Ale menghela napas seraya membuka matanya yang sejak beberapa saat lalu terpejam. Kenangan masa lalu kembali diputar dalam pikirannya. Kedua tangannya mengepal erat, pertanda bahwa amarahnya sudah mencapai puncak. Namun, bukan Aleron jika tidak bisa menyembunyikan emosinya dari pandangan setiap orang. Wajahnya tetap terlihat tenang dan tanpa ekspresi, meski hasrat ingin mencincang siapapun yang berniat jahat terhadap istri dan keluarga menggelegak dalam hatinya. Hampir setengah jam Aleron berdiri mengawasi gerbang rumahnya di kejauhan sembari berdiri bersandar di pagar balkon kamarnya. Ia sedang menunggu seseorang. Sahabat lama yang akan membantu memuluskan rencana pembalasannya. Setelah sang ayah menjemputnya dan Shera di rumah sakit, Ale segera menghubungi salah seorang sahabatnya yang

