004

1254 Kata
“Maaf jika aku lancang padamu, aku yang bahkan tidak tahu siapa namamu,” ucap Laura sedih, merasa putus asa dan merasa tidak ada harapan untuk bisa mendapat bantuan dari pria di hadapannya. Melihat bagaimana sikap Bryan yang tidak peduli, menatapnya dengan tatapan datar. “Bryan, namaku, Bryan Hiroshi. Aku akan menolongmu,” ucap Bryan tanpa pikir panjang. Mungkin saat ini adalah pertama kalinya yang dipikir Bryan bisa berbuat baik pada orang lain. Kedua mata Laura terlihat berbinar, ia sangat senang jika Bryan akan membantunya. “Terima kasih, terima kasih, Tuan Bryan…” “Berhasil atau tidak itu tidak akan menjadi urusanku!” seru Bryan, membuat Laura mengangguk dan tersenyum manis padanya. Hal itu kembali membuat Bryan merasa hangat, seolah ia ikut bahagia dengan kebahagiaan Laura. Bryan memasuki kamarnya, diikuti oleh Souta yang mengetahui Bryan akan membantu Laura. Souta pun merasa heran mengapa Bryan sampai mau membantu Laura, membantu urusan pribadi orang lain, yang tidak pernah Bryan lakukan selama ini. “Apakah anda yakin akan membantunya?” tanya Souta, sedikit merasa heran pada tuannya yang tiba-tiba mau membantu Laura, wanita yang baru dikenalnya. “Aku tidak pernah menarik kata-kataku. Lagipula rumah yang Laura tempati dekat dengan kampung halaman ibuku, aku akan ke sana selepas membantu urusan wanita itu. Setelah itu kita kembali ke Jakarta, aku yakin di sana ayahku pasti sudah membuat keributan untuk bisa menemuiku,” ucap Bryan. Souta mengangguk mengerti, tapi bagi Souta ada hal yang aneh dalam tindakan Bryan kali ini terhadap wanita yang secara tiba-tiba datang dan meminta bantuan padanya. Bryan seolah memiliki hati pada wanita tersebut. Souta pun berharap kelak Bryan benar-benar merasakan jatuh cinta, menikah, dan memiliki keluarga untuknya. Keesokan harinya, di pagi hari, mereka sudah berada dalam perjalanan untuk bertemu dengan keluarga Laura. Wanita yang duduk di samping Bryan tampak gugup, untuk menghadapi keluarganya yang selalu memaksa atas kehendak mereka, tidak peduli Laura bahagia ataupun tidak. “Mengapa kamu tidak lari saja dan melupakan keluargamu yang tidak menyayangimu?” tanya Bryan, memecah keheningan. “Aku ingin, tapi aku tidak tahu mau ke mana, aku… tidak punya siapa-siapa lagi selain mereka,” ucap Laura. “Jika mereka tidak peduli dengan hubunganmu denganku, maka kamu akan tetap dinikahkan dengan pria pilihan mereka, kau bodoh jika akan tetap di sana!” seru Bryan. Laura pun terdiam, apa yang dikatakan oleh Bryan ada benar, benar-benar bodoh jika terus bertahan dengan keluarga yang hanya memanfaatkannya. Tapi jika ia memilih pergi, apa itu adalah hal yang benar? Laura tidak tahu harus ke mana dan tidak tahu harus pada siapa Laura meminta bantuan. Bryan yang kini ada di sebelahnya adalah orang yang baru dikenalnya, meskipun saat ini pria itu membantunya, namun setelah semua ini itu semua akan sama saja, Laura yang akan menghadapi nasibnya sendiri, berlari dan melawan ketidakadilan keluarganya, hingga ia merasa tidak sanggup lagi. Tidak terasa mereka pun sudah sampai di tempat yang dituju, kediaman Laura. Rumah yang tidak begitu besar, terlihat ramai karena masih ada beberapa orang yang mencari keberadaan Laura, keluarganya, dan termasuk dari orang-orang suruhan dari pria yang ingin membuat Laura menjadi istri ketiganya. “Tuan, apa aku harus kirim beberapa orang?” tanya Souta yang duduk di samping pengemudi. “Tidak perlu, hanya orang-orang lemah, aku sendiri pun bisa melawan mereka,” tolak Bryan, dan Souta pun mengangguk mengerti. “Bryan, maafkan aku, sepertinya kamu tidak perlu membantuku, karena mungkin akan sama saja setelah ini selesai. Cukup sampai di sini, dan terima kasih sebelumnya, maaf merepotkanmu,” ucap Laura, mendadak berubah pikiran, seolah kini wanita itu pasrah dengan hidupnya. Laura keluar dari mobil sendiri, membuat Bryan tersenyum tipis dan membiarkan Laura bertindak semaunya. Bryan tetap melihat atau mengawasi di dalam mobil, karena walaupun Laura sudah berkata tidak perlu membantunya, tapi sesuai apa yang dikatakan oleh Bryan jika pria itu akan tetap membantu Laura, menunggu waktu yang tepat. Wanita itu berjalan perlahan mendekati rumahnya, rasa takut yang dirasakan Laura terlihat, tapi wanita itu tetap memberanikan diri. “Laura, dari mana saja kau? Bisa-bisanya kau lari dan kembali tanpa merasa bersalah!” sungut seorang wanita, ibu tiri dari Laura Anastasya. “Aku tidak mau menikah!” ucap Laura dengan tegas, jika dia menolak keputusan dari ibu tiri serta ayah kandungnya. “Kau tidak bisa menolak! Tuan Arifin sudah memberikan mahar 100 juta serta rumah yang akan kamu tempati nanti!” ucap ibu tirinya, membuat Laura menggelengkan kepalanya keras. “Aku tidak peduli, aku tidak mau menikah, aku tidak mau menjadi istri ketiga! Anakmu, anakmu bisa dinikahkan dengannya, jangan aku!” sergah Laura. Anak dari ibu tiri Laura melangkah mendekati ibunya dan menatap sengit pada Laura, “aku sudah punya pacar. Dia kaya raya, bagaimana mungkin aku yang menikah dengan Tuan Arifin, jangan asal bicara kau, Laura. Masih untung kita mencarikan lelaki kaya, jika tidak kau akan menjadi perawan tua, tidak akan ada yang mau denganmu!” “Laura…” Ayah kandung Larua menghampiri anaknya, tatapan sedih tapi penuh harap Laura bisa mengikuti permintaan mereka. “kita terjerat hutang cukup banyak, puluhan juta, mengapa kamu tidak mau membantu kami. Cukup menikah, kamu pun bisa hidup enak.” “Ayah menjualku, aku tidak menyangka, aku tidak mau menikah, aku ingin menikah dengan pria yang aku cintai!” sergah Laura, tangisnya pecah ketika ayahnya ikut bicara memohon padanya untuk menikah dengan Tuan Arifin. “Lagipula hutang yang ayah miliki bukan sepenuhnya karena aku, itu karena ayah terlalu memanjakan mereka, aku… aku sudah cukup menderita. Jangan limpahkan semua padaku!” PLAK! ayah kandung Laura menamparnya dengan cukup keras, membuat Laura seketika memalingkan wajahnya, sudut bibirnya berdarah, tatapan Laura pun kini berubah menjadi benci. “Jangan asal bicara kau, Laura!” geram ayah kandung Laura. Ibu dan anak tiri Laura tersenyum licik, mereka tentu senang karena ayahnya lebih mendukung mereka daripada anak kandungnya sendiri. Laura teringat kata-kata Bryan jika dia bodoh bertahan di keluarga yang sama sekali tidak peduli perasaannya. Sakit… perasaan wanita itu teramat sakit di hatinya. Laura mengambil sebuah pisau kater di dalam tasnya, lalu mengarahkannya pada lengannya. Hal itu mengejutkan semua orang, bahkan Bryan dan juga Souta yang melihatnya dari kejauhan. Laura yang mungkin sudah mempersiapkan hal itu sejak di villa, wanita itu yang mungkin sadar jika apa pun yang diperbuat olehnya akan sama saja hasilnya. Laura tetap harus mengorbankan kebahagiaannya untuk keegoisan mereka. “Apa yang kau lakukan, Laura?!” ucap Ayah kandung Laura. “Hentikan pernikahan ini, hentikan semuanya, atau aku akan mati di hadapan kalian!” “Kau gila, Laura! Ini semua demi kebaikanmu!” desis ibu tiri Laura, sedangkan anak tirinya hanya mampu terdiam, tapi ada senyum tipis darinya yang seolah senang melihat Laura semakin menderita yang akan mati dengan sia-sia. “Kabaikanku? hahaha, itu semua bohong! Hutang kalian yang sampai puluhan juta itu karena kehidupan kalian yang ingin dianggap kaya, sekarang setelah semuanya hilang, tidak ada lagi yang bisa membuat kalian tampil memukau, dan kalian ingin mengorbankanku, mengapa tidak Naura saja yang kalian jual pada Tuan Arifin, bukankah itu semua karena ulah kalian berdua, aku bahkan tidak merasakan sepersen pun harta selama ini, sungguh konyol! Ayah, aku kira kau akan ada di pihakku, tapi ternyata tidak! Kau sama saja seperti mereka.” “Sekarang apa gunanya aku hidup jika hanya untuk dimanfaatkan kalian, tidak peduli tentang kebahagiaanku? Aku bodoh karena berpikir jika kalian akan menyayangiku, bodoh!” Laura mengeluarkan semua isi hatinya, air matanya menetes, menatap ayah kandung yang hanya mampu terdiam. Laura tersenyum tipis, ia mulai menggerakkan pisau kater di tangannya, dan menyayat nadi di lengannya. Tapi ada tangan kekar yang tiba-tiba menahannya hingga hanya meninggalkan goresan kecil di tangan Laura. “Kau–?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN