benak mereka. Siapa sangka, seorang Hanan yang dingin kepada perempuan bisa hangat kepada istrinya. Itu wajar, bukan? Namun, dengan gadis ini terlihat akrab sekali, begitu nikmat pembicaraan mereka sampai menghiraukan tatapan para karyawan.
Mereka asyik mengobrol, menghiraukan segala bisikan, tatapan, tuduhan yang mungkin, akan terdengar juga. Biarkan, orang lain memang biasanya hanya bisa menilai luar saja tanpa mau tahu dalamnya seperti apa.
Toh, yang penting Hanan tahu, apa yang dia lakukan tidak salah. Membantu sahabat masa kecilnya dulu untuk bahagia di sisa waktu hidupnya. Dia yakin, Hana juga akam mengerti dan tidak akan merasa keberatan.
“Terima kasih,” ujar Sabna setelah Hanan membukakan pintu untuknya, dia segera masuk ke dalam dan Hanan menutup pintu. Tampak lelaki itu mengitari mobil dan masuk, duduk di jok pengemudi tepat berada di sampingnya.
Deru mesin mulai terdengar, ke luar meninggalkan parkiran perusahaan. Membelah jalanan yang tak akan luput dari pengendara, begitu ramai.
Semilir angin masuk melalui jendela, menerbangkan rambut pirang gadis itu yang sengaja tergerai. Sebagian menutupi wajah, membuat penglihatannya sedikit terganggu.
“Naikkan sedikit kaca jendelanya, supaya angin yang masuk tidak terlalu banyak,” ujar Hanan dengan nada lembut, menatap sekilas pada sahabatnya itu dan kembali fokus mengemudi.
Sabna tersenyum manis sekali, lalu mengangguk pelan, menekan tombol yang dekat dengan tempat duduknya, tepat di bagian pintu mobil. Tampak kaca jendela mulai naik. Dia kembali fokus menikmati jalanan.
Tak bisa dipungkiri, sejak dulu sampai sekarang Hanan selalu tampan. Bahkan, dengan semua fasilitas yang laki-laki itu miliki, membuat para kaum hawa pasti tergila-gila. Sudah tampan, mapan, CEO pula. Siapa, sih, yang berani menolak pesona seorang Hanan?
Mungkin hal itu juga yang tengah dirasakan Sabna. Gadis itu tak henti-hentinya menatap Hanan dengan lekat, sesekali mencuri pandang. Namun, tak sedikit pun lelaki itu melirik ke arahnya, hanya terus fokus mengemudi tanpa ada sepatah kata pun yang terucap.
Tak apa, setidaknya dia bisa satu mobil dengan Hanan. Bisa berduaan lagi, seperti saat masa SMP dulu. Di mana semuanya berawal, menjalin hubungan dekat dan tumbuh benih-benih dalam d**a. Walau Hanan termasuk nakal, tetapi tetap saja, banyak pada kaum hawa yang menyukai lelaki itu. Termasuk Sabna.
Akan tetapi, dulu dia sadar. Bersahabat dengan Hanan saja sudah merasa paling beruntung. Karena hampir semua gadis ditolak oleh lelaki itu. Tidak dengannya, menjalin persahabatan yang begitu dekat.
“Eh, iya. Betewe, lo jalan sama gue nggak ada yang marah?” tanya Sabna, berusaha mencari topik agar bisa mengobrol dengan Hanan. Kapan lagi bisa satu mobil berdua dengan lelaki tampan itu?
Hanan menggeleng. “Nggak ada.”
Jawaban Hanan benar, bukan? Hana tidak pernah marah. Dia yakin, kali ini istirnya itu juga pasti akan mengerti jika tahu kondisi Sabna seperti apa. Hana adalah gadis yang sangat lembut, tidak pernah sekali pun dia mendapati Hana marah atau mengeluh.
Senyum Sabna semakin merekah. Kemudian, kembali menatap lurus ke depan. Jawaban singkat tadi cukup, bahkan sangat memuaskan. Itu artinya, dia masih punya kesempatan untuk bisa lebih dari sekadar teman.
“Kita mau makan ke mana?”
Hanan bergeming, tak berniat untuk menjawab pertanyaan dari gadis itu. Membuat Sabna menelan ludah dengan kasar, merasa diabaikan.
“Lihat saja nanti,” jawab Hanan, singkat. Merasakan perubahan Sabna yang tak biasa. Dia tidak ingin membuat gadis itu merasa sedih atau penyakitnya akan semakin parah.
Sabna menoleh. “Oke. Suprise, ya.”
Hening kembali, hanya terdengar helaan napas panjang.
Hanya membutuhkan waktu setengah jam, mereka sudah sampai di restoran. Mobil berhenti diparkiran, gedung-gedung tinggi pencakar langit tampak jelas mengelilingi restoran.
“Ayok, keluar.” Hanan keluar dari mobil, langsung diangguki Sabna. Gadis itu juga ke luar.
Matanya berbinar, mengagumi tempat yang ada di depan mata. Bangunan yang sungguh megah dan mewah. Gadis itu menoleh ke arah Hanan, tampak lelaki itu mengangguk. Dia segera merangkul tangan lelaki itu, bergelayut manja.
“Sab ....” Hanan menoleh ke sana kemari, berharap tak ada orang yang melihat.
“Kenapa? Tadi kata lo nggak akan ada yang marah?” Sabna mendongak, menatap lelaki yang lebih tinggi darinya itu dengan tatapan penuh tanya.
“I-iya, sih ... tapi malu, di depan umum, Sab.” Hanan berusaha melepaskan pegangan gadis itu, membuat Sabna merajuk kesal.