Bryan lekas menjauh dari hadapan Laura. “Kau lupa dengan kejadian semalam atau hanya pura-pura lupa?”
“Se… semalam?” gumam Laura gugup.
Hingga wanita itu teringat jika Laura telah melarikan diri dari kejaran keluarganya yang ingin menikahnya dengan juragan yang sudah memiliki dua orang istri. Laura yang melihat sebuah gedung tua yang dipilih kosong ternyata ada Bryan di dalamnya, hingga wanita itu pingsan dan bangun sudah berada di villa.
Laura pun tersenyum pada Bryan setelah mengingat kejadian semalam. “Maaf, aku kira kau orang jahat. Kau menolongku? Terima kasih.”
Sikap Laura berubah menjadi malu dan merasa bersalah setelah menuduh Bryan akan melakukan hal yang jahat padanya.
Sementara itu di Jakarta, Marcell—ayah kandung Bryan—terlihat sedang marah karena orang yang berkata mendapatkan informasi Bryan hilang tanpa kabar sampai saat ini. Marcell sangat membutuhkan informasi itu, karena untuk bisa menguasai sepenuhnya harta yang akan diwariskan pada Bryan. Saham yang dimiliki ibu Bryan—Reina—sudah diwariskan untuk Bryan Hirosh.
Marcell kesulitan untuk mendapatkannya, selain Bryan yang menghilang sejak kepergiannya 10 tahun lalu, juga karena Bryan ternyata bisa menghubungi pengacaranya agar wasiat itu tetap aman untuknya. Marcell akan lebih mudah jika mendengar kabar kematian dari Bryan. Awalnya Marcell pikir semua akan berjalan lancar ketika Bryan tidak ada kabar sehingga semua akan berpihak padanya menjadi miliknya, tapi nyatanya tidak. Bryan seolah sudah mempersiapkan segalanya.
“b******k! Ke mana orang itu sebenarnya?” geram Marcell.
“Tenanglah, daripada mencari orang itu, bukankah lebih baik kita mencari keberadaan Bryan? Apa mungkin dia sudah ada di negara ini?” ucap Donita.
“Kau benar, aku harus bisa menemukan anak itu! Ke mana dia? Jika orang itu hilang karena Bryan, apa anak itu memiliki orang kuat di belakangnya?” pikir Marcell.
“Aku kira begitu, karena sudah 10 tahun, anak itu tidak akan bisa bertahan hidup tanpa sedikit pun harta darimu. Kakeknya, apa mungkin dia adalah orang yang tidak biasa?”
“Entahlah, aku tidak tahu, karena Reina tidak pernah mengatakan apa pun tentang kakeknya Bryan, karena pernikahannya denganku tidak direstui oleh keluarganya. Harta yang didapatkan dari ayahnya hanya perusahaan yang kini aku kelola,” ucap Marcell.
“Jika begitu kita harus cari tahu latar belakang keluarga Reina!” usul Donita.
Seorang wanita cantik tiba-tiba datang, membuat mereka menghentikan percakapan mereka.
“Kalian membicarakan Bryan? Aku mendapatkan informasi tentangnya. Ternyata benar, keluarga dari ibunya bukan keluarga yang biasa. Tante, kuharap perjodohan ini bisa segera berjalan, kita sudah sama-sama dewasa,” seru Jessica sambil menyerahkan hasil temuannya pada mereka.
Sebuah artikel dari Jepang, jika Bryan Hiroshi telah menggantikan sosok pengusaha sukses di Jepang, bahkan juga Asia, yang bergerak di bidang teknologi serta retail. Bryan Hiroshi memutuskan untuk kembali ke Indonesia, Jakarta, pada tanggal 1 Agustus, dan berniat membangun perusahaan di negara kelahirannya.
“Dia jadi seorang CEO? Perusahaan apa yang dipegang olehnya?” tanya Donita.
“Asahi Nexus,” sambung Marcell.
“Itu… itu perusahaan besar,” ucap Donita tidak menyangka.
Marcell pun berpikir untuk bisa segera menemui Bryan, begitu juga dengan Jessica yang berharap perjodohan yang pernah ditunda selama 10 tahun bisa segera dijalankan kembali. Bryan pria tampan yang juga kaya raya, yang pasti banyak menjadi incaran wanita. Jessica yakin akan bisa mendapatkan Bryan.
“Kau harus segera menemui anak lelakimu, jangan sampai dia melupakanmu. Bayangkan perusahaan kita bisa menjadi semakin besar berkatnya,” ucap Donita antusias.
“Ya, kita harus menemukannya. Jessica, kau dapat informasi ini dari mana?” tanya Marcell tidak ingin mendengar informasi yang keliru.
“Temanku, dia baru kembali dari Jepang. Di Jepang, Bryan memang sangat dikenal untuk mereka di kalangan bisnis. Aku semakin tidak sabar bertemu dengannya,” seru Jessica.
“Jepang, ternyata selama ini anak itu berada di Jepang…” gumam Marcel.
Kembali pada Bryan, Laura kini tengah kebingungan untuk pergi ke mana karena wanita itu takut jika pulang ke rumah dan akan dinikahi dengan pria tua yang sudah beristri dua. Hingga Laura berpikir untuk meminta bantuan dari Bryan.
Di sisi lain Bryan sudah mendapatkan kabar jika keluarganya sudah mengetahui tentang dirinya yang memiliki perusahaan Asahi Nexus dan sudah berada di negara, berkat anak buahnya yang menjadi mata-mata di keluarganya, keluarga Ardel, nama belakang dari Marcell yang tidak dimasukkan ke dalam nama Bryan karena keinginan ayah dari Reina untuk mendapatkan perusahaan yang kini dikelola oleh Marcell.
“Perjodohan, mungkin mereka ingin dilanjutkan lagi karena ingin menguasai seluruh harta, Anda?” ucap Souta.
Bryan tersenyum tipis. “Terus awasi mereka dan jika datang ke perusahaan, tolak kedatangan mereka!” Souta pun mengangguk mengerti.
Laura datang pada mereka, membuat Bryan menatapnya, dan Souta memilih pergi meninggalkan mereka berdua.
“Tuan Bryan… bo… bolehkah aku… aku meminta tolong sekali lagi?”
“Katakanlah!” tegas Bryan.
“Aku… aku berniat menemui keluargaku… tapi aku takut akan dinikahkan dengan pria yang sudah memiliki dua orang istri.” Laura menghela napasnya sejenak, ia merasa takut dan ragu untuk melanjutkan perkataannya.
Apakah dia benar untuk meminta tolong pada Bryan?
Tapi menurutnya tidak ada jalan lain lagi untuk meminta tolong, karena Laura tahu orang di desa tidak akan membantunya.
Laura menggigit bibir bawahnya, membuat Bryan yang menatapnya kembali tersentak. Jantungnya kembali berdetak cepat, Laura wanita itu mampu menggoyahkan perasaan. Apa mungkin Bryan menyukai Laura?
Namun pria berdarah dingin itu tidak pernah merasakan cinta, perasaan ini entah apa yang dirasakan olehnya pada wanita di depannya, kasihan atau cinta?
Karena Bryan baru beberapa kali bertemu dengannya, di hari yang sama.
“Bisakah… bisakah… kamu… berpura-pura menjadi pacarku?” ucap Laura dengan gugup.
“Setelah itu, aku akan menghilang dari hidupmu, aku janji. Aku hanya ingin memiliki alasan untuk menolak perjodohan yang tidak masuk akal ini, karena aku merasa dijual oleh keluargaku sendiri,” ucapnya kembali.
Setelah mengatakan itu Bryan belum menjawab apa pun dan hanya menatap wanita di depannya.
“Laura Anastasya? Kau sudah tahu namaku?”
Laura menggeleng, sejak pertemuan mereka Laura tidak tahu apa pun tentang pria di depannya.
“Lalu mengapa kamu mau minta tolong padaku?”
“Aku… maafkan aku, aku hanya putus asa, entah pada siapa aku harus meminta bantuan, dan hanya kau yang aku pikir bisa membantuku, orang desa, mereka tidak peduli padaku,” ucap Laura, meneteskan air matanya.
Bryan menatap Laura yang menangis seolah sudah putus asa pada hidupnya. Nasib yang hampir sama dengan apa yang Bryan alami, selain kakeknya tidak ada orang terdekat yang mau menolongnya. Jika tidak ada kakeknya, mungkin Bryan sudah hidup di bawah tekanan ayahnya.
Apakah Bryan akan menolong Laura atau membiarkan Laura menghadapi nasibnya sendiri?