005

1181 Kata
“Bodoh!” bisik Bryan, menatap Laura. Suara Bryan terdengar dingin, namun sorot matanya yang menatap Laura kini dipenuhi kecemasan. Ia mencengkeram pergelangan tangan Laura, menghentikannya tepat sebelum bilah kater menggores lebih dalam. Tangan Bryan terasa hangat, membuat Laura seketika tersadar dari keputusasaan yang menggelapinya. "Lepaskan aku!" Laura meronta, air mata mengalir membasahi pipinya. "Kenapa kau kembali? Pergilah! Ini bukan urusanmu, aku sudah bilang kamu tidak perlu membantuku, aku tidak mau kamu ikut ke dalam masalahku!" "Aku tidak pernah menarik kata-kataku," jawab Bryan, suaranya kini lebih tenang. Ia menepis kater dari tangan Laura, lalu menatap tajam ke arah keluarga Laura. "Kalian sungguh keterlaluan. Berani sekali kalian meremasnya, dan sekarang kalian ingin menjualnya demi harga diri kalian yang busuk, kau ayah kandungnya? Tapi kulihat kau lebih terlihat seperti ayah tiri yang kejam." Ayah Laura, yang masih terpaku kaget, kini maju mendekat. "Siapa kau?! Jangan ikut campur urusan keluarga kami!" "Bryan," jawab Bryan datar. "Calon suami Laura." Seketika, suasana hening. Baik keluarga Laura, orang-orang suruhan, bahkan Souta yang masih berdiri tidak jauh dari mereka, terkejut mendengar ucapan Bryan. Laura sendiri menatap Bryan dengan pandangan tak percaya. “Calon suami? Pria ini benar-benar gila!” batin Laura, tidak percaya Bryan bisa berkata seperti itu. “Ya, ini hanya pura-pura,” batin Laura kembali. Ibu tiri Laura tertawa sumbang. "Omong kosong! Anak ini sudah kami jodohkan dengan Tuan Arifin, dia…" "Tuan Arifin hanyalah pria tua kaya yang haus kekuasaan. Dia bahkan sudah punya dua istri. Kalian memaksa Laura untuk menikah dengannya hanya agar kalian bisa lepas dari hutang, yang bahkan uang itu tidak dirasakan oleh Laura, benar-benar keji," potong Bryan, menyentak. Matanya menatap tajam satu per satu anggota keluarga. Naura, saudara tiri Laura, menatap Bryan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Pria ini tampan, gagah, dan berani. Jauh berbeda dari Tuan Arifin yang hanya berani mengirim orang-orangnya, bahkan sangat lebih baik dari kekasihnya saat ini. Rasa iri mulai memenuhi hati Naura. “Siiapa pria ini?” batin Naura, penuh tanya dan rasa penasaran. "Souta," Bryan memanggil. "Bayarkan hutang mereka, lebihkan, dan Laura menjadi milikku!” Souta segera mengambil uang yang disebut oleh Bryan di dalam mobil. Ia membawa sebuah koper hitam kecil, lalu menyerahkannya pada Bryan. Bryan membuka koper itu, memperlihatkan tumpukan uang yang sangat banyak, membuat orang-orang yang ada di depannya membulatkan kedua matanya, termasuk Laura yang tidak diduga Bryan akan membayar hutang keluarganya dengan uang yang sangat banyak. “Tidak, dia bukan membantuku, tapi membeliku… menjadi miliknya?” batin Laura, seolah kini ia terperangkap dalam sebuah lorong yang gelap yang tidak terlihat ujungnya, akankah ada cahaya atau hanya akan ada kegelapan? Bebas dari satu masalah, ia masuk ke dalam masalah baru. “Aku rasa ini lebih dari cukup, dan Laura bukan lagi milik kalian yang bisa kalian atur sesukanya, jangan pernah lagi mengusiknya!” ucap Bryan, nadanya terdengar dingin, tapi tegas, seolah apa yang dikatakan olehnya bukan sebuah omong kosong yang bisa mereka hiraukan. Kini pria dingin itu menatap Laura, seringai pun terbit di wajahnya. “Kau milikku!” Deg … Perasaan Laura merasa tidak tenang, entah apa yang akan terjadi ke depannya, tapi untuk saat ini mungkin ia sudah benar-benar terbebas dari keluarganya yang tidak pernah menyayanginya. “Siapa kau sebenarnya?” tanya Ayah Laura, penasaran. “Aku… siapa aku? Aku yakin anda tidak mau mengetahuinya,” ucap Bryan dengan seringainya, membuat keluarga Laura terdiam. Begitu pun dengan Laura, tatapannya pada pria di hadapannya kini terlihat takut. Laura seolah baru menyadari jika ia salah meminta bantuan pada pria yang penuh misteri. Siapa Bryan dan apa yang membuat Laura merasa takut pada pria di depannya kini, padahal beberapa menit lalu Laura sudah merasa yakin jika Bryan adalah orang yang baik yang mau menolongnya tanpa pamrih, tapi kini ia merasa semua itu salah. Sedangkan Tuan Arifin dan orang-orang yang bersama dengannya pergi meninggalkan keluarga Laura, wanita yang dikira bisa dinikahi olehnya, tapi ternyata semua itu gagal karena pria yang bersama Laura terlihat lebih kaya dan kuat, dan ada hal yang membuatnya yakin jika dia tidak bisa melawan Bryan. Sementara itu, ibu tiri Laura kini tidak peduli lagi dengan Laura. Ibu tirinya itu lebih tertarik dengan uang yang tersimpan di dalam koper hitam yang diberikan oleh Bryan, bersama anak kandungnya, Naura. Namun, Naura yang semakin penasaran dengan Bryan membuatnya merasa harus bisa mendekati Bryan, karena jika pria itu bisa dengan mudah memberikan uang yang banyak, maka tidak menutup kemungkinan hartanya jauh lebih banyak yang tidak bisa ia kira. “Bu, pria itu sepertinya sangat kaya, lihatkan dia saja begitu sangat mudah mengeluarkan uang sebanyak ini, artinya… hartanya bisa saja miliaran atau bahkan triliunan… bagaimana bisa Laura mengenalnya, haruskah aku yang dekati?” bisik Naura pada ibunya. “Kau benar, coba saja,” seru ibu tiri Laura yang merasa Narua pasti akan bisa menggeser posisi Laura di samping Bryan. Namun sayangnya, belum sempat mencoba, Bryan sudah menarik tangan Laura untuk pergi dari tempat itu. Naura pun berdecak kesal, tapi ia merasa jika ia bisa melakukannya di lain hari. Sementara itu, Laura hanya terdiam sepanjang jalan perjalanan mereka, begitu pun dengan Bryan yang bahkan sejak tadi hanya menatap ponselnya. Hingga mobil itu berhenti tepat di depan rumah yang sudah lama kosong, tapi terlihat bersih dan rapi, seolah tidak pernah ditinggal lama oleh pemiliknya. Rumah ibu kandung Bryan, yang perna besar di desa kecil itu, desa yang juga ditinggali oleh Laura. “Jangan ikuti aku!” titah Bryan pada Souta dan Laura. Bryan berjalan sendiri memasuki rumah itu, sementara Laura menatap pria itu dari dalam mobil. Hingga ia teringat akan perkataan dari Bryan yang membuatnya penasaran. “Tuan, maaf aku ingin bertanya,” ucap Laura pada Souta. Souta mengangguk, seolah mempersilakan Laura untuk berbicara. “Ini… ini soal perkataan Bryan, apakah dia benar akan menikahiku?” tanya Laura dengan gugup. Souta tersenyum. “Bukankah, Nona, sudah dengar apa yang dikatakan oleh Tuan, jika dia tidak akan pernah menarik perkataannya.” “Tapi…” ucap Laura takut, ia tidak bisa meneruskan perkataannya. Semua sangat membingungkan baginya, hal yang tidak diharapkan olehnya, bebas dinikahi dengan Tuan Arifin, tapi bukan berarti ia harus menikahi dengan pria lain yang bahkan tidak dikenal olehnya. “Aku kira itu hanya pura-pura,” bisik Laura dalam hatinya. “Aku sarankan, Nona tidak lari dari apa yang sudah ditetapkan oleh Tuan, jika tidak ingin ada hal yang buruk terjadi,” ucap Souta menasihati Laura. Laura terdiam, ia tidak begitu mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Souta. Walaupun terbesit dalam benaknya untuk menentang apa yang Bryan inginkan untuk menikah dengannya. Sedangkan Bryan yang kini sudah berada di dalam rumah peninggalan satu-satunya dari ibu kandungnya. Bryan menatap sebuah foto ibunya yang terlihat tersenyum bahagia. “Kau terlalu cepat pergi, Bu. Benar-benar kejam padaku.” Bryan berdecak, wajahnya menatap atap-atap rumah, seolah ia tidak ingin mengeluarkan air matanya. Hingga pria itu kembali menatap ibunya, dan dengan tatapan yang berbeda, tatapannya kini tajam, seolah memperlihatkan kebencian yang mendalam. “Aku harap ibu tidak akan marah aku menjadi seperti ini, karena aku akan membalas semua rasa sakitmu, pria itu tidak layak untuk bahagia dan menikmati apa yang seharusnya ibu nikmati! Apalagi apa yang ibu berikan dirasakan oleh wanita iblis itu!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN