002

1126 Kata
Seorang wanita cantik dengan pakaian lusuh terlihat berlari dari beberapa orang yang sedang mengejarnya. Wanita itu pun memilih memasuki sebuah rumah yang terlihat kosong untuk bersembunyi, tanpa sadar ada seorang pria yang sedang memperhatikannya dengan tatapan dingin. Pria itu membiarkan wanita itu bersembunyi dari kejaran beberapa orang di luar sana, memberikan kode pada anak buahnya agar tetap diam, hingga wanita itu berbalik dan melihat pria tampan itu dengan tatapan takut. “Maaf… maafkan aku, aku kira tidak ada siapa pun di sini, aku… aku mengira ini adalah rumah kosong, aku… aku akan segera pergi dari sini,” ucap wanita itu gugup, takut, dan juga lelah karena napas yang hampir habis setelah berlari cukup lama. Wanita itu tidak menyangka ada seseorang di dalam rumah tua itu. Namun pada saat wanita itu berdiri dan akan keluar, pandangan wanita itu kabur, lalu pingsan di hadapan pria tersebut. “Tuan, apa kita buang saja wanita ini?” tanya seseorang di belakangnya, bersembunyi di kegelapan. Pria itu terdiam menatap wanita yang tergeletak pingsan di lantai, terlihat cantik, tapi juga rapuh. “Bawa wanita itu ke villa, dan selidiki tentangnya. Wanita itu masuk ke tempat ini, dan mungkin saja sempat melihat apa yang sudah kita lakukan!” titahnya pada pria yang menjadi tangan kanannya. “Baik, aku mengerti,” ucapnya dan lekas meminta seseorang untuk mengamankan wanita itu. Pria yang menjadi atasannya itu terlihat menatap dengan tajam pada pria dewasa yang sudah berlumuran darah di kepala serta mulutnya, bersimpuh di hadapannya. Wanita yang tadi masuk entah menyadari atau tidak apa yang terjadi di ruangan itu, maka dari itu pria itu memilih membawa wanita itu, memastikan tidak mengetahui apa pun. “Apa kau pikir kau akan selamat karena ada wanita datang tanpa diundang?!” tanya pria itu dengan sebilah pisau di tangannya. “Tolong ampuni aku, Tuan Bryan, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” ucapnya memohon. Bryan, pria itu sudah kembali ke Indonesia setelah kurang lebih 10 tahun lamanya Bryan tinggal di Jepang sejak masih berusia 18 tahun. Kini Bryan menjadi sosok yang ditakuti, seorang ketua mafia bernama Aokiba, yang berarti dingin dan berbahaya. Namun identitas sebagai ketua mafia tentu disembunyikan di negeri kelahirannya. Di negara ini Bryan hanya dikenal sebagai seorang CEO yang cukup disegani. Belum ada yang mengetahui akan kepulangan Bryan, baik ayah kandung atau ibu tirinya, Donita, setelah kurang dari sebulan pria itu sudah ada di negara kelahirannya. “Sayangnya aku tidak pernah memberikan kesempatan pada siapa pun,” ucap Bryan, berdiri dari duduknya dan langsung menusuk perut pria dewasa itu yang sudah berkhianat darinya, yang mencoba membocorkan rahasia penting perusahaan dan juga dirinya ke kubu lawan—ayah kandungnya, Marcell. Pria dewasa itu pun mati dengan luka tusukan yang dalam dan karena darah yang terus mengalir dari perutnya, sehingga kehabisan darah. “Bereskan semua ini, jangan sampai meninggalkan jejak!” titah Bryan pada anak buahnya. Di sebuah villa tidak jauh dari desa tempat tinggal wanita yang dibawa oleh Bryan. Kini Bryan berada di sebuah gazebo, sedang membaca sebuah laporan tentang penyelidikan wanita bernama Laura Anastasya. Wanita berusia 25 tahun yang tidak disayangi oleh keluarganya serta berniat dijual pada seseorang yang kaya di desa itu untuk dijadikan istri ketiganya, oleh ibu tiri bahkan ayah kandungnya sendiri. “Sungguh menyedihkan!” ucap Bryan. “Apa, Tuan akan menolongnya?” tanya tangan kanannya, Souta. “Menolong? Apa aku pria seperti itu?” “Mungkin, karena aku tahu, Tuan Bryan adalah pria yang baik,” seru Souta, membuat Bryan tersenyum tipis, lalu memperlihatkan kedua telapak tangannya. “Kedua tangan ini sudah membunuh puluhan atau bahkan ratusan orang, apa kau pikir aku adalah orang baik?” seru Bryan, membuat Souta tertawa. “Anda hanya membunuh orang yang bersalah, Tuan,” ucap Souta, membuat Bryan tersenyum tipis dan lalu menghisap rokoknya. “Wanita itu belum bangun?” “Sudah dan sedang membersihkan dirinya. Aku dengar dari perawat, wanita itu memiliki banyak luka lebam di tubuhnya, mungkinkah disiksa oleh keluarganya sendiri?” Bryan terdiam, pria itu jadi teringat bagaimana sikap ibu tiri dan juga ayah kandung terhadapnya yang tidak pernah berpihak padanya. Tidak peduli semua perasaannya hingga Bryan memilih pergi dan menemui kakeknya di Jepang, dan siapa sangka, menemui kakeknya justru membuat Bryan menjadi pria yang kuat seperti saat ini, yang tidak akan pernah tunduk pada siapa pun. Laura, wanita yang dibawa oleh Bryan, kini terlihat kebingungan karena berada di tempat yang tidak diketahui olehnya. Wanita itu berpikir jika dirinya telah diculik oleh orang-orang jahat dan akan dijual. Wanita itu terlihat ketakutan dan mencoba melarikan diri hingga keributan pun tidak terelakkan lagi di kamar yang ditempati oleh Laura. “Siapa kalian? Apa kalian akan menjualku? Aku… aku akan melaporkan kalian!” ucap Laura, membuat orang-orang di sekitarnya tertawa. Hingga Bryan datang padanya dengan tatapan datar, tapi Laura membalasnya dengan tatapan tajam. “Kau melupakanku?” tanya Bryan, membuat Laura mengerutkan keningnya. “Jangan bercanda, kapan aku pernah bertemu denganmu?!” kesal Laura. “Tuan, sepertinya dia tidak melihat apa pun tadi malam,” bisik Souta. “Tinggalkan aku berdua dengannya!” titah Bryan dan disetujui oleh semuanya. Laura semakin waspada karena takut pria itu akan melakukan sesuatu yang jahat padanya. “Apa yang akan kamu lakukan? Jangan macam-macam!” ucap Laura semakin waspada ketika hanya dirinya dan pria yang tidak dikenalnya berada di dalam kamar. Laura mengambil sebuah gunting yang tergeletak di atas meja dekat tempat tidurnya. Mengarahkannya pada Bryan dengan penuh percaya diri, walaupun rasa takut dalam diri Laura sangat terlihat oleh Bryan. Bryan mendekati Laura, membuat wanita itu mundur secara perlahan. Walaupun ada senjata di tangannya, tetap membuat wanita itu merasa takut pada sosok pria di depannya. “Jangan mendekat atau aku akan membunuhmu!” ancam Laura pada Bryan yang sama sekali tidak membuat pria berdarah dingin itu takut. “Benarkah? Aku ingin lihat apa kamu bisa membunuhku?” tanya Bryan dengan senyum seringainya. Bryan semakin mendekati Laura hingga wanita itu menabrak tembok di belakangnya karena terus melangkah mundur. Laura tersentak kaget, takut, tapi tetap mengarahkan gunting itu pada Bryan, tapi wanita itu memalingkan wajahnya karena tidak berani menatap Bryan. “Bukankah kamu ingin membunuhku? Jangan palingkan wajahmu, dan jangan perlihatkan wajah ketakutan itu pada lawannya. Jika begini, kau sendiri yang akan terbunuh,” ucap Bryan, membuat Laura langsung menatap wajah Bryan, tapi setelah itu Laura menutup kedua matanya karena takut. Dengan perlahan Bryan mengambil gunting yang dipegang oleh Laura. Kini Laura berada dalam kukungan Bryan dengan kedua tangannya. Wajah mereka begitu dekat, membuat jantung Bryan berdetak kencang, melihat Laura yang terlihat cantik natural tanpa polesan make up di wajahnya seperti wanita lainnya. “Ada apa dengan jantungku?” bisik Bryan dalam hatinya yang tidak pernah dirasakan sebelumnya pada wanita mana pun. Bryan menatap Laura, wanita yang untuk pertama kalinya mungkin akan meruntuhkan pertahanannya. “Tolong jangan bunuh aku, jangan jual aku…”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN