Apa Ini?

1100 Kata
“Takut kenapa, Mang?” “Anu ... tadi, pas di jalan, Neng Hana beli gunting di supermarket. Mamang lihat sendiri, ada gunting baru di dalam tas belanja itu.” “Tas belanja cokelat dari butik Muslimah Fashion, Mang?” sahut Hanan, menatap sang sopir dengan intens. “Betul, Den. Pas pulang dari kantor kan Neng Hana bawa tas belanja.” Maya menutup mulut tak percaya, pikirannya langsung kacau ke sana kemari. Takut apa yang dia pikirkan, terjadi pada Hana. Apa yang harus dia lakukan? Dia menatap sang suami dan Hanan, lalu menatap Mang Eman. “Apa yang kalian tunggu? Cepat dobrak pintunya! Buka dengan cara apapun!” titahnya, dengan perasaan cemas. Seakan paham dengan pemikiran Maya, ketiga orang itu langsung mengambil kuda-kuda, menatap pintu dengan lekat. Bersiap untuk menghancurkan benteng itu. “Satu ... dua ... tiga!” ucap Arya, memberi aba-aba pada Hanan, lalu detik selanjutnya maju dengan kecepatan tinggi, menabrak pintu agar terbuka. Namun, nihil. Pintu masih tetap saja berdiri dengan kokoh, tidak ada perubahan. Yang ada malah lengan mereka terasa sakit. Sial, bukanya terbuka malah memberikan luka. Tak ingin menyerah, mereka mencoba kembali. Kali ini, Hanan yang memberikan aba-aba. Tas kerja dan jas yang semula dia kenakan, sudah berpindah di lantai. Sementara Maya, hanya bisa berdoa, berharap Hana tidak melakukan apa yang dia pikirkan. Jangan sampai itu terjadi. Pintu terus saja dibuka secara paksa, linggis pun sudah dibawa, Mang Eman mulai mengarahkan perkakas itu ke arah pintu. Mencoba membukanya, nihil, tidak ada hasil. “Hana! Han! Hanaaaa! Buka pintunya!” teriak Hanan, napasnya tersengal-sengal. Dadanya naik turun, ternyata menguras tenaga juga mendobrak pintu. “Hann ... buka pintunya, Nak!” ujar Maya, dengan mata yang sudah berkaca-kaca. “Iya, Nak. Buka pintunya. Lihatlah Hanan, dia sudah tidak berdaya. Dia tidak bisa hidup tanpa kamu, Han!” timpal Arya, melirik ke arah sang putra. Hanan yang mendengar itu, mendelik kesal. Namun, dia juga tidak bisa protes. Tidak juga bisa membayangkan, bagaimana jika Hana benar-benar pergi meninggalkannya. “Hann—“ Pintu terbuka, menampilkan sosok gadis bergamis abu dengan bahan yang jatuh sekali. Mereka menatap sosok itu dari bawah sampai atas. Anggun, cantik. “Emm ... kenapa rame-rame, ya? Ada apa?” tanya Hana, keheranan. Menatap semua orang yang ada di depan pintu dengan raut penuh tanda tanya. Sesaat mereka terpaku, Hana tidak ada darah sedikit pun, tidak ada luka sedikit pun. Hanya mata yang terlihat sedikit sembap. Maya langsung berhambur memeluk sang menantu, menghujani pipi Hana dengan kecupan. Hampir saja air matanya menetes jika tak segera diseka oleh jari. “Emm ... ada apa, Bu?” Hana mengulangi pertanyaan yang sama. Belum paham apa yang mereka lakukan di sini. “Kamu tidak apa-apa kan, Nak, hum? Ada yang luka, nggak? Ada yang sakit?” tanya Maya, berturut-turut, meneliti tubuh Hana di segala sisi, dari atas sampai bawah. “Memangnya kenapa?” Hana seperti orang linglung, tidak tahu harus bersikap bagaimana. Memangna dia kenapa? Habis ada gempa bumi atau bagaimana? Kenapa semua orang terlihat khawatir? “Tadi kamu sudah panggil kamu, ketuk pintu beberapa kali, tapi tak ada jawaban. Sampai harus dobrak segala, tapi nggak mempan pintunya. Tetap saja tertutup rapat. Kamu nggak papa, kan?” Hana mengangguk. “I-iya ... aku nggak papa, Bu. Kenapa Ibu khawatir seperti ini?” “Pake nanya lagi. Yaa kami khawatir lah, orang kamu nggak ada nyaut beberapa kali dipanggil,” celetuk Hanan dengan kesal, buang-buang waktu dan tenaga saja. “Iya, ditambah kata Mang Eman kamu beli gunting, terus tadi kaya Ibu kamu kecewa sama Hanan. Kami jadi berpikiran yang tidak-tidak,” tutur Arya, menjelaskan segalanya agar tidak ada ke salah pahaman lagi. “Hah?” Hana menatap suami, ibu mertua, ayah mertua, dan sang sopir secara bergantian. “Aku nggak akan melakukan hal serendah itu, Pah, Bu, Mas. Aku baik-baik aja, kok.” “Alah, bohong. Kalau iya baik-baik aja, ngapain sejak tadi diam nggak jawab panggilan kami?” ketus Hanan, benar-benar kesal sekali. Tahu begini, dia tidak akan buang-buang waktu dan tenaga secara sia-sia. “Euumm ... maaf. Tadi, aku ketiduran, Mas. Pas udah nangis,” cicit Hana, menunduk dalam. Maya segera mengusap punggung sang menantu, membuat Hana mendongak kembali. Tersenyum getir. Kata-kata Hanan begitu pedas sekali. “Buang-buang waktu dan tenaga saja. Sia-sia kamu usaha sampai mau dobrak pintu. Kalau pintunya rusak, kamu mau tanggung jawab?” “Maaf, Mas. Ta-tadi aku tidurnya wajah di bawah bantal, jadi nggak denger ada yang panggil dan ketuk pintu. Terus bangun pas denger ada keributan.” “Lain kali, pintu nggak usah dikunci. Cuma tidur siang doang kok, dikunci. Biar orang nggak khawatir, nyusahin aja.” Hanan masih saja mengeluarkan uneg-unegnya, belum puas mengomeli Hana. “Sudah, sudah. Hanan, kasian istri kamu. Bukannya bersyukur istri baik-baik saja. Kalau sampe terjadi apa-apa, bagaimana? Kamu yang bertanggung jawab,” tegur Maya, membela Hana. “Lho, kok, aku?” “Iyalah, orang kamu yang bikin Hana sedih. Sudah, nggak usah protes. Malam ini kalian makan di luar, dinner.” Maya beralih menatap Hana, “Tadi beli gunting buat apa?” “Untuk potong kertas, Bu. Aku suka buat catatan kecil gitu, terus ditempel di buku diary.” “Tuh, dengerin. Makannya, segala sesuatu harus sabar, jangan tergesa-gesa. Harus tabayun dulu, tunggu sampai ada konfirmasi. Jangan seperti tadi. Kamu juga, Hanan. Kalau khawatir bilang aja, nggak usah disembunyiin segala. Wong jelas tadi, kamu terlihat cemas bin panik pas tidak ada jawaban dari Hana,” sela Arya, mengeluarkan kata-kata bijak selaku kepala rumah tangga. “Ya sudah, semuanya bubar. Sudah selesai, kan? Biarkan Hanan dan Hana masuk ke dalam kamar. Papah ada pekerjaan.” Arya berlalu dari sana, melangkah ke arah ruang kerja kembali. Kemudian, di susul Maya setelah tersenyum pada Hana, mengusap pipi menantunya dengan lembut. “Ibu pergi dulu, ya. Kalau ada apa-apa, atau diapa-apain sama Hanan, bilang saja sama ibu. Biar ibu yang kasih pelajaran,” ucap Maya sebelum pergi, sesaat melirik ke arah Hanan. Sementara sang putra hanya menatapnya tak percaya. Tega sekali pada anaknya sendiri. Begitu juga dengan Mang Eman, sopir itu juga berpamitan. Meninggalkan Hana dan Hanan yang masih bergeming di tempat, saling menatap. Kemudian, Hanan masuk ke dalam, diikuti Hana dan menutup pintu. Kali ini, tanpa dikunci. “Lain kali, kalau kesel bilang aja. Nggak usah ngadu ke Ibu!” kata Hanan sambil melempar jas dan tas kerjanya dengan asal ke atas kasur kemudian menyambar handuk dan masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri. Hana menunduk dalam. Belum sempat membela diri, bahwa dia tidak mengadu apapun pada sang ibu mertua, lelaki itu sudah pergi saja. Ya sudahlah, biarkan. Tak ada pilihan. Toh, yang penting dia memang tidak melakukannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN