Beraninya, Kau!

1116 Kata
Hanan mengambil satu buku, begitu juga Hana. Mereka langsung membukanya, tampak puluhan gambar berbagai macam jenis makanan dan minuman terdapat di sana. Membuat air liur akan menetes, begitu menggoda sekali rasanya. “Lemon tea dan spageti level tiga,” ucap Hanan kemudian mengembalikan buku menu itu pada pelayan. “Ibunya, mau apa?” tanyanya, menatap Hana yang masih memilih. “Emm ... air putih sama ayam rica-rica, nasi putihnya juga, Mbak.” “Baik, Pak, Bu. Ditunggu, ya. Kami akan segera mengantarkan pesanan Bapak dan Ibu.” Hana tersenyum, membiarkan pelayan itu pergi. Kemudian, menatap Hanan yang sedang sibuk memainkan ponsel. Pekerjaan tampaknya lebih menarik dari pada dirinya. “Mas ....” “Kalau mau pesan, panggil pelayan. Bukan saya.” Belum sempat menyelesaikan bicara, sudah dipotong saja. Lagi pula, siapa yang ingin memesan lagi? “Bukan, Mas.” “Terus, kenapa?” Hanan mendongak, meletakkan benda pipih biru dengan tiga kamera itu di atas meja. “A-aku ....” “Bentar, saya ke toilet dulu.” Hanan melenggang pergi sebelum mendapatkan jawaban dari Hana. Meninggalkan ponselnya di depan sang istri. Lagi-lagi Hana ditinggal begitu saja. Menyebalkan sekali mempunyai suami ketus bin dingin seperti itu. Namun, apa boleh buat? Mungkin ini tugas istimewanya sebagai istri. Harus bisa menyeimbangkan dengan sikap suami. Akhirnya, hanya helaan napas panjang yang kembali keluar dari mulut. Lima menit berlalu. Hanan tak kunjung kembali. Tersesat di mana lelaki itu? Hana sampai celingukan sendiri. Hanya dia yang duduk sendiri di ruangan besar dipenuhi lampu-lampu mewah itu. “Hmm ... Mas Hanan ke mana, sih? Kok, dari tadi nggak kembali-kembali.” Hana mengetuk meja dengan jari telunjuk, meluapkan kekesalan. Tak ada yang dapat dia lakukan lagi selain itu. Apalagi, dia baru pertama kali datang ke sini. Tidak tahu ke mana arah toilet, hanya pintu utama menuju luar yang terpampang jelas di depan mata. Tampak orang-orang begitu lahap menikmati makanan. Membuat perutnya sedikit keroncongan. Dia lapar? Bisa saja. Pasalnya, terakhir kali makan sore tadi. Itu pun, hanya memakan roti saja. Karena tidak nafsu memakan nasi. Sekarang, rasakan sendiri perut lapar meminta jatah nasi. Bagai keberuntungan, seorang pelayan wanita tengah berjalan menuju meja Hana dengan nampan berisi berbagai makanan. Dia jadi tidak sabar memakan apa yang dia pesan. “Silakan, Mbak, dinikmati makanannya.” Pelayan meletakkan makanan sesuai pesanan. Nasi putih dan ayam bumbu rica-rica di letakkan tepat di depan Hana, sedangkan spageti di tempat Hanan. Begitu juga dengan minuman yang dipesan. Kemudian, dia berpamitan, meninggalkan Hana kembali seorang diri. Hana menatap makana yang sudah tersaji di depan mata. Perutnya semakin terasa perih meminta untuk segera diisi, air liur hampir saja ke luar. Namun, tak mungkin jika dia makan terlebih dahulu sebelum Hanan datang. Dia harus menunggu suaminya dan makan bersama. Akhirnya, dia hanya bisa pasrah. Memalingkan wajah dan memilih untuk menunggu kedatangan Hanan. Mengesampingkan rasa lapar yang terus saja mendera. Perutnya terasa perih, tetapi tidak mungkin jika dia makan tanpa suami. Bukankah kewajiban seorang istri itu menemani sang suami? Maka, dia sudah putuskan. Tidak akan makan sebelum Hanan datang. Biarlah perutnya terasa perih karena lapar, dia tidak peduli. “Hai, cantik!” sapa seorang laki-laki berkemeja hitam dan duduk di depan Hana sebelum mendapatkan persetujuan. Nadanya terdengar sedikit menggoda. Hana menoleh sesaat, lalu memalingkan wajah kembali. Menghiraukan kehadiran lelaki berambut cepak itu dan menanti kehadiran sang suami. Namun, menyadari ada sesuatu, dia menoleh kembali. Ponsel Hanan ada di depan lelaki itu. “Aits!” Terlambat, lelaki itu terlebih dahulu meraih ponsel Hanan. Membuat Hana kelimpungan. “Kembalikan ponsel itu,” pinta Hana, berusaha menjangkau ponsel yang terus saja menunggu karena lelaki itu mengangkat tangannya. Hana berdiri, hendak merebut ponsel itu. Namun, nihil, lelaki itu juga malah berdiri. Tinggi Hana yang di bawah lelaki itu, membuatnya sedikit kesusahan untuk menjangkau ponsel walau sudah memakai hak tinggi. “Ayok, ayok, coba ambil kalau bisa. Ha ha ha!” tantang si pria dengan dengan terus memainkan tangan. Kadang di rendahkan dan kadang di tinggikan. Membuat Hana semakin kesulitan menjangkaunya, hal itu membuat dia tertawa puas. Puas melihat wanita secantik itu dia permainkan. “Kembalikan!” Hana terus berusaha, ponsel itu milik suaminta. Tentu sangat berharga. Pasti banyak dokumen dan nomor penting di dalamnya. “Oh, tidak bisa.” Lelaki itu menghentikan aksinya, mendekati Hana yang perlahan berjalan mundur, dia semakin bahagia untuk terus mengganggu wanita cantik di depannya. “Kecuali, kalau kamu mau tidur bersamaku, Cantik ...,” bisiknya tepat di telinga wanita itu. Hana membulatkan mata dengan sempurna, “Jangan mimpi!” katanya, hendak menjauhkan tubuh lelaki itu dan menamparnya. Namun, belum sempat dia melakukan itu, air perasa lemon bercampur teh sudah terlebih dahulu membasuh wajah dan jilbabnya. “Rasakan itu, w************n!” hardik seorang wanita memakai dress ungu tua, menatap tajam ke arah Hana. Lelaki itu beringsung, mundur dan berdiri tepat di depannya. Menatap Hana yang sudah basah dengan lemon tea. Semua orang langsung menoleh ke pojok ruangan, menyaksikan adegan tak terduga. Seorang wanita berteriak cukup keras. Sepertinya, suaminya itu tercyduk selingkuh dengan wanita cantik tersebut. Tangan Hana dengan cepat mengusap wajah, beberapa tetes lemon tea mengenai mata. Membuat penglihatannya sedikit kabur karena mata terasa perih. Tampak si pria berkemeja hitam itu kelimpungan. Dari mana istrinya tahu jika dia ada di sini? “Mamah! Mah, lihat, dia menggodaku. Dia ingin memeras ponselku, Mah. Lihat saja, sejak tadi dia terus meminta ponsel ini,” katanya, membela diri sembari memperlihatkan ponsel biru dengan tiga kamera di tangannya. Tanpa berpikir panjang, wanita itu maju ke arah Hana. “Beraninya kamu, ya!” Wanita itu menyerang Hana, menarik jilbab yang Hana kenakan tanpa ampun. “Rasakan ini, hah! Berani-beraninya kamu merebut suami saya!” “Saya bukan w************n! Suami Mbak yang mendekati saya!” Hana mencoba membela diri. “Alah, alasan! Kalau kau bukan w************n, kenapa tidak menghindar saat suami saya hendak memelukmu, hah!” Hana terbelalak, wanita di depannya salah paham. Mungkin saat tadi pria licik itu berbisik di telinga, dia melihatnya. Bagaimana ini? Dia harus menjelaskan seperti apa? Semua pelanggan yang tengah menikmati makan malam, dibuat terkejut oleh pernyataan lelaki itu. Benarkah begitu? Wanita bergamis dengan jilbab dan memiliki wajah ayu itu seorang w************n? “Benar ya, ternyata zaman sekarang ngeri. Penampilan tidak menjamin hati bersih. Lihat saja wanita itu, berjilbab tapi munafik! Dasar w************n!” celetuk salah seorang pelanggan kemudian diangguki yang lain. “Aww, Mbak! Saya bisa jelaskan. Lepaskan, awww!” Hana beberapa kali berusaha membela diri, melepaskan tangan wanita itu. Matanya masih terasa perih, tetapi sudah ditambah dengan rambut yang seperti akan lepas dari kepala. Sakit sekali rasanya. “Rasakan! Berani kau mendekati suami saya, saya akan kasih pelajaran kau, hah! Dasar w************n, wanita p*****r!” teriak wanita itu tanpa beban, terus menarik dengan keras jilbab yang Hana kenakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN