Bian mendorong kursi roda istrinya memasuki cafe Aidan, tempat mereka makan malam. Shera dan Ale berjalan di samping kiri dan kanan Tante Henara sembari memegang tangan Tante Henara untuk memberi semangat. Makan malam ini, selain untuk merayakan pengangkatan Shera sebagai putrinya juga untuk ajang reuninya bersama para sahabat. "Mereka melihatku, Bi." Henara minder. "Mereka melihat, karena Mama cantik." Shera menjawab ceria, membesarkan hati Henara. "Jangan pedulikan." Bian mengusap pundak sang istri. Sejujurnya Henara lebih memilih berdiam diri di rumah saja. Jika bukan karena Shera, ia tak akan mau keluar dan menjadi bahan tontonan seperti ini. Henara meremas tangan Shera dan Ale dengan kuat, seakan meminta kekuatan. Pandangannya menunduk, menatap lantai. Ia tidak sanggup melihat eks

