bc

Gadis Desa Tawanan Mafia

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
dark
family
HE
love after marriage
forced
friends to lovers
badboy
mafia
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
lighthearted
serious
kicking
bold
city
office/work place
small town
childhood crush
secrets
poor to rich
like
intro-logo
Uraian

“Kau ingin bebas? maka kembalikan dua milyar yang telah aku berikan pada keluargamu!”

Laura Anastasya,mengira ia akan bebas dari sebuah pernikahan paksa yang diatur oleh keluarganya. Hingga Bryan datang membawa pertolongan.

Namun ternyata pertolongan itu adalah awal dari jebakan baru.

Laura terjerat, oleh pria yang tidak pernah ia sangka dengan identitas dibaliknya.

Bryan Hiroshi, berniat ingin melihat dan mengenang kampung halaman ibu kandungnya, sebelum rencana balas dendam pada ayah dan ibu tirinya. Tapi justru ia malah menikahi wanita yang terlihat menyedihkan dengan caranya ia menolong Laura.

Cinta dan balas dendam, akankah pernikahan mereka bahagia?

chap-preview
Pratinjau gratis
001
“Aku menolak perjodohan ini!” ucap Bryan, pria berusia 18 tahun itu, dengan tegas menolak perjodohan yang diatur oleh ayah dan ibu tirinya, Donita. “Jessica wanita yang baik, dia juga memiliki identitas yang bagus di belakangnya, dia saudara dari ibumu yang sudah dipastikan latar belakangnya tidak perlu diragukan lagi,” ucap Marcell mencoba membujuk anaknya yang belum lulus SMA. “Aku tidak peduli! Dia dengan latar belakang apa pun, yang jelas aku menolak perjodohan ini!” desis Bryan, tidak peduli apa pun dengan semua perkataan ayah kandungnya. “Mengapa kamu tidak mengenalnya lebih dulu? Ibu yakin kamu pasti menyukainya,” seru Donita, kini ikut bicara, ibu tirinya. Bryan mendengus kesal, tatapan tidak suka diperlihatkan pada ibu tirinya. “Ibu? Sejak kapan kamu menjadi ibuku?! Memang benar kau menikah dengan ayahku, tapi jangan pernah berharap aku akan menerimamu sebagai ibuku! Ibuku hanya satu, Reina Hiroshi!” PLAK! Marcel menampar Bryan karena telah bersikap kasar pada Donita, berharap Bryan bisa lebih berbesar hati untuk menerima Donita sebagai ibunya, tapi ternyata setelah hidup bersama setelah kematian ibunya, Bryan tidak pernah mau menerima Donita. “Bryan! Walau bagaimanapun Donita sudah membesarkanmu sejak kematian ibumu!” ucap Marcel. “Membesarkan? Kau yakin, Ayah?” seru Bryan, tatapannya semakin benci pada sepasang suami istri di depannya. “Sudah cukup! Kita sedang membahas perjodohan, jangan merembet ke mana-mana. Aku tidak masalah Bryan tidak menganggapku sebagai ibu penggantinya, aku yakin lambat laun Bryan akan menerimaku,” seru Donita, membuat Bryan tertawa. “Mimpi!” desis Bryan, semakin membuat Marcel marah. Kedua tangan Marcel terkepal kuat, rahangnya mengeras, tatapan tajam diarahkan pada Bryan. Marcel ingin kembali memukul Bryan, tapi Donita mencegahnya. Marcell menahan amarahnya, tidak bisa berbuat apa pun. Ia paham baginya Bryan masih bocah yang baru beranjak dewasa, keadaannya masih sangat labil. Sedangkan Bryan lekas meninggalkan mereka. Marcel tidak tahu harus berbuat apa. Sejak Reina meninggal, Bryan sangat berbeda, tidak pernah menghormatinya, sikapnya menjadi keras, bahkan tidak peduli dengan apa pun yang terjadi padanya. Menikah dengan Donita, Marcel berpikir akan membuat Bryan mendapat pengganti ibunya, Reina. Tapi ternyata itu malah semakin membuat Bryan membenci dirinya. Marcel selalu mencoba melakukan apa pun untuk membuat Bryan bahagia, tapi nyatanya itu membuat Bryan semakin membantahnya, tidak pernah sejalan dengannya, bahkan perjodohan ini, Bryan menolak tanpa mau mencoba lebih dulu untuk mengenal. Sebetulnya Bryan sudah mengetahui wanita yang ingin dijodohkan dengannya, cantik dan seksi, itu memang nilai plus bagi para laki-laki. Siapa yang tidak suka memiliki wanita seperti itu? Tapi sayangnya, nilai cantik dan seksi tidak membuat Bryan suka, karena ada sisi negatif dalam diri Jessica. Jessica adalah wanita licik dan suka merendahkan orang, memiliki sifat yang sama dengan ibu tirinya, hal yang dibenci oleh Bryan. Bahkan saat ini pria tampan itu tahu jika Jessica sedang bersama dengan seorang pria. Perjodohan yang benar-benar tidak masuk akal, bagi Bryan yang berpikir jika hanya ada rencana tersembunyi yang dilakukan oleh ibu tirinya. Bryan memasuki club malam, dengan segelas alkohol di tangannya. Usianya baru menginjak 18 tahun, tapi pria itu bisa bebas memasuki club malam sesukanya sejak Bryan duduk di kelas satu SMA. Sebuah club malam yang dimiliki oleh kakeknya, yang tidak pernah diketahui oleh Marcel, jika kakek—ayah dari Reina—memiliki banyak aset yang akan dimiliki oleh Bryan. Marcel hanya tahu sebuah perusahaan besar yang kini dikelola olehnya, memiliki bantuan dari ayah kandung Reina. Kakek Bryan serta Reina tidak membiarkan Marcell mengetahui apa yang dimiliki oleh Reina setelah mereka menikah, dan mungkin itu adalah hal yang ingin diketahui oleh Bryan. “Hay tampan, kau sendiri? Mau aku temani?” ucap seorang wanita, membuat Bryan menarik sudut bibirnya. Wanita yang ada di hadapannya adalah Jessica, yang beberapa menit lalu wanita itu sedang bersama seorang pria dengan cukup mesra. Bryan mencoba mengabaikannya, tidak tertarik sedikit pun untuk berbicara dengan wanita yang menurutnya murahan. “Kau Bryan, bukan? Kita benar-benar berjodoh bisa bertemu di sini,” ucap Jessica dan kini duduk di hadapan Bryan. “Apa aku memintamu duduk?” ucap Bryan dengan tatapan tidak sukanya. “Ah, kamu tidak suka aku duduk di sini? Apa aku harus duduk di pangkuanmu?” ucap Jessica dengan nada yang menggoda. Bryan menyilangkan kedua kakinya, seolah tidak pernah tertarik sedikit pun untuk membuat Jessica duduk di pangkuannya. “Seperti inikah wanita yang ingin dijodohkan denganku, yang dikatakan ‘wanita baik’? Mereka benar-benar bodoh!” Jessica tersinggung dengan perkataan Bryan. Wanita itu ingin mengamuk, tapi pria yang diincar olehnya pergi, meninggalkan sebotol gelas kosong di mejanya. “Kau, kau benar-benar pria yang membuatku tertarik, Bryan. Aku pasti akan mendapatkanmu,” gumam Jessica. Bryan yang keluar dari club malam itu, selain karena malas berurusan dengan Jessica, tapi juga karena ada seseorang yang mencoba menghubunginya. Nomor kakeknya di Jepang. Awalnya Bryan ingin menelepon balik, tapi sebuah pesan muncul dari kakeknya. “Kakek tunggu kamu di Jepang. Ada sesuatu yang harus Kakek katakan padamu, terutama penyebab kematian ibumu, dan Jepang adalah tempatmu.” Membaca pesan itu membuat Bryan berpikir jika mungkin ada hal janggal mengenai ibunya. Jika memang begitu, Bryan harus segera menemui kakeknya, tapi mengapa harus Jepang? Namun Bryan tidak mau berpikir banyak, karena ia ingat pernah berjanji untuk menemui kakeknya di Jepang setelah lulus dari SMA, dan mungkin ini adalah waktu yang tepat pula untuknya bisa meninggalkan keluarga yang selalu memaksa padanya, melarikan diri dari perjodohan yang tidak masuk akal. Bryan lekas kembali ke rumah, mengemasi barang-barang yang harus dibawa olehnya ke Jepang. Pria itu sudah benar-benar memutuskan untuk pergi meninggalkan ayahnya yang tidak pernah berpihak padanya. “Seseorang sudah menunggu di depan rumah.” Pesan masuk ke ponselnya membuat Bryan bergegas. Namun saat keluar dari rumah, Bryan melihat ayahnya sudah menunggunya dengan tatapan datarnya, tapi heran dengan Bryan yang sudah membawa koper serta ransel di punggungnya. “Mau ke mana kau, Bryan?” tanya Marcel. “Aku pergi ke mana itu bukan urusanmu,” ucap Bryan, tidak peduli lagi dengan kemarahan ayah kandungnya. Mendengar itu Marcel kembali marah. Ia bergegas melangkah ke hadapan Bryan, dan… PLAK! Tamparan kembali mendarat pada pipi kanannya. Bryan tersenyum tipis, meraba pipi yang kembali ditampar oleh Marcel. Kini ia memperlihatkan tatapan tajam pada ayahnya. Marcel kesal, Bryan tidak merasa takut padanya dan malah memberikan tatapan tajam seperti itu. “Kau pergi karena tidak ingin dijodohkan, dasar bodoh, kau akan menyesal!” “Aku tidak akan pernah menyesal!” ucap Bryan tegas. “Dengar, sekali kau keluar dari rumah ini, selamanya tidak akan kembali. Jangan harap kamu mendapatkan satu persen pun saham perusahaan dariku! Pergi dan jadilah gelandangan di luar sana!” Bryan tersenyum dan menegakkan dadanya. “Ya, aku akan pergi! Aku tidak akan pernah menyesal dengan semua keputusanku, tinggal di keluarga yang hanya mementingkan kepentingan seseorang. Kau, ayah dan suami yang bodoh! Aku bahkan malu memiliki ayah sepertimu! Nyonya Donita? Cih, w************n yang kau pikir wanita berkelas, sungguh hanya omong kosong!” desis Bryan, menatap Donita dengan tatapan meremehkan yang berdiri di belakang Bryan dengan senyum mengejeknya. “Kamu!” geram Marcel, suaranya tercekat karena Donita menahan tangan Marcel hingga Bryan benar-benar pergi. “Bryan, kau pergi, semua akan menjadi mudah!” batin Donita di balik tatapan sedihnya di hadapan Marcel.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
201.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.1K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
2.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.4K
bc

Kali kedua

read
221.5K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook