Sepanjang perjalanan, Hana tidak banyak bicara. Gadis pemikiran maya bening itu terus bergeming. Sesekali melihat ke luar jendela, pemandangan di sana masih sama. Beberapa kendaraan hilir mudik, keluar masuk gang. Tak sedikit pula para pedagang kaki lima atau orang-orang yang berjualan keliling. Dulu, alun-alun kecamatan ini yang sering Hana kunjungi. Menghabiskan waktu bersama teman-temannya setelah pulang sekolah. Sekarang, semuanya telah berbeda. Setelah dia hijrah, tak ada yang ingin berteman dengannya lagi. Pernah Burhan ingin menegur kedua orang tua mereka, tetapi tidak dia izinkan. Karena jika itu terjadi, maka semuanya akan hancur. Dan dia tidak ingin memiliki banyak musuh. Baginya, hidup ini simpel sekali. Siapa pun yang ingin bertahan, dia perbolehkan. Dan siapa pun yang

