Sementara si pria itu, menyaksikan semuanya dengan senyum mengembang. Itulah hukuman bagi orang yang menolak kemauannya. Rasakan itu!
“Lepas!” ujar Hana, berhasil menyingkirkan tangan wanita itu dari kepalanya. Membuat wanita itu hampir saja terjatuh jika tak segera ditolong oleh suaminya.
“Berani ya, kau mendorongku, hah!” Wanita itu maju, menampar Hana dengan keras, menimbulkan suara yang begitu nyari karena posisi mereka tengah ada di pojok ruangan.
Tak ada yang berani menghentikan aksi wanita itu atau sekedar melerainya. Mereka malah asyik menonton dan membiarkan dua wanita saling beradu kekuatan. Sebenarnya di mana letak hati nurani mereka? Apa sudah hilang?
Hana meringis kesakitan, sudut bibirnya mengeluarkan darah. Pertanda tamparan tadi sangat keras mendarat di pipinya. Belum lagi rasa perih yang sudah membuat matanya memerah dan berair, ditambah denyutan di kepala akibat jambakan tadi.
“Kurang, hah?” tantang wanita itu, seperti akan kembali menyerang Hana. Hendak melayangkan satu tamparan lagi, tetapi mengudara dan tertahan oleh tangan kekar.
Dia menoleh, mendapati sosok pria tampan bertubuh tegap, hidung mancung dengan alis tebal, bibir tipis dan mata sipit. Tatapan laki-laki itu tajam sekali, seperti elang yang siap menyantap mangsanya.
“Turunkan tanganmu!” ucap pria itu dengan tegas, semua orang menutup mulut tak percaya.
“I-itukan ... Hanan, si pengusaha muda dan sukses se Benua Asia!” ujar salah seorang pelanggan, menatap yang lain, mereka juga tampak terkejut dengan kedatangan pengusaha muda nan tampan itu.
“Siapa kau, hah?” tanya si wanita, menatap tajam ke arah Hanan.
Sementara si suami, seperti manusia tak bernyawa. Mematung dengan tubuh yang gemetar melihat kehadiran Hanan. Dia mengedarkan pandangan, mencari celah untuk melariakn diri.
“Manager! Manager di sini siapa!” teriak Hanan, berbalik badan dan menatap semua orang yang sudah gelagapan.
Melihat lelaki berkemeja hitam itu hendak kabur, membuat giginya saling beradu sehingga menimbulkan gemeratk pelan. Dia segera berlari, menyusul lelaki itu dengan kecepatan penuh.
Pria berkemeja hitam itu semakin gelisah, mempercepat larinya. Namun, dia sudah berumur, kalah dengan kekuatan Hanan.
“Mau ke mana, hum?” tanya Hanan, saat kerah pria itu sudah dalam genggaman. Kemudian, menariknya dengan paksa untuk masuk ke dalam restoran setelah memanggil penjaga untuk mengamankan pria tersebut.
Semua orang berdiri tatkala Hanan kembali memasuki ruangan. Para karyawan juga berhambur menghampiri pojok ruangan, menunduk dalam. Menghindari tatapan tajam dari seorang Hanan.
“Mana manager kalian!” bentak Hanan dengan d**a yang sudah naik turun, amarahnya siap meledak kapan saja.
Sementara Hana, wanita itu masih meringis kesakitan. Kepalanya terasa berat sekali, pandangannya semakin mengabur. Tampak Hanan sudah ada di depan mata, syukurlah. Setidaknya hati Hana merasa tenang. Kini, dia tidak perlu lagi merasa khawatir.
“Cepat, panggilkan manager kalian! Kalau perlu, hubungi CEO restoran ini!” bentak Hanan sekali lagi, membuat mereka semakin menunduk. Seorang karyawan langsung berlari ke belakang, mungkin memanggil atasannya.
Hidung Hanan kembang kempis, menatap tajam ke arah wanita yang sudah menyiksa Hana. Kemudian, menatap pria yang tadi sempat dia kejar. Mendekatinya, menatap tajam pria berambut cepak itu. Menatap benda lima koma lima inci yang ada di tangannya.
Secepat kilat, Hanan merebut ponsel itu. Membuat si pria mendongak dan lansung mendapatkan tatapan tajam darinya.
“Dari mana kamu dapat ponsel ini?”
“D-dari meja itu, Pak ....” Pria itu menunjuk ke meja di pojok, meja tempat di mana Hanan dan Hana memesan makanan dan makanan itu sudah tersaji rapi di atas meja.
“Stupid! Ponsel ini milik saya!” hardik Hanan, menoyor kepala pria itu sampai mundur beberapa langkah. Seorang penjaga dengan sigap memegang kembali pria tersebut.
“Ma-maaf, Pak. Saya tidak tau.” Pria itu menunduk, menangkupkan kedua tangan di d**a. Menyesal. Entah bagaimana nasibnya nanti.
Hanan menghiraukan wajah memelas itu, dan beralih menatap wanita yang tadi menampar istrinya. Dia mendekat, membuat si wanita mundur beberapa langkah. Menunduk dalam. Walau usia wanita itu jauh di atasnya tetapi tidak membuat Hanan takut.
“Kau tau, wanita yang kau jambak, kau teriaki, kau siksa itu siapa, hah?”
Wanita itu menggeleng. “Dia w************n, kan? Menggoda suami saya,” ucapnya masih tanpa beban.
Hanan mendelik, bibirnya terkatup rapat menahan amarah. Kemudian, sebuah tamparan mendarat di pipi seseorang dengan keras, sangat keras, melebihi kerasnya tamparan wanita itu pada Hana.
“Seumur-umur, saya selalu menghormati wanita, selalu memperlakukan wanita dengan baik. Namun, kali ini, saya melihat ada wanita yang berhati busuk seperti Anda! Berani menuduh tanpa bukti!” hardik Hanan setelah melayangkan tamparan pada suami wanita itu, sampai sudut bibir dan hidung mengeluarkan darah.
Tentu saja, dia tidak akan pernah mengotori tangan hanya untuk menampar wanita yang tabiatnya lemah dan harus dilindungi. Namun, sering kali wanita itu sendiri yang merendahkan harga diri.
“Tidak ada bukti, heh? Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, kalau w************n itu yang menggoda suami saya sampai merayu meminta handphone-nya!”
“Mah! Suttt, Mamah!” peringat si pria, memberikan kode pada sang istri agar tidak lagi mengatakan hal apapun. Namun, si wanita tampaknya tidak mau mendengarkan apa yang suaminya katakan.
Hanan mendelik tajam para si pria, lalu menatap wanita lagi. “Kau tau, yang kau hina itu siapa?”
Wanita itu bergeming. “Sudah saya jawab, dia wanita murah—“
“Stop!” bentak Hanan dengan suara yang menggelegar. “Sekali lagi kau mengatakan itu, maka jangan harap kau bisa masih bernapas dengan tenang esok pagi. Dia ....” Hanan menunjuk ke belakang, di mana Hana tengah membungkuk kesakitan.
“Di yang kau hina sebagai w************n itu adalah istri saya! Kurang jelas? DIA ISTRI SAYA!” jelas Hanan tanpa keraguan, berteriak pada semua orang. Membuat semua mata terbelelak, tak percaya dengan apa yang mereka dengar.
Memang benar, mereka mengetahui jika Hanan telah menikah. Namun, mereka tidak pernah menyangka, jika gadis cantik berjilbab itu adalah istri Hanan.
“Bagaimana mungkin, dia selaku w************n mempunyai suami berjas sepertimu, heh?” ejek si wanita, masih tak percaya.
“Mah, stop! Stop! Sudah, jangan dilanjutkan!” kata si pria, mencoba melepaskan diri dari ikatan penjaga tetapi nihil.
“Kau lihat suamimu ...,” tunjuk Hanan pada si pria yang tengah berusaha melepaskan diri. “Dia adalah karyawan saya di kantor cabang. Dan ponse ini ....” Hanan memperlihatkan ponsel yang tadi suami wanita itu pegang. “Ini adalah ponsel saya!”
Wanita itu tampak tak percaya, lalu menatap sang suami. Pria itu mengangguk, pertanda membenarkan semua perkataan Hanan. Sedikit pun, dia tidak berani mendongak kembali. Tampaknya lantai putih lebih menarik dari pada ketampanan Hanan. Atau ... takut?
“Apau kau, hah? Berapa kali Anda menampar istri saya?”
“Sa-satu, Tuan ....”
“Saya harus membayar berapa kali?”
“Seberapa banyak pun yang Tuan inginkan,” kata si wanita dengan kepala terus menunduk. “Sa-saya mohon maaf, Tuan. Ini hanya ke salah pahaman saja,” cicitnya, berharap Hanan akan luluh.
Di tengah amarah Hanan yang masih saja memuncak, dua orang tergopoh-gopoh datang. Satu karyawan tadi dan satu pria kisaran tiga puluh tahunan memakai setelan jas hitam menghampiri Hanan.
“Ada apa, Pak Hanan? Apa ada yang bisa saya bantu?”