Senyum Malu

1134 Kata

Sementara Hanan, masih bergeming di tempat. Menyaksikan kepergian mobil seiring doa yang terucap dalam hati. Tanpa dia ketahui, Sabna sudah meremas jarinya sampai kuku-kuku gadis itu memutih. Lantas, berbalik badan kala mobil yang ditumpangi sang istri kian menjauh dan hilang dari pandangan. Tampak Sabna masih menunggunya, dia menyunggingkan senyuman. “Ayok, saya antar. Ojeknya sudah dipesan?” Sabna mengangguk, tersenyum. “Sudah. Itu ....” Umur panjang, begitu kata pepatah. Baru saja dibicarakan, mobil pesanan Sabna sudah sampai di parkiran. Hanan mengangguk, melihat mobil putih yang tak jauh dari posisi mereka. Kemudian, mendorong kursi roda Sabna sampai di sana. Mata sipit lekaki itu mengedar, mencari tenaga kesehatan. Namun, sudah sepuluh menit berlalu tetapi tak jua dia tem

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN