Sendu

1123 Kata
Kedua lelaki itu sontak menoleh ke tengah-tengah mereka, sedangkan Maya malah tersenyum menatap keduanya secara bergantian. Merasa tidak ada masalah sama sekali, jika duduk di antara dua lelaki yang amat berarti di dalam hidupnya. “Ibu, dateng-dateng langsung nyelonong duduk di tengah aja,” kata Arya, menatap sang istri dengan tatapan datar. “Yaa, emang kenapa? Nggak boleh duduk di tengah-tengah suami sama putra sendiri?” tanya Maya, mengangkat bahu dengan raut tak berdosa. Arya hanya bisa menghela napas pelan, tak mungkin jika dia meladeni pembicaraan istrinya itu. Tidak akan pernah menang kalau sudah berbicara dengan wanita, apalagi itu istrinya. “Ya sudahlah, abaikan Ibu, Han. Lanjutkan cerita,” ujarnya pada sang putra, menatap lelaki itu dengan intens, Maya juga ikut melakukan hal serupa, wajah mereka tampak serius menatap Hanan. Hanan menarik napas panjang, mengembuskannya secara perlahan. “Jadi, tadi pas di restoran aku tinggalin Hana sendiri, ke toilet, niatnya. Tapi, mendadak aku kambuh, jadi agak lama. Pas kembali, keadaan Hana sudah urak-urakan. Diteriaki, dijambak, disiram, jilbabnya basah, matanya juga memerah. “Jelas, aku nggak terima sebagai suami Hana. Dia bukan hanya dicelakai fisik, tetapi juga difitnah sebagai pelakor. Bahkan, laki-laki yang fitnah itu juga ambil ponselku. Pria itu sering main perempuan, diselidiki sama istrinya. Keliatan lagi bisikin Hana, godain. “Istrinya itu langsung main hakim sendiri, menuduh tanpa bukti. Aku jelas marah, teriak-teriak di restoran itu. Restoran di mana sahamku ada, aku nggak terima Hana diperlakukan seperti itu, Pah, Bu. Akhirnya, Hana ambruk, dan divonis maag tingkat akut, udah kronis. Ternyata sejak sore dia belum makan nasi dan tadi, hidangan sudah datang dan tersaji di atas meja sebenarnya. “Mungkin karena dia nunggu aku dulu, ditambah stress karena fitnah itu, jadi kambuh dan ... pingsan di tempat.” Hanan menunduk dalam saat mengatakan kalimat terakhir, wajahnya sesekali terlihat sedih, marah, dendam. Selaku orang tua, Maya dan Arya paham apa yang dirasakan oleh Hanan. Siapa, sih, yang terima jika pasangan diperlakukan seperti itu di depan umum? Kalau ada pun, rasanya hanya seperempat di dunia ini. Suasana mendadak menjadi sendu, ketiganya sibuk dengan pikiran masing-masing. Mereka tinggal menunggu Hana sadar. Dokter bilang, Hana sudah siuman beberapa saat. Namun, karena efek obat suntikan, tidur kembali. “Kamu yang sabar, jangan emosi. Itu hanya salah paham. Papah tau, kamu tidak terima. Papah juga kalau ibu kamu diperlakukan seperti itu, pasti akan melakukan hal yang sama. Tapi, Hanan, ingat, kamu tidak boleh gegabah. Jangan terlalu diambil pusing, biarkan asistenmu yang mengurus semuanya.” Arya menepuk pundak sang putra setelah berdiri, lalu melangkah keluar gedung, mencari sebotol air mineral mungkin bisa mendinginkan otak. Sementara Maya, lebih memilih masuk ke dalam. Menemani Hana yang masih terbaring lemah. Mereka sengaja tidak menghubungi ayah Hana, karena tidak ingin membuat sang besan merasa khawatir. Hanan mengusap wajah dengan kasar, ingatannya kembali pada empat bulan silam. Sesak sekali rasanya jika raga sudah memiliki dunia lain, tetapi jiwa masih terkurung dalam masa lalu. Berdosa sekali kah dia? *** Embun telah menyapa, sang mentari juga sudah tersenyum menyinari bumi. Pun, gadis yang terbaring di ranjang rumah sakit rupanya sudah siuman sejak subuh tadi. Dia mengunyah makanan dengan pelan, menatap sosok yang tengah menyuapinya. Sesekali tersenyum lemah dengan kepala bersandar pada bantal. Ranjang bagian punggung sampai kepala sengaja ditinggikan agar dia bisa makan dengan nyaman. “Lagi?” Hana menggeleng. “Sudah, Bu. Alhamdulillah sudah kenyang.” Maya tersenyum, lekas meletakkan mangkuk bubur itu dan menukarnya dengan segelas air putih, membantu Hana untuk sedikit tegak dan minum. Dia merasa beruntung, mempunyai menantu yang sangat baik seperti Hana. Jika bukan karena gadis itu, mungkin Hanan masih bersikap arogan. Tidak akan bisa bersikap dengan kepala dingin saat menghadapi masalah. Lihatlah, kejadian semalam di restoran, Hanan hanya teriak-teriak saja. Sebelumnya, jika ada yang melukai orang yang dia sayang, pasti sudah babak belur dan berakhir di rumah sakit. Hana celingukan, mencari seseorang. Namun, tak terlihat batang hidungnya sama sekali. Apa laki-laki itu semalam juga tidak ada di sini? Jika iya, tega sekali. “Hanan sudah berangkat ke kantor. Dia semalam di sini menemani kamu. Ibu sama Papah pulang, kami bergantian jagain kamu saat sebelum subuh tadi.” Maya seolah tahu apa yang menantunya pikirkan, menjawab sebelum ditanya. Hana tersenyum malu, tertangkap basah karena telah mencari Hanan. “Ibu kok tau, kalau aku cari Mas Hanan?” “Memangnya, siapa lagi yang akan kamu cari selain suamimu? Masa Papah atau Ayah, hum?” Maya tersenyum simpul, menggoda sang menantu yang sudah menunduk malu. Di sisi lain, Hanan tengah buru-buru menyiapkan berkas untuk meeting pagi ini. Berkas itu sebenarnya sudah ada sejak kemarin, tetapi karena Alex-sekertarinya mendadak sakit, dia harus mencarinya dan terjadilah aksi ricuh di ruangan. “Huh, sepuluh menit lagi harus sampai di tempat meeting. Berkas-berkas malah berhamburan!” gerutu Hanan, sesaat menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Beginilah jika begadang semalaman, membuatnya bangun kesiangan dan serba terlambat. Sudah kesiangan, Alex tidak ada, dia pula yang kerepotan. Jangan tanya di mana staf yang lain, mereka sudah Hanan suruh berangkat ke ruangan. Karena dia pikir, berkas sudah ada di atas meja. Namun, nyatanya harus dia cari ke ruangan Alex dan berhamburan tatkala meutup pintu setelah masuk ke ruangannya sendiri. Terdengar ketukan pintu, membuat Hanan semakin emosi dibuatnya. Siapa, sih, yang datang saat dia repot begini? Masih pagi, sudah buat orang emosi. “Masuk!” teriaknya tanpa menatap pintu, fokusnya masih pada berkah yang tengah disusun rapi. “Maaf, Pak. Ada yang ingin bertemu dengan Bapak,” ujar seorang wanita berpakaian formal yang baru saja menyembul di balik pintu. Hanan mendongak, “Suruh tunggu di ruang tamu. Setelah saya meeting, saya akan temui dia,” ujarnya kemudian kembali merapikan berkas, selesai, dan mengambil ponselnya. “Maaf, Pak. Tapi, orang itu ingin bertemu dengan Bapak sekarang,” ujar staf wanita itu dengan ragu, sedikit merendahkan nada bicaranya, takut jika bos besarnya itu akan marah. Bibir Hanan terkatup rapat, giginya saling beradu. “Kalau saya bilang tidak bisa sekarang, ya, tidak bisa! Sampaikan sama dia, kalau mau bertemu saya, harus atur jadwal dulu!” Staf wanita itu ketakutan, menunduk, mengangguk. Kemudian, berpamitan dan ke luar. Meninggalkan Hanan yang menggerutu pelan. Pagi ini moodnya sudah buruk hanya karena orang-orang kantor, menyebalkan sekali! Tak ingin mengulur waktu lagi, Hanan bergegas ke ruang meeting. Client pasti sudah menunggunya dari tadi. Baru kali ini, seorang Hanan datang terlambat hanya gara-gara hal sepele. Ditambah kedatangan staf itu, mengganggunya yang tengah mempersiapkan dokumen saja. Akan tetapi, seolah tak ingin membuat Hanan segera sampai ke ruangan, staf itu menghadang Hanan. Membuat dia mengerinyit heran dengan sorot mata tajam bak elang. “Maaf, Pak. Orang Itu tidak ingin pergi dan memaksa Bapak untuk segera menemuinya saat ini juga.” Hanan mendengkus kesal. “Bilang sama dia, saya sibuk! Kalau tidak mau menunggu, silakan pergi atau usir dia! Paham? SAYA SI-BUK!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN