Hana Pingsan!

1105 Kata
Merasa jabatannya disebut, manager segera berlari kecil menghampiri Hanan. “Iya, Pak?” “Saya cabut ucapan tadi. Karena Hana yang memintanya. Tapi, amankan wanita dan laki-laki itu sampai pengacara saya datang.” “Baik, Pak. Terima kasih.” Manager menghela napas lega, tersenyum, menatap kepergian Hanan bersama ambulance. Mobil sport putih yang Hanan kendarai, dititipkan pada manager juga. Bunyi sirine memekakkan telinga, mengiringi roda yang menyusuri jalanan. Membawa gadis yang sudah tak sadarkan diri, ditemani sang suami yang terus melangitkan doa pada Sang Kuasa. Begitu terasa lama perjalanan saat hati tengah dalam keadaan gelisah. Namun, tak ada yang dapat dilakukan selain berdoa, meminta yang terbaik pada Tuhan. Bukankah tidak ada yang mustahil jika Tuhan sudah berkehendak? Sepanjang jalan, Hanan tak henti-hentinya mengecup tangan sang istri. Melangitkan doa pada Sang Illahi. Sesekali mengucapkan kalimat yang sama, meminta Hana untuk membuka mata walau hanya sebentar. Akhirnya, penantian pun telah usai. Mobil berhenti tepat di depan rumah sakit. Suara sirine pun sudah berhenti membuat orang tegang, berganti dengan gesekan brankar beradu dengan lantai. Hanan menatap wajah pucat pasi sang istri, mendorong brankar sekuat tenaga, membantu para tenaga kesehatan untuk membawa Hana ke ruang pemeriksaan. “Maaf, Pak. Bapak silakan tunggu di sini. Atau, mengurus identitas pasien,” pinta suster, menghentikan langkah Hanan sampai di ambang pintu. Hanan mengangguk, mengatur napas agar kembali normal, segera melangkah ke bagian lobi. Memberikan informasi identitas Hana. Sekaligus, memesan ruangan VIP. Tentu saja, tujuannya agar tidak ada yang mengganggu waktu istirahat Hana. Setelah semuanya selesai, Hanan kembali ke ruang pemeriksaan. Menunggu di kursi panjang, duduk termenung seorang diri. Dia menjambak rambutnya frustrasi. Salahnya juga, kenapa meninggalkan Hana selama tadi. Apa yang dia pikirkan di toilet? Kenapa semua insiden itu malah hadir dalam memorinya di saat dia tengah berusaha menerima takdir bersama Hana? Mengapa seolah lewat memori itu, membuatnya harus semakin mengingatnya dengan melihat Hana terluka? “Arrghh! Sampai kapan terus seperti ini?” keluhnya pada diri sendiri, tak terasa air sudah mengembun di sudut mata. Dia lelah. Tak bisakah takdir membiarkanya damai? Dia ingin hidup normal, hidup bersama Hana. Itu saja. Tidak lebih. Hanan menutup wajahnya dengan kedua tangan, merasa ingin menyerah. Kepalanya mendadak sakit, dadanya terasa sesak. Tidak, dia tidak boleh kambuh saat ini. Dia mendongak, menarik napas panjang. Mengembuskan secara perlahan. Dia harus bisa mulai mengendalikan diri, mengikis emosi agar tidak ketergantuan terus menerus dengan pil dari psikiater. Dia lelah harus terus nenerus menelan pil pahit itu. “Dengan keluarga pasien?” Hanan terkesiap, berdiri. “Saya suaminya, Dok.” “Pasien tidak mengalami gejala yang serius. Hanya saja, maag yang sudah kronis, membuatnya kehilangan tenaga, tensi darahnya rendah. Juga akibat shock, membuatnya stress dan semakin memperparah keadaannya.” “Maag yang sudah kronis?” Hanan membeo ucapan sang dokter. Dia baru tahu, jika Hana mempunyai riwayat penyakit maag yang sudah separah itu. “Sepertinya istri Bapak telat makan, stress juga bisa menjadi pemicu. Untuk ke depannya, pastikan selalu teratur makan, tidak stress, tidak kelelahan.” “Baik, Dok. Terima kasih,” ucap Hanan, mengangguk paham. Kemudian, mempersilakan dokter untuk kembali ke ruangan. Hana telat makan? Apa sore tadi dia tidak makan? Stress? Pasti karena kejadian di restoran tadi, membuat Hana shock seperti itu. Lantas, apa yang sekarang harus Hanan lakukan? Membeli makanan atau menunggu Hana dipindahkan ke ruang rawat? Malam semakin larut, sedangkan perutnya juga terasa lapar. Niat makan, malah terjadi kekacauan. “Hanan! Apa yang terjadi, Nak? Kenapa Hana bisa sampai masuk rumah sakit? Katakan, kenapa, Hanan?” cecar Maya yang baru saja sampai. Dia dan Arya yang tengah tertidur pulas, dikagetkan dengan berita tak terduga. Hanan menghubungi mereka lewat telepon rumah. Bi Jualeha yang menyampaikanya. Tak menunggu lagi, mereka langsung melesat ke rumah sakit setelag berganti pakaian. “Begitulah, Bu. Ada ke salah pahaman.” “Salah paham gimana?” Arya yang bersuara, tampak jelas raut khawatir di wajah kedua orang tua Hanan. “Nanti aku ceritakan kalau Hana sudah dipindahkan ke ruang rawat. Aku mau ke luar dulu, beli makanan. Kasian Hana, belum makan sejak sore.” “Hah? Kok, bisa? Kami tidak tau jika Hana belum makan selama itu,” kata Maya, langsung diangguki Arya. “Aku juga tidak tau, Bu. Tapi, tadi kata dokter Hana telat makan dan membuat penyakit maag yang dia punya kambuh. Dan, sudah kronis.” “Yaa Allah, Hana ....” Mata Maya berkaca-kaca, membayangkan bagaimana ada di posisi Hana. Mempunyai riwayat maag kronis bukanlah hal yang sepele. Makan pedas sedikit saja, langsung kambuh. Telat makan, kambuh. Stress sedikit, kambuh. Semuanya harus benar-benar terjaga. Tidak bisa sembarang makan apalagi menanggung beban pikiran. “Aku pergi dulu. Papah mau makan atau nitip kopi?” “Satu saja, Han.” Arya tersenyum, menepuk pindah sang putra tunggalnya. Berniat menyalurkan kekuatan. Hanan ikut tersenyum. Baru kali ini, dia kembali merasakan takut kehilangan setelah hatinya seperti mati rasa. Gegas, Hanan melangkah ke luar. Mencari pedagang makanan di malam hari seperti ini. Sementara Maya dan Arya, duduk di kursi panjang. Menunggu brankar Hana lewat dan dipindahkan ke ruang rawat. Dengan Maya bersandar pada bahu sang suami, mengusap wajah pelan. Rasa cemasnya tak bisa disembunyikan. *** Pukul sepuluh malam, Hana sudah dipindahkan ke ruang rawat. Namun, gadis cantik itu belum juga siuman. Diperkirakan akan sadar besok pagi karena efek obat yang disuntikkan. Hanan dan kedua orang tuanya hanya bisa pasrah. Menemani Hana di ruang rawat. Maya sudah tertidur di sofa panjang, tepat di sudut ruangan. Sementara Arya, masih terjaga sambil mengonfirmasi beberapa dokumen lewat email di ponselnya. Hanan, lelaki itu terlihat sayu. Duduk di samping Hana, menggenggam tangan wanita itu dengan tatapan yang sayu. Tatapan elangnya berubah menjadi sendu, menunduk dalam. Membiarkan makanan yang dia beli menjadi dingin. Nafsu makannya sudah hilang. Berganti dengan kesedihan. Dia tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya. “Sebenarnya apa yang terjadi, Han?” tanya Arya, menghampiri sang putra, menepuk pundak Hanan dengan pelan. Hanan mendongak, berdiri. Meninggalkan ruangan dan memilih duduk di kursi luar, tepat di depan ruang rawat. Disusul Arya, dua pria itu duduk saling berdampingan. “Papah tau, kamu pasti teringat insiden masa lalu, kan?” Hanan menoleh. Mengenal napas panjang. Mengangguk. Kedua orang tuanya memang selalu tahu apa yang tengah dia alami. “Han ... ceritakan. Siapa tau, papah bisa bantu. Kenapa Hana bisa sampai masuk rumah sakit?” “Tadi ada salah paham di restoran, Pah. Hana ditampar, dijambak, dituduh. Jelas, aku tidak terima.” Raut wajah Arya seketika berubah, lelaki itu merubah posisi duduknya menjadi tegak. Menatap Hanan dengan intens. Menunggu ucapan selanjutnya, merasa penasaran. Tampak Hanan menghela napas beberapa kali, bersiap melanjutkan ucapan. Namun, Maya terlebih dahulu memotong. Ikut duduk di tengah-tengah antara Hanan dan Arya. Dua laki-laki yang sangat berarti di hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN