“Sesibuk apa, sih, lo, sampe nggak bisa temuin gue, Hanan?” ujar seseorang dari belakang, Hanan bersama Staf wanita itu menoleh, menatap sosok yang baru saja datang menghampiri mereka.
Kening Hanan mengerut, mengingat siapa orang yang tengah menghampirinya itu. Wanita dengan rambut pirang, memakai dresss katun selutut, tinggi, putih, make up begitu berlebihan, siapa? Hanan tidak ingat wanita itu siapa.
“Hai, Hanan. Lo nggak ingat gue atau pura-pura lupa?”
Halis Hanan terangkat sebelah, menatap wanita itu dengan intens. Cantik, tetapi make up terlalu menor. Dia tidak suka. Kemudian, memalingkan wajah, melirik staf wanita yang berdiri sedikit di belangkanya.
“Bawa dia ke ruang tamu, saya mau ada meeting,” ujar Hanan, tegas, berniat pergi, tetapi tangannya langsung ditarik wanita itu. Membuat dia berbalik badan dan memelotot tajam. “Lepas!”
“Ups, sorry. Lo ... bener-bener nggak inget sama gue? Gadis manis yang sering lo kasih cokelat keju? Di taman, balon, dan ....” Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. “Rumah,” ucapnya, memperlihatkan gantungan kunci berbentuk rumah beratap merah.
Hanan bergeming, menatap gadis di depannya dengan lekat. Kemudian, mengangguk pelan. “Saya ingat. Bukan saya yang melupakan kamu, tetapi penampilan kamu yang sangat berubah.”
Wajah gadis itu tampak terkejut. Saya? Kamu? Ada apa denga Hanan, kenapa banyak perubahan yang tak terduga? Ke mana Hanan yang dulu? Tumben sekali lelaki itu tidak memeluknya, padahal sudah lama tidak bertemu.
“Oh, oke. Penampilan gue emang ... berubah,” ujarnya memaksakan senyuman.
“Saya ada meeting, kamu tunggu di ruangan saya dulu, Sab.”
Wanita bernama Sabna itu mengangguk paham, membiarkan Hanan pergi kali ini. Seiring menormalkan keterkejutannya, dia menghela napas pelan. Kemudian, mengikuti langkah staf yang akan membawanya ke ruangan Hanan. Sahabat masa kecilnya dulu saat masih di bangku Sekolah Menengah Pertama.
Sembilan tahun silam ....
Dua anak berbeda jenis kelamin itu tampak senang dengan ice cream yang ada di tangan mereka. Pada jam istirahat seperti ini, memang sangat nikmat menikmati makanan atau minuman dingin. Cuaca yang cerah, membuat tenggorokan terasa kering, ditambah dengan beban pelajaran yang sudah memenuhi otak mereka.
Sabna yang ceria, cantik dan tinggi, seolah enggan mengalah untuk membagi ice creamnya dengan Hanan. Anak lelaki yang sedikit lebih pendek darinya beberapa senti. Mereka kerap kali terlihat bersama, sering menghabiskan waktu berdua di jam istirahat atau setelah pulang sekolah.
“Sabna, bagi, ih! Pelit banget, sih!” gerutu Hanan yang masih berusia enam belas tahun saat itu, menatap Sabna yang menjulurkan lidah dan berdiri di atas kursi pembeli, sedangkan dirinya mendongak berada di bawah tanpa alas apa-apa.
“Enak aja, ini punyaku! Kamu sudah beli tadi, kenapa dihabiskan?”
“Belum kenyang, Sabna! Minta!” Hanan berusaha merebut ice cream yang ada di tangan sahabat perempuannya itu, dia tidak akan memakan semuanya, hanya satu kali menjilat.
Akan tetapi, sepertinya Sabna sudah mengetahui niatnya itu. Jika dirinya akan mengerjai Sabna dengan membawa ice cream itu dan menghabiskannya. Seperti itulah kebiasaannya, suka mengganggu Sabna.
Bukan karena tak mampu membeli, tetapi entah kenapa dia sangat suka jika melihat Sabna merajuk. Alhasil, membuat ulah untuk sahabatnya itu seperti sudah menjadi candu dalam kesehariannya.
“Bohong! Satu kali jilat, nanti dibawa kabur,” kata Sabna tetap mempertahankan ice creamnya.
Mereka memang sering bersama, tetapi juga sering bergaduh. Seperti itulah persahabatan, sering bertengkar, tetapi membuat persahabatan semakin kokoh.
“Enggak, kok, suer. Janji. Nggak akan dibawa kabur,” ujar Hanan, mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya, membuat huruf ‘V’ agar Sabna percaya pada ucapannya.
Letak kedai ice cream yang lumayan jauh dari sekolah, membuat mereka lebih leluasa jajan. Bukan karena tak ingin bergaul, tetapi jajan di luar area sekolah itu jauh lebih menyenangkan. Namun, teman-teman yang lain lebih memilih kantin karena alasan malas jalan.
Sabna bergeming, menatap Hanan dengan lekat. Sepertinya sahabat lelakinya itu tengah berbicara serius. Namun, sedikit ragu, karena Hanan sudah sering berbuat ulah. Entah sihir apa yang membuatnya tetap betah bersahabat dengan Hanan.
“Beneran,” ulang Hanan, kali ini menampilkan senyum termanisnya.
Sebenarnya, Hanan memiliki teman lelaki yang lain. Namun, baginya mereka hanya memanfaatkannya saja. Datang kala butuh dan pergi saat sudah tak ada keperluan lagi. Memanfaatkan identitasnya yang sebagai anak orang kaya dan kepintaran yang dia miliki.
Dia tidak suka berteman dengan orang seperti itu. Lebih baik tidak memiliki teman, dari pada dimanfaatkan. Namun, dengan Sabna dia merasa nyaman. Gadis itu selalu bersikap baik walau dia sering berbuat ulah. Tak pernah memanfaatkan dia, walau Sabna hanya putri dari pekerja kantoran biasa.
Akhirnya, dengan berat hati Sabna turun. Namun, belum sepenuhnya kaki Sabna menginjak tanah, Hanan sudah menggoyangkan kursi yang gadis itu pijak, membuat tubuh kehilangan keseimbangan.
“Hanan, Hanan! Jangan gitu, nanti jatuh!” teriak Sabna, meminta agar sahabat lekakinya itu berhenti menggoyangkan kursi.
Tak menanggapi ucapan Sabna, Hanan malah semakin terus gencar menggoyangkan kursi sampai ice cream yang dipegang Sabna hilang kendali dan tumpah ke atas meja.
Kedua pemuda itu menoleh, menatap meja yang sudah dilumuri ice cream cokelat bercampur vanila. Kemudian, keduanya saling menatap, mengangguk.
“Kaboorrrrr!!!” teriak Hanan dan langsung lari kocar-kacir.
Lantas, Sabna langsung mendarat dengan kekuatan super ke tanah, menoleh ke belakang, tampak ibu penjaga warung sudah membawa sapu sambil berteriak. Gegas, dengan kecepatan kilat, dia berlari lunggang lenggang menyusul Hanan.
“Heh! Berhenti kalian! Sudah menumpahkan ice cream di atas meja, main kabur aja! Dasar tidak tau sopan santun! Heuh, anak-anak zaman sekarang bukannya minta maaf dan bersihin, malah kabur gitu aja!” gerutu penjaga warung dengan kesal, menatap kepergian dua anak itu dan menatap meja yang sudah kotor.
Mengingat itu semua, membuat Sabna terkekeh pelan. Pengalaman seru di masa lalu yang tak akan pernah dia lupakan. Hanan tipikal anak nakal dulu, tetapi pintar dan menjadi langganan juara kelas. Kok, bisa? Yaa bisa, karena Hanan rajin belajar. Nakal yang masih dalam batasan wajar.
Menyadari Hanan tak juga kembali, dia menatap arloji yang melekat pada pergelangan tangan. Sudah satu jam menunggu rupanya, lama sekali.
Dia mengedarkan pandangan, menatap seluruh isi ruangan. Rapi, bersih, elegan dan barang-barang branded terpanjang. Tentunya. Itu tak asing lagi, wajar. Mengingat Hanan seorang putra tinggal. Generasi ketiga penerus perusahaan Angkasa.
“Hmmm ... Hanan. Masih sama seperti dulu rupanya, suka hal-hal yang sederhana. Bedanya, sekarang hal sederhana itu sangat berharga.” Sabna menatap miniatur rumah mini yang terletak di meja kerja Hanan. Bentuknya kecil, terlihat sederhana, tetapi dia tahu, harganya tidaklah murah.
Terdengar bunyi pintu dibuka, Sabna menoleh. Tampak lelaki berpakaian formal menyembul di balik pintu, membuat bibirnya tertarik ke samping.
“Sudah selesai, meeting-nya?” tanyanya, berdiri, menghampiri Hanan yang sudah duduk di kursi kebesaran.
Tanpa merasa malu, Sabna langsung mengulurkan tangan dan merangkul kedua bahu Hanan, memijitnya pelan. Menatap lelaki itu dengan raut penuh makna, senyumnya seketika terbit menghiasi wajah.
“Apaan, sih! Lepas,” ucap Hanan, merasa risih disentuh oleh Sabna dan mengempaskan kedua tangan gadis itu begitu saja. Membuat Sabna merajuk dan duduk di kursi tepat di depan Hanan.