Hana tersenyum malu, menunduk. Perlakuan Hanan malam ini sungguh manis, membuat pada jomlo kian menangis, meringis karena tak kunjung mendapatkan pendamping yang akan menemani sampai umur terkikis habis. Berbeda dengan Hanan, lelaki itu justru menampilkan wajah dinginnya lagi. Setelah Mang Eman kembali ke rumah dan akan menjemput mereka tepat pukul sepuluh malam, Hanan menggandeng tangan sang istri masuk ke dalam. Bak ratu dan raja, semua orang yang tengah menikmati hidangan tercengang melihat dua manusia yang saling berdampingan, begitu terlihat tampan dan cantik, serasi jika disandingkan. Benar apa kata pepatah, jodoh adalah cerminan diri. Lihatlah, di depan mata mereka, seorang pangeran tampan berjalan beriringan dengan putri yang cantik jelita. Akan tetapi, hal itu tidak disukai

