Make up yang Hana kenakan malam ini, sedikit berbeda. Bibir tipis gadis itu dipoles dengan lipstick merah muda, tidak terlalu mencolok, dan tidak terlalu pucat. Sederhana, natural. Celak mata dan maskara, menambah kesan cantiknya. Pun, dengan eyeshadow merah muda senada dengan lipstick membuat Hana terlihat lebih manis.
Sesaat, Hanan terpaku oleh penampilan Hana. Dia melihat Hana yang lain. Lebih cantik. Namun, detik selanjutnya dia segera memalingkan wajah tatkala Hana mendekat ke arahnya.
“Waaw! Maasyaa Allah, menantu ibu cantik sekaliii ...,” puji Maya yang entah sejak kapan sudah berada di ruang utama saja. “Benar, kan, Hanan?” ucapnya, menatap sang putra.
“Ya-iya, cantik. Karena gamis yang Hana kenakan, itu kan mewah.”
“Bilang aja cantik, kok susah sekali.”
Hana menunduk malu, tersenyum mendengar pujian dari suami dan ibu mertuanya. Dia memang tipikal wanita yang tidak begitu suka memakai make up. Sehari-hari hanya bedak tipis dan lipstick peach. Sesekali maskara. Jadi, wajar jika mereka memujinya.
“Ya sudah, berangkat gih, sekarang. Takut kemaleman.”
“Iya, Bu. Assalamualaikum,” pamit Hanan, menyalami tangan sang ibunda. Arya, selaku sang ayah pasti sudah tidur. “Ayah tidur ya, Bu?”
“Iya, tau sendiri Ayah kamu itu tidak pernah tidur siang. Jadi kalau selesai salat Isya, paling lambat pukul sembilan, sudah tidur.”
“Pamit ya, Bu.” Hana menyalami tangan sang ibu mertua dan dibalas pelukan oleh Maya.
“Hati-hati di jalan, ya.”
Kedua pasangan suami istri itu mengangguk, tersenyum. Kemudian, Hanan berjalan terlebih dahulu, ke luar. Disusul Hana, dia menunggu sang suami membawa mobil sebagai kereta kencana di teras. Ditemani Maya. Tentu saja, Maya harus memastikan mereka satu mobil sampai tujuan.
Tak lama, kendaraan beroda empat itu sudah terparkir manis tepat di depan Hana. Wanita itu tersenyum, lalu melirik sang ibu mertua, mendapati Maya yang mengangguk, mengiakan.
“Ayok, cepat, masuk!” ketus Hanan, melirik sekilas pada Hana, lalu menatap lurus ke depan.
“I-iya, Mas. Bu ... aku sama Mas Hanan pergi dulu.”
“Iya, hati-hati.” Maya tersenyum menatap punggung Hana, begitu anggun.
Lantas, mobil putih sport keluaran terbaru itu sudah melesat meninggalkan pekarangan rumah. Begitu juga Maya, wanita memakai piyama batik abu-abu itu sudah kembali ke dalam kamar.
Angin berembus sejuk, membuat kulit sedikit terusik. Padahal, cuaca sangat baik. Bahkan, sang rembulan pun tampaknya masih enggan tuk meninggalkan langit. Ia masih setia menghiasi, menyinari bumi dengan manja.
“Tutup jendelanya kalau dingin. Gitu aja harus disuruh,” ketus Hanan yang menyadari Hana tengah kedinginan.
Sementara wanita itu, hanya bisa tersenyum kikuk. Kemudian, menekan tombol dan jendela kembali tertutup rapat. Menikmati perjalanan yang masih ramai, apa karena malam minggu? Ah, iya. Hana baru ingat, jika malam ini malam para anak muda biasanya ke luar. Menikmati masa muda di malam hari, memang menyenangkan.
Akan tetapi, jauh lebih baik jika digunakan untuk hal yang bermanfaat. Mengerjakan tugas kuliah di taman, mungkin? Biasanya Hana akan seperti itu. Namun, tak sedikit dari mereka malah menggunakannya dengan hura-hura, nongkrong tidak jelas, mengganggu para pejalan kaki yang melintas, menghabiskan uang yang di mana mencarinya amatlah susah.
Padahal, jelas sekali syariat sangat melarang membuang waktu tanpa faidah. Waktu, masa muda, dua hal ini yang akan berat saat dimintai pertanggung jawaban kelak. Sebisa mungkin, lebih baik gunakan dengan hal-hal yang positif. Lantas, bagaimana dengan mereka yang sudah terlanjur candu?
Kembalikan lagi, itu menjadi hak mereka. Manusia selalu berhak memilih. Jalan manapun, hal apapun. Silakan pilih. Tanpa paksaan. Tanpa kekangan. Tanpa unsur apa-apa. Namun, ingatlah satu hal. Apapun itu, kelak hanya kamu yang dimintai pertanggung jawaban untuk perbuatan sendiri, bukan orang lain. Masing-masing akan adil, mendapatkan hisab. Dipertanyakan.
Untuk apa waktumu digunakan, di mana dan ke mana masa mudamu dihabiskan? Umurmu, uangmu. Semuanya. Jadi, lebih baik berpikirlah resiko apa yang akan didapat, sebelum melakukan setiap hal.
Hati Hana meringis, tatkala mengingat dulu dia juga pernah ada dalam posisi yang sama. Saat masa Sekolah Menengah Pertama, semuanya tampak asyik di depan mata. Jalan-jalan dengan teman, menghabiskan uang, rambut terurai bebas, membeli barang-barang yang mana, hanya sesuai keinginan, bukan kebutuhan.
Akan tetapi, Tuhan masih sayang padanya. Beruntung, satu kejadian telah membuatnya sadar sehingga menjadikan dia menjadi pribadi yang seperti ini. Sampai di titik ini.
“Han ... Hana!”
“Astaghfirullah! I-iya, Mas?” Hana menoleh, mengusap d**a, terkejut dengan panggilan setengah berteriak dari sang suami. Beruntung dia tidak mempunyai riwayat penyakit jantung. Jika tidak, sudah tamat riwayatnya.
“Mikirin apa, sih? Saya panggil dari tadi, tidak ada jawaban.” Hanan mendelik kesal. Dia sudah beberapa kali memanggil nama sang istri, tidak ada jawaban. Padahal, istrinya itu sedang ada di sampingnya.
“Maaf, Mas. Tadi sedang melamun. Mas tanya apa?”
“Kita mau makan di mana?”
“Terserah Mas saja. Aku ikut, Mas.”
Tak ada percakapan lagi. Hanan fokus mengemudi sampai mobil yang dia kendarai memasuki sebuah halaman parkir. Sangat mewah, luas.
“Ayok, turun!”
Entah itu perintah atau ajakan, Hanan melengos begitu saja sebelum Hana menyahut. Tak ada pilihan lain, Hana mengikuti ucapan sang suami. Turun dari mobil dan berjalan beriringan dengan lelaki itu.
Mata Hana dibuat terkesima, bangunan lima lantai di depan mata sangat mewah. Lampu-lampu keemasan menghiasi di sepanjang ruangan. Aroma berbagai macam makanan langsung menyeruak ke indra penciuman.
Harum semerbak berbagai racikan. Memanjakan para pengunjung dengan pelayanan yang amat istimewa. Hanan mengedarkan pandangan, mencari kursi kosong untuk dia dan istrinya duduk.
Hanan mendengkus, tidak ada kursi yang kosong. Jelas saja, dia datang terlambat. Apalagi, ini malam minggu. Tampaknya semua orang keluar rumah menikmati makan malam. Biasanya, jika ingin makan di restoran berbintang ini beberapa jam sebelumnya harus memesan kursi terlebih dahulu. Jika tidak, minimal datang lebih awal.
Sementara dia? Sudah tidak memesan kursi, datang terlambat pula. Sudah pasti tidak kebagian tempat duduk. Tampak padat sekali pelanggan malam ini.
Di samping Hanan, Hana justru tengah tersenyum. “Mas, kita duduk di sana, yuk!”
Hanan mengikuti arah telunjuk sang istri, masih ada satu tempat yang kosong ternyata. Namun, berada di pojok ruangan. Apa enaknya duduk di pojokan?
“Enggak. Masa kita makan di pojokan. Nggak mau saya.” Hanan menggeleng cepat, belum pernah seumur-umur dia makan di pojok ruangan.
“Ish, nggak papa, Mas. Yang penting kan, dapat tempat makan. Dari pada berdiri, kan? Emang mau begini terus, sampai kapan? Keburu larut, Mas. Ayok!”
Dalam hati, Hanan membenarkan ucapan sang istri. Jika terus begini, kapan dia bisa pulang dan mengerjakan pekerjaan? Ya sudahlah, untuk kali ini pengalaman pertama, dia mengangguk.
Kedua sejoli itu berjalan beriringan ke arah pojok ruangan. Duduk dengan anggun. Tak lama, seorang pelayan berseragam merah hati dipadu hitam datang membawa beberapa buku menu.
“Silakan Pak, Bu, dipilih,” ucapnya dengan ramah, menatap kedua pelanggan yang baru saja datang dengan senyum merekah menghiasi wajah ayunya.