Laura, lama menunggu di dalam mobil seorang diri, sementara Souta memilih menunggu di luar mobil sambil menghisap rokoknya. Wanita itu terlihat kesal, dengan bryan tidak kunjung keluar dari rumah tersebut, karena ada sesuatu hal yang harus segera dibicarakan, meluruskan apa yang sudah dikatakan oleh Bryan jika pria dingin itu akan menikahinya. Laura yang berharap itu hanya omong kosong belaka.
Menikah dengan pria seperti Bryan yang tidak tahu siapa pria itu? batin Laura tidak habis pikir dengan apa yang Bryan katakan di depan ayah kandungnya.
Namun, berkatnya, Laura bisa terbebas dari mereka, yang hanya ingin mengambil keuntungan darinya.
Laura yang merasa yakin jika apa yang dikatakan oleh Bryan bukanlah kesungguhannya. Siapa dia dan siapa Bryan, mereka tidak saling mengenal, apalagi Laura merasa jika Bryan adalah orang kaya karena dengan mudahnya memberikan uang satu koper pada keluarganya, mereka sangat berbeda, tidak mungkin bisa bersatu.
Laura sempat berpikir untuk mengganti uang yang diberikan Bryan, tapi berapa jumlahnya dan ia pikir itu tidaklah sedikit. Kini wanita itu dilanda kebingungan, karena tidak tahu harus berbuat apa, karena untuk menikah dengan Bryan, Laura merasa itu bukan hal yang bagus.
Hingga Bryan pun kembali dengan wajah datarnya, yang membuat nyali Laura kemudian menciut karena aura Bryan yang kuat seolah tidak bisa dibantah, seperti apa yang dikatakan oleh Souta sebelumnya.
Mereka pun kembali ke Villa sebelumnya, Laura yang berjalan di belakang Bryan dengan ragu mengeluarkan suaranya. "Bryan... Tuan Bryan... bisakah kita bicara?"
Bryan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Laura datar, sementara Laura terlihat menunduk takut.
"Sebelum ini, kau berani pada mereka, menegakkan badanmu bahkan akan menyayat tanganmu sendiri, tapi sekarang kau akan bicara padaku dengan menundukkan kepala?"
Laura menggigit bibir bawahnya, dengan ragu ia pun menatap wajah Bryan. "Tu.. Tuan..."
"Bryan!" potong Bryan meminta agar Laura memanggilnya Bryan.
"Bry... Bryan.. apa kita benar akan menikah? itu hanya omong kosong darimu bukan?" tanya Laura memberanikan diri.
"Jika tidak menikah apa kau sanggup membayar kembali uang yang aku berikan pada keluargamu?"
"Aku..."
"Dua milyar, itu jumlah uang yang aku berikan pada mereka!"
Kedua bola mata Laura membulat sempurna, mendengar jumlah uang yang Bryan berikan pada mereka, mengapa harus sebanyak itu uang yang diberikan Bryan pada mereka? Hal itu akan semakin menyulitkannya.
Melihat diamnya Laura membuat Bryan kembali melangkahkan kakinya.
Pria itu tidak peduli dengan apapun yang Laura rasakan, entah itu marah, malu, kesal atau yang lainnya. Baginya yang jelas Laura kini sudah menjadi miliknya, bukan karena sebuah perasaan tapi karena ada hal yang ingin dipastikan olehnya, apa dia menyukai wanita itu, karena hanya padanya jantungnya berdetak.
“Souta, memerintahkan seseorang untuk menyiapkan atau berikan semua kebutuhan Laura!” titah Bryan pad Souta.
Souta mengangguk patuh. “Apa, Tuan benar akan menikah?”
Bryan terdiam, menatap Souta datar, “bukankah kamu tahu, aku tidak pernah meragukan perkataanku atau menarik perkataanku”
Mendengar hal itu membuat Souta tidak bisa berkata-kata lagi, Bryan adalah bos yang tidak bisa dibantah oleh siapapun.
“Cari penghulu, aku akan menikah disini, dan jangan sampai berita pernikahanku tersebar!” titahnya kembali.
Souta pun lekas pergi dari kamar Bryan dan segera menjalankan semua perintah bosnya.
****
Laura yang juga berada di dalam kamarnya, hanya bisa termenung dengan semua sudah terjadi.
“Tidak adakah yang bisa aku lakukan?” gumam Laura. Mengingat bagaimana Bryan yang serius untuk menikah dengannya.
Laura terlihat menghela napas panjangnya, seolah nasib buruknya akan terus didapatkan olehnya, setelah lepas dari keluarga yang tidak menyayanginya tapi kini ia terjerat oleh pria yang sangat misterius, entah apa yang ada dalam pikiran Bryan dan apa tujuan sebenarnya, mengapa Bryan harus membantunya sampai mau menikah?
Semua itu benar-benar sangat membingungkan dan sama sekali tidak masuk ke akal sehatnya, karena yang ia tahu tidak ada orang yang mau menolongnya sampai berbuat seperti itu, bahkan dengan mudah mengeluarkan uang dua milyar secara cuma-cuma, walaupun dengan syarat menikah?
Namun, tetap saja, pernikahan seharusnya terjadi sekali semasa hidupnya dan hal yang sakral untuk dilakukan bukan dengan sebuah pertukaran atau perjanjian.
Laura berdecak mengingat keluarganya, “mereka pasti sedang bersenang menikmati uang yang diberikan oleh Bryan. Aku seperti dibeli olehnya.”
Sementara itu di keluarga Laura, apa yang dipikirkan oleh Laura benar apa adanya, mereka tidak memikirkan bagaimana nasib Laura saat ini, senang atau sedih. Bagi mereka adalah bisa bersenang-senang dengan uang dengan jumlah banyak tersebut. Walaupun ada rasa iri dalam diri Naura, saudara tiri Laura, karena bisa menikah dengan pria tampan dan kaya raya.
“Siapa pria itu, apa mungkin dia memiliki identitas yang tidak biasa?” tanya Ayah kandung Laura, Hadi.
“Jika itu benar, maka kita tidak boleh benar-benar melepasnya, kita juga harus mengambil keuntungan darinya, Hadi. Enak saja dia bisa hidup enak tapi kita masih di desa kumuh ini.” gerutu Mirna, ibu tiri Laura.
“Benar, ah aku juga ingin mendapatkan pria seperti itu, Bryan, dia tampan dan kaya. Ayah, Ibu bagaimana jika kita mengikuti Laura yang mungkin akan segera pindah ke kota?” usu Naura pada orang tuanya.
“Tidak bisa! Jika kita akan tinggal di kota, kita harus mendapatkan lebih dulu pekerjaan yang layak, kamu pikir uang ini akan mencukupi segala kebutuhan kita selamanya? lagipula apa kalian yakin, Laura akan hidup bahagia dengan pria itu? bisa saja dia akan dicampakan, kalian tahu sendiri, orang kaya itu seperti apa?” ucap Hadi.
“itu benar, aku yakin dia di jual, bagaimana mungkin ada orang yang dengan mudah memberikan uang sebanyak ini,” seru Mirna membuat Naura tertawa.
“Jika begitu, tidak usah pikirkan lagi Laura, kita senang-senang saja,” ujar Naura membuat Hadi dan Mirna tersenyum.
Keesokan harinya, Laura yang terkejut dengan beberapa wanita berada di dalam kamarnya, membangunkannya. "Ada apa?"
"Bangunlah, Nona, segeralah bersihkan diri, Anda. Bukankah, Nona akan menikah hari ini?" ucap seseorang membuat Laura tersentak kaget.
"Me … menikah, hari ini?"
Setelah membersihkan diri, Laura dirias oleh MUA untuk persiapan pernikahan yang sederhana di Villa, tidak ada undangan hanya sebuah pernikahan yang dihadiri oleh orang-orang terdekat Bryan. Laura tidak menyangka jika Bryan akan benar-benar melakukan hal ini, bahkan tanpa meminta ia untuk berpikir.
Bryan memasuki kamar Laura yang sudah siap dengan gaun pernikahannya, Laura yang sejak tadi hanya melamun dan tidak melihat ke arah cermin, sehingga ia tidak tahu jika dirinya terlihat sangat cantik, karena ia tidak peduli dan apapun yang diinginkan Laura hanyalah pernikahan mereka tidak akan berlangsung, tapi apa yang bisa dilakukan olehnya?
Tidak ada, semua sudah disiapkan Bryan tanpa persetujuannya.
Bryan terpaku menatap Laura terpesona dengan gaun pengantin yang dipilih olehnya, jantungnya kembali berdetak seolah ia sadar apa yang kini dirasakan pada wanita di depannya.
"Bryan..." ucap Laura saat sadar pria itu kini sudah berdiri di depannya.
"Kau milikku, Laura Anastasya!"