Ale mengempaskan tubuhnya di sofa panjang, ruang keluarga di rumahnya. Lelah. Berhari-hari dirinya berkeliling kota mencari Shera. Belum membuahkan hasil. Shera tidak kembali ke rumah lamanya. Dia juga tidak berada di rumah Mama dan Papa. Ale memijat pelipisnya. Ke mana lagi ia harus mencari? Ia bahkan sudah menyebar iklan pencarian orang hilang, dan menjanjikan bayaran setimpal bagi siapa pun yang berhasil membawa istrinya ke hadapannya dalam keadaan hidup dan utuh. Ale memandangi ponselnya, berharap ada pesan masuk atau telepon dari siapa pun yang mengetahui keberadaan Shera. Matanya bahkan tidak berkedip hingga terasa perih. Tapi, Ale menikmati perih itu. Rasanya bisa sedikit mengobati kehampaan di hatinya. "Sheraa... di mana dirimu?!" Jerit batin Ale. Ie melemparkan ponselnya ke at

