Keputusan Ibu

1123 Kata
Dia mengambil tas kerja Hanan, juga jas. Meletakkan tas kerja itu di atas meja kerja, lalu jas dimasukkan ke dalam keranjang berisi pakaian kotor tepat di sudut kamar dekat kamar mandi. Sebentar lagi Asar tiba, dia harus segera bersiap menyambut panggilan dari Sang Kuasa. Benar saja, belum sampai lima menit Hana menunggu sang suami keluar dari kamar mandi, azan sudah terlebih dahulu menyapa. Tak lama, Hanan juga ke luar. Syukurlah, dia bisa segera mensucikan diri. “Sudah wud—“ “Cepat wudhu, kita salat berjamaah,” ucap Hanan, singkat sekali sambil melewati tubuh Hana yang akan mengucapkan sebuah kalimat. Hana tersenyum, belum selesai dia bertanya apa Hanan sudah wudhu, laki-laki itu sudah terlebih dahulu menjawabnya. Gegas, dia masuk ke kamar mandi dengan perasaan berbunga. Tak lupa, membawa pakaian ganti dan sesaat membersihkan diri terlebih dahulu. Agar semua badan suci dan bersih. Empat rakaat telah dilaksanakan secara berjamaah. Keduanya menoleh ke kanan dan ke kiri, mengucapkan salam secara bergantian. Kemudian, Hana mengulurkan tangan saat Hana berbalik badan. Menyalami tangan sang suami dengan takzim. “Mas ... aku minta maaf.” “Hmmm ....” Hanya itu yang Hanan lakukan sebagai respons, dia sibuk mengganti koko dengan kaus oblong. Peci hitam yang semula tersemat di kepala, sudah rapi di atas laci. Begitu juga dengan Hana, melipat mukena dan meletakkannya di tepi ranjang. Dia mengedarkan pandangan, selanjutnya apa yang harus dia lakukan? Canggung sekali berada di kamar suami. “Buatkan saya kopi, antarkan ke balkon.” Hanan menatap sekilas ke arah Hana, lalu berjalan lurus menuju balkon. Hana mengangguk paham, berlalu dari kamar. Kesempatan emas, dia tidak canggung jika harus bekerja seperti ini. Syukurlah. *** Siang berganti malam, mentari telah ditukar dengan rembulan. Ditemani cahaya lampu jalanan, semuanya tampak indah dari atas balkon. Terlebih, ditemani secangkir teh dan camilan. Semilir angin sesekali meniup kulit, terasa dingin. Namun, tak membuat dia beranjak dari kursi. Bukan Hanan namanya jika melewatkan waktu tanpa bekerja. Lihat saja, walau sudah malam seperti ini, tetap saja sibuk dengan pekerjaan. Laptop di pangkuannya, ditemani secangkir teh dan camilan, menikmati malam dengan otak terus berputar. Sementara Hana, wanita itu berusaha untuk tidur, tetapi tidak bisa. Sudah berbalik badan beberapa kali, menghadap ke kanan dan ke kiri, tetap saja matanya tidak bisa diajak kompromi. Sejenak dia menatap ke arah balkon, tampak Hanan masih saja setia dengan laptopnya. Dia ingin ke sana, tetapi takut mengganggu. Tidur pun, tidak bisa. Kini, Hana hanya bisa pasrah. Membelakangi Hanan dengan tangan kanan di bawah kepala, menjadi sanggahan. Memejamkan mata, berharap bisa segera terjun ke alam mimpi. “Hann ... Hanan, Hana!” panggil seseorang dari luar, sontak membuat Hana langsung membuka mata. Gadis itu beringsut dari posisinya, duduk dan melirik ke arah sang suami. Hanan tidak ada pergerakan sama sekali, mungkin tidak mendengar sebab berbeda ruangan dan tengah fokus dengan pekerjaan. “Hanan ... Hana? Ini ibu, Nak!” Hana terkesiap, gegas beranjak dari kasur. Sedikit berlari kecil menghampiri pintu, memutar knop, membukanya secara perlahan. Benar saja, Maya sudah berada di depan pintu dengan piyama khas ibu-ibu. Motif batik dengan warna dasar abu-abu bercampur hitam. “Loh, kok, kamu belum siap, Han?” tanya Maya, menyadari Hana masih dengan pakaian biasa, baju tidur merah muda dengan motif beruang, juga jilbab instan senada. “Eu-anu ... memangnya mau ke mana, Bu?” Hana malah balik bertanya. Sebenarnya, dia paham dengan maksud sang ibu mertua. Namun, melihat Hanan tengah bekerja, tak ingin mengganggu. “Jangan pura-pura tidak ingat,” ucap Maya, menampilkan raut datar dan masuk ke dalam kamar begitu saja. “Di mana Hanan?” tanyanya, menoleh ke belakang. Hana menunjuk ke arah balkon, Maya langsung mengangguk dan berlalu ke arah sana. Langkahnya berhenti tepat di ambang pintu kaca, pemisah antara kamar dan balkon. Tampak Hanan tengah serius mengetik, mengerjakan pekerjaan yang tidak pernah ada habisnya. “Sibuk, ya? Sampai tidak ingat atau pura-pura lupa dengan janji kamu tadi siang?” selorohnya, menghampiri sang putra. “Aku sibuk, Bu. Ada pekerjaan. Alex mendadak demam, dia tidak jadi lembur.” Kali ini, Hanan berkata jujur, wajahnya terlihat serius. “Tidak peduli. Sekarang ... cepat ganti baju dan ajak Hana makan malam,” ujar Maya, mengambil laptop sang putra begitu saja. Hanan berniat protes, tetapi langsung dicegah oleh tangan Maya. “Tidak ada alasan, tidak ada penolakan. Sekarang ganti baju dan pergi atau laptop kamu ibu sita sampai dua hari ke depan?” “Ibu, jangan gitulah ...,” protes Hanan, tak terima, dengan wajah memelas. “Nggak. Kamu harus bertanggung jawab. Dia itu istri kamu, Nak. Tidak baik membuat istri kecewa dan merasa dicampakkan seperti itu. Cepat, tebus kesalahan kamu.” Maya memberikan isyarat tangan agar Hanan putranya itu segera pergi dan berganti pakaian. Hanan tak ada pilihan lain, dia menyerah. Beranjak dari kursi setelah menghela napas panjang. Kemudian, mulai memilih pakaian yang akan dia kenakan malam ini. Jas putih dipadu dengan kemeja hitam menjadi pilihan, satu set pakaian itu sudah ada di tangan Hanan. Dia berbalik badan, menatap sang ibunda dengan raut datar. “Aku ganti baju di ruang tamu dan menunggu di bawah,” ucapnya datar kemudian keluar dari ruangan. Maya mengangkat dua jempol, tersenyum manis. Menatap kepergian putranya, lalu menghampiri Hana yang berada beberapa langkah di depannya. “Han, ayok, kamu ganti baju. Hanan akan menunggu di bawah. Dandan yang cantik, ya.” Maya tersenyum, meletakkan laptop di atas meja, lalu ke luar dan menutup pintu. Membiarkan menantunya itu menghias diri. Hana bergeming di tempat. Apa dia tidak mimpi? Yang benar saja. Tadi dia kesulitan tidur dan sekarang, diajak makan malam d i luar? Oh, Tuhan ... bagaimana ini? Tak menunggu waktu lama, Hana segera membuka lemari, mencari gamis mana yang tepat untuk dia kenakan malam ini. Sungguh, ini pengalamannya pertama kali, makan malam bersama di luar bersama sang suami. Gamis hitam bagian d**a sampai ke paha, putih dari lutut sampai bawah. Sepertinya gamis ini cocok dengan pakaian Hanan. Baiklah, Hana putuskan untuk memakai gamis itu. Tak lupa, jilbab pashmina hitam dengan bross kecil berbentuk bunga mawar dia sematkan di bagian telinga. Taburan make up sudah, sepatu hak tinggi lima centi sudah tersemat di kaki. Lantas, Hana menyambar tas selempang hitam. Agar pas dengan gamis yang dia kenakan. Sekali lagi, dia menatap pantulannya di depan cermin. Sudah cantik, sempurna. Mungkin, semoga. Dengan hati-hati dia menuruni anak tangga, perlahan, tetapi pasti. Menunduk dalam selama langkah terus dilakukan. Tak berani menatap ke bawah. Menyembunyikan wajah yang dia sudah poles dengan make up. Sementara itu, Hanan yang tengah fokus dengan ponselnya, menoleh saat mendengar suara sepatu dari arah tangga. Wajahnya datar, menatap sosok yang tengah menuruni anak tangga sambil menunduk dalam. Dia termangu, lebih tepatnya terpesona. Gamis berbahan siffon berlapis-lapis itu sangat indah di tubuh Hana, jatuh sekali saat dibawa melangkah. Membuat penampilan Hana bak model yang tengah menebarkan pesonanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN