Hanan menoleh, langsung menarik kerah si manager. Menatapnya tajam. Menariknya dengan kuat, sekuat tenaga. Melampiaskan seluruh amarahnya.
“Ma-maafkan kami, Pak. Ka-kami tidak tau soal ini.”
“HAH! Jangan harap restoran ini besok akan buka lagi!” Hanan melepaskan kerah si manager, mengatur napas yang sudah memburu. Ingin sekali rasanya dia memakan semua orang yang ada di sini, melampiaskan kekesalan.
“M-mas ....” Hana yang sejak tadi menahan nyeri, berusaha memanggil sang suami agar segera menolongnya.
Hanan menoleh, dengan sigap dia menangkap tubuh Hana yang hampir terjatuh. “CEPAT PANGGIL AMBULAN! SIAPKAN KURSI!” teriaknya, pada semua orang.
Manager langsung menoleh ke belakang, meminta dua karyawanmya untuk segera melakukan apa yang Hanan minta. Jika tidak, selesai sudah pekerjaan dan bisnisnya.
Hana menatap sang suami dengan sendu. Pandangannya masih terasa perih, sesekali mengerjap, merasakan denyutan di kepala. Nikmat sekali nyerinya. Juga dengan jilbab yang sudah basah dan tamparan yang masih terasa panas di pipi, dia memeluk Hanan dengan erat.
“Han, apa yang sakit? Sabar, ya, ambulance sebentar lagi datang.” Hanan tampak khawatir sekali, berusaha menenangkan Hana. Padahal, ucapannya itu lebih cocok untuk menenangkan dirinya yang jelas terlihat gelisah.
Hana menggeleng. “A-aku takut, Mas ...,” lirihrnya, memejamkan mata, menenggelamkan wajah di d**a bidang sang suami. Terasa aman dan damai.
Kini, semua orang mempercayainya. Ada rasa takut yang menyelinap ke dalam hati. Sebab mereka tahu, ucapan Hanan tidak pernah main-main. Pewaris ketiga pemilik perusahaan terbesar se Benua Asia itu benar-benar selalu menepati ucapan tanpa ampun.
Hanan membalas pelukan istrinya, menatap semua orang dengan kesal. Berani sekali mereka memperlakukan Hana seperti itu. Lihat saja, wajah-wajah mereka akan selalu dia ingat.
Tak menunggu lama, seorang karyawan sudah menarik kursi dam membawanya ke arah Hanan. Membantu Hana duduk. Gadis itu tempak ketakutan, terus bersandar pada perut Hanan, memeluk suaminya itu dengan erat.
“Sudah, kamu tenang, Han. Saya ada di sini,” ujar Hanan dengan suara terdengar sangat lembut sekali, mengusap kepala Hana dengan pelan.
Hana mengangguk, dia percaya Hanan akan menjaganya. Tubuhnya terasa lemas sekali, seakan semua energi sudah terkuras habis. Terlebih, dia belum memakan nasi sejak sore.
“Dengar kalian semua!” teriak Hanan, menatap semua orang dengan mata elangnya. “Kalian semua, tidak akan saya lepaskan. Terutama kalian berdua!” tunjuknya pada sepasang suami istri yang membuat Hana menderita.
“Dan, kau, kalian semua karyawan restoran ini, siap-siap akan saya tuntut!” peringatnya, menunjuk sang manage kemudian semua karyawan yang sudah menunduk ketakutan.
“Jangan begitulah Pak Hanan, kita kan sudah menjadi teman bisnis baik. Tadi hanya ada ke salah pahaman kecil saja, kita bicarakan baik-baik, ya.” Manager berusaha membujuk Hanan, berharap pria itu akan mengubah keputusannya.
“Apa? Anda pikir, nyawa istri saya mainan? Kalau istri saya sampai ada keluhan berkepanjangan, nyawa kalian yang menjadi bayarannya! Saya tidak terima kalian memperlakukan istri saya seperti itu! Apa, hah?” tantang Hanan, melihat pria b******k tadi mengangkat kepala.
“Maafkan kami, Pak. Saya pikir, dia gadis dan tidak tau jika dia istri Bapak.”
“Terus, kalau dia bukan istri saya, kamu akan melakukan hal yang sama pada wanita lain, begitu? Sudah mengambil barang orang, mengganggunya, melibatkan nyawa pula. b******k memang!” hardik Hanan, menunjuk pada Hana yang masih bersandar pada perutnya dan amarahnya semakin memuncak.
“Maafkan saya, Pak. Sa-saya pikir, suami saya benar-benar ada main di belakang. Karena saat saya ke sini menyusulnya, dia sedang mendekati dia,” cicit wanita itu, melirik sekilas pada Hana.
“Namanya Hana, HA-NA. Istri Muhammad Hanan! Kalau kalian berususan dan menyakiti Hana atau keluarga saya yang lain, bersiap saja, hidup kalian tidak akan tenang. Ingat! Tamparan tadi, hinaan, caci, maki, jambakan, dan ....” Hanan meminta air pada karyawan menggunakan isyarat tangan, menunjuk ke arah gelas di atas meja salah satu pelanggan, gelas yang berisi jus merah. Entah jus apa itu.
Karyawan itu mengangguk, mengambil gelas tersebut dan memberikannya pada Hanan. Pelanggan yang gelasnya diambil pun, tidak bisa berkutik.
“Kemari kau!” ujarnya pada wanita berdress ungu tua itu dan langsung melempar seluruh isi gelas ke arah si wanita. Basah sudah dengan jus strowberry.
“Ahhh, Pak!” Wanita itu hendak proest, dress mahal dan rambutnya sudah basah, lengket pula. Belum make up yang menjadi berantakan.
“Apa? Itu belum seberapa dengan perlakuan kau terhadap istri saya!” Hanan langsung melemparkan gelas itu ke sembarang arah, menimbulkan suara nyaring sampai gelas itu berubah menjadi berkeping-keping di lantai.
Suasana menjadi semakin tegang. Ditambah dengan pekatnya malam. Tak ada yang bisa mengangkat suara. Tatapan Hanan begitu menusuk.
“Saya kecewa dengan pelayanan restoran ini. Lihatlah, ada wanita yang tengah berkelahi pun, tidak ada yang berusaha memisahkan. Bukan, bukan berkelahi. Lebih tepatnya sedang ditindas. Jangan kalian pikir, saya berkata seperti hanya untuk membela istri saya. Ya, memang seperti itu. Namun, juga dijadikan pembelajaran.
“Jika ada perkelahian atau penindasan, cepat pisahkan. Baik kalian selaku karyawan atau selaku pelanggan. Bayangkan jika keluarga kalian yang ditindas, istri kalian, putri kalian, anak-anak kalian, ibu kalian, saudara-saudara kalian. Apa yang akan kalian rasakan?
“Tidak perlu saya jawab. Kalian sudah tau jawabannya. Jadi, dengan ini saya putuskan untuk mencabut saham saya di restoran ini. Enam puluh persen, saya minta kembalikan berupa uang!” putus Hanan, mengakhiri ucapannya. Kemudian, menghela napas panjang, mengembuskannya secara perlahan.
Manager tampak gelisah. Dari mana uang sebanyak itu dalam waktu singkat? Inilah alasan mengapa dia sejak tadi sudah gelisah dan khawatir. Sebagian saham restoran mewah ini memang sudah dibeli oleh Hanan, tetapi tidak pernah mau tahu menahu perihal segalanya. Semuanya diserahkan pada manager dan CEO di sini.
Dengan kata lain, Hanan tinggal menerima hasil saja. Walau hasil itu sendiri, berkurang sepuluh persen untuk dibagi dengan manager dan CEO. Tak apa, toh, Hanan hanya main di belakang layar saja.
“M-mas ... jangan mengambil keputusan saat sedang ... mar-rah seperti ini, uhuk! Uhuk!” Hana terbatuk, tenggorokannya terasa sakit.
“Tapi, Han—“ Hanan terkesiap, dia segera berteriak meminta air. “Minum, Han!” Tangannya terulur membantu sang istri untuk minum, setelah karyawan memberikan segelas air putih terdekat.
Akan tetapi, kondisi Hana semakin memburuk. Gadis itu semakin tak berdaya setelah meminum air putih. Pelukannya pada Hanan, seketika mengendor dan tak sadarkan diri.
“Hana! Han ... Hana! Han ....” Hanan menepuk pipi Hana beberapa kali, berharap ada pergerakan. Namun, nihil, tidak ada perubahan sama sekali.
Semua orang ikut panik, apalagi wanita yang telah melukai Hana. Tak lama, ambulance akhirnya sampai. Hanan segera menggendong Hana, melangkah menghiraukan permohonan manager dan pria berkemeja hitam itu, dia tetap berjalan lurus ke depan, membawa Hana menuju ambulance.
Setelah tubuh Hana berpindah ke atas brankar, Hanan mengeluarkan ponselnya. Menghubungi seseorang dengan mata menatap tajam ke arah semua orang yang tengah berdiri di depan bangunan restoran.
“Hallo, Jay! Wa’alaikumsalaam! Cepat, datang ke restoran, saya share lok sekarang dan urus semuanya. Jangan biarkan mereka lolos. Oke, saya tutup telponnya.” Hanan memasukkan kembali benda pipih itu ke dalam saku celana. “Manager!”