Sepuluh menit berlalu, tetapi Hanan tak kunjung kembali. Sementara Maya, masih setia menunggu di depan lobi. Menyebalkan sekali anak itu. Awas saja. Tampaknya jeweran tadi belum membuat anak itu merasa jera.
Maya mengetukkan sepatu hak tingginya ke lantai, menimbulkan bunyi ketegangan. Membuat beberapa karyawan menunduk takut. Tampal jelas ibu dari bos besar itu tengah menahan amarah.
“Hanan ...,” geramnya, hampir tak bersuara.
“Ibu, ayok!” ajak Hanan yang baru saja sampai.
“Dari mana saja, hum? Lama sekali. Ibu sampai kesal menunggu selama itu.”
“Maaf, Bu. Tadi selesai kasih tugas ke Alex, buat handle beberapa pekerjaa. Dia jadi harus lembu malam ini.”
“Yaah ....” Maya melenggang pergi, meninggalkan Hanan yang sudah menghela napas panjang. Anak itu segera menyusul sang ibunda sambil menggeleng pelan.
Kereta besi beroda empat itu membawa mereka menuju rumah, dikemudikan oleh Hanan. Sementara mobil yang semula membawa Maya ke kantor, sudah pulang terlebih dahulu dibawa Mang Eman sang sopir.
Sepanjang perjalanan semuanya hening, sunyi. Tak ada yang mengeluarkan suara sepatah kata pun. Hanya angin yang meniup rambut mereka dari celah jendela pintu. Menemani perjalanan menuju tempat istirahat bersama keluarga.
Ibu dan anak itu sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanan yang fokus mengemudi, sedangkan Maya fokus memperhatikan jalanan. Sesekali menatap sang putra, tersenyum tipis hampir tak terlihat.
Decitan rem terdengar, roda berhenti berputar. Mobil rupanya sudah sampai di garasi rumah. Hanan segera turun, begitu juga dengan sang ibunda. Tak lupa, memencet tombol yang ada pada kunci mobil, terdengar bunyi dari mobil seperti klakson motor satu kali.
Maya berjalan terlebih dahulu masuk ke dalam rumah, lalu disusul Hanan. Keduanya mengedarkan pandangan, sepi. Tak ada orang sama sekali.
“Bi Leha! Bi ... Bi Leha!” teriak Maya, memanggil sang asisten rumah tangga. Beberapa detik kemudian, terlihat seorang wanita kisaran tiga puluh tahunan berlari tergopoh-gopoh menghampirinya.
“Iya, Bu? Maaf, tadi Bibi sedang di kamar mandi.”
“Oh, iya. Bapak mana, Bi?”
“Bapak ada di ruang kerja, Bu.”
Maya mengangguk, lalu menatap sekilas pada Hanan sebelum melenggang pergi. Kemudian, disusul Hanan. Asisten rumah tangga itu kembali ke dapur.
Dengan langkah tegap dan percaya diri, Hanan menaiki anak tangga dengan santai. Tas kerja di tangan kanan, sembari melangkah melerai ikatan dasi agar tak terlalu mengikat leher.
Langkahnya berhenti di depan pintu kayu kecokelatan, memutar knop pintu. Tidak bisa. Dia mendongak, tumben sekali Hana mengunci pintu dari dalam.
“Han ... Hana! Han ...,” ucap Hanan seraya mengetuk pintu pelan, menempelkan daun telinga pada daun pintu. Namun, tak ada suara apapun dari dalam sana. Sepi sekali.
Apa Hana sedang berada di kamar mandi sehingga tidak mendengar panggilannya? Namun, mengapa sampai harus mengunci pintu segala?
Baiklah, Hanan putuskan untuk menunggu sebentar. Berjongkok tepat di depan pintu, duduk, menatap ke arah bawah. Besar sekali ruang tamu dan ruang keluarga. Nikmat apa lagi yang bisa Hanan dustakan?
Kekayaan sudah tidak bisa dihitung lagi, istri yang cantik dan baik, salehah, orang tua yang lengkap. Asisten rumah tangg, karyawan di kantor berpuluh-puluh. Cabang di mana-mana bahkan sampai menjadi posisi perusahaan terbesar se-benua ASIA.
Hanan mendengkus, ingatan itu kembali hadir. Hanya satu yang tidak dia miliki, ketenangan, cinta yang dia rasakan dulu sebelum insiden itu terjadi. Namun, sejatinya dalam kehidupan bukankah tidak pernah ada yang sempurna? Dari segi apapun, pasti ada kurang dan lebihnya.
Mata Hanan melirik arloji mewah dan branded yang melingkar di pergelangan tangan, sepuluh menit berlalu. Namun, Hana tak kunjung membukakan pintu. Apa mandi wanita itu selama ini?
Hanan beringsut dari tempat duduk, berdiri di depan pintu lagi. Mengetuk pintu beberapa kali sambil kembali memanggil nama sang istri. Berharap kali ini, Hana ke luar dan menyambut kedatangannya.
“Han ... Hana! Hannn ....” Hanan menempelkan daun telinga pada daun pintu lagi, tetap saja, tidak ada suara.
Tak menunggu lama, Hanan segera berlari ke arah barat. Memasuki ruangan dan hampir terjungkal. Pasalnya, dia rem mendadak. Hampir saja.
“Hanan! Hati-hati, jangan lari-lari. Kenapa, sih? Sampai buru-buru sekali ke sini?” ujar Maya yang menemani sang suami bekerja. Menatap putranya dengan heran.
“Pah, Hana ada di dalam kamar?”
“Iyaa ....” Arya mengangguk, lalu mengalihkan fokusnya dari layar laptop pada sang putra. “Sejak ibumu pergi ke kantor, Hana di dalam kamar. Sampai sekarang, tidak ada papah lihat dia ke luar. Kenapa?”
“Aku sudah ketuk pintu beberapa kali, panggil dia berpuluhan kali, tunggu sampai sepuluh menit lebih, mengulanginya, tetap tidak ada jawaban, Bu, Pah,” tutur Hanan panjang kali lebar, menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
Maya berdiri. “Yang benar? Dia masih marah kali sama kamu, makannya nggak mau bukain pintu. Coba biar ibu yang ke sana,” ucapnya kemudian melangkah ke luar, diikuti Arya dan Hanan.
Apa benar, Hana tidak mau membukakan pintu karena masih marah? Sebegitu kecewanya kah, dia? Lebay sekali marah-nya.
Maya mulai mengetuk pintu, pelan. “Hann ... ini ibu, Nak. Kamu ada di dalam, kan?”
Sunyi, tak ada jawaban. Hanan dan Arya hanya bisa saling pandang. Hal seperti ini, mereka memberikan tanggung jawab seluruhnya pada Maya, selaku wanita pasti memahami isi hati wanita lain. Bisa saling bicara dari hati ke hati.
“Hana ... ini ibu Maya, Nak. Sudah, ya, marahnya. Hanan nggak akan gitu lagi, kok. Kamu buka pintu, ya.” Maya bersuara lagi, menatap kedua lelaki bagian hidupnya yang amat berarti. Menghela napas panjang, mulai frustrasi.
“Coba Ibu ngomong sekali lagi,” usul Hanan, berharap kali ini mendapatkan jawaban.
Maya mengangguk, lalu kembali mengetuk pintu, memanggil nama sang menantu. Tak ada jawaban. Sama saja. Malah membuat dia semakin merasa khawatir.
“Coba biar papah yang bicara,” ujar Arya, maju satu langkah. Maya mengangguk, lalu sedikit mundur untuk memberikan ruang pada suaminya agar bisa leluasa bicara.
“Han ... sayang, ini Papah, Nak. Papah Arya. Kamu buka pintunya, ya? Papah sama Ibu ada di sini, kamu tidak perlu takut sama Hanan.”
Sepi. Masih tetap sama. Tidak ada jawaban. Mereka bertiga saling pandang, dalam hati merasa khawatir dengan keadaan Hana.
“Nak ... ibu tadi sudah memberikan pelajaran pada Hanan. Ibu jewer kupingnya. Hanan juga bakal ngajak kamu ke luar malam ini, makan bersama, dinner, berdua. Sebagai ganti makan siang tadi. Han ... ibu mohon, buka pintunya, ya.” Maya menjelaskan segalanya, membuat Hanan mendengkus kesal. Dia membalas dengkusan sang putra dengan memelotot tajam.
“Lihat, gara-gara kamu Hana jadi tidak mau ke luar. Kalau Pak Burhan tau, bagaimana? Bisa-bisa disangka kita tidak menyayangi Hana dengan tulus.”
“Yaa, tapi tidak perlu sebut Ibu jewer aku.” Hanan masih saja protes di saat genting seperti ini, tidak terima dipermalukan.
Melihat ketiga majikannya tengah berdiri di depan pintu, sang sopir berhenti melangkah menuju dapur, berbelok arah menghampiri mereka.
“Ada yang bisa Mamang bantu, Bu, Pak, Den?” tanya Mang Eman, dengan sopan, membuat mereka bertiga menoleh.
“Tidak ada, Mang. Ini, Hana sejak tadi tidak mau ke luar. Mungkin masih marah gara-gara Hanan,” jawab Maya kemudian mendelik kesal ke arah sang putra saat mengucapkan kalimat terakhir.
“Aduh, kok gitu, ya. Mamang jadi takut, Bu.”