007

1124 Kata
Pernikahan yang berlangsung singkat, tapi tidak ada rona kebahagiaan pada sepasang pengantin tersebut, apalagi Laura yang hanya mampu menundukkan kepalanya. Entah apa dia harus bahagia atau sedih, bahagia karena bebas dari keluarga yang selalu memanfaatkannya, sedih karena harus menikah dengan pria yang tidak dikenalnya, dan karena sejumlah uang yang diberikan oleh Bryan pada orang tuanya. “Dibeli? mungkin itulah statusku? istri, bukan?” Laura tersenyum miris setelah kata sah itu terdengar. Tidak ada pesta dalam pernikahan itu, setelah kata sah terdengar kini mereka hanya memakan makanan yang sudah dipesan oleh anggota Bryan. “Apa kau tidak bahagia menikah denganku?” tanya Bryan tiba-tiba. “Kau bahagia?” tanya balik Laura, alih-alih menjawab pertanyaan dari Bryan. “Tidak, tapi setidaknya aku kini memiliki seorang istri,” jawab Bryan dengan senyum tipisnya. “Kau boleh melakukan apapun, tapi kau tetap harus ingat statusmu!” tambah Bryan membuat Laura terdiam seolah berpikir apa yang harus dilakukan olehnya. “Bersiaplah, kita akan ke Jakarta,” ujar Bryan dan lalu pergi meninggalkan Laura di meja makan. “Jakarta?” gumam Laura. Wanita itu merasa sedih karena harus meninggalkan kampung halamannya. Tapi ia juga tidak bisa membantah apa yang diinginkan oleh suaminya. Sebagai istri, Laura memang harus mengikuti apa yang diinginkan atau perintah dari suaminya. Di Jakarta, Marcel terlihat kesal karena tidak bisa memasuki perusahaan anaknya, Bryan, di pusat kota. Meskipun sudah mengatas namakan Ayah dari Bryan Hiroshi, tapi mereka tetap tidak mengizinkan Marcel masuk ke perusahaan itu. Marcel tidak percaya jika Bryan tidak ada di perusahaan, sehingga terus memaksa masuk dan berniat mencari Bryan. “Tuan, mohon untuk tidak membuat keributan, jika memang Anda, Ayah dari CEO kami, Anda boleh menghubunginya, agar kami bisa memberikan akses terhadap Anda. Dan lagi pula Tuan Bryan sedang tidak ada di tempat. Mendengar itu membuat Marcel semakin kesal,k karena ia sendiri tidak bisa menghubungi anak laki-lakinya, yang sudah lama tidak ditemui olehnya. Hingga akhirnya Marcel memilih kembali ke perusahaannya dan akan mencari cara lain untuk bisa menemui Bryan. “b******k, anak itu benar-benar kurang ajar padaku!” geram Marcel yang masih tidak bisa menemui anak laki-lakinya. “Tuan…” ucap seseorang, Lukas sebagai tangan kanannya. “Ada apa?” tanya Marcel. “Pak Retno, menghilang. Dia adalah orang yang berkata mengetahui informasi tentang Bryan, tapi sampai saat ini ketika saya tunggu untuk memberikan informasi langsung pada Anda, Pak Retno menghilang tanpa jejak,” jelasnya membuat Marcel menatap Lukas tajam. “Menghilang?” heran Marcel karena itu sangatlah janggal jika terjadi hal yang aneh. Di kota ini, Marcel adalah orang yang juga cukup dihormati, dengan perusahaan yang besar, karena banyak yang tergantung padanya, dan jika ada yang berkhianat dan melawannya, tentu akan membuat orang itu jatuh ke dasar, bahkan akan dengan mudah membuatnya masuk ke dalam penjara. Namun kini, orang yang akan bersekutu dengan tiba-tiba hilang tanpa jejak. Siapa yang berani melawannya? jika mungkin terjadi sesuatu pada orang tersebut. “Kau sudah mencarinya?” tanya Marcel kemudian. “Sudah, bahkan keluarganya tidak ada yang tahu keberadaanya, Pak Retno sudah dua minggu bekerja di perusahaan Asahi Nexus, karena itu ia berkata memiliki informasi tentang Bryan bahkan tentang perusahaannya. Namun setelah beberapa hari kemarin, Pak Retno menghilang tanpa kabar,” jelas Lukas kembali. Mendengar itu membuat Marcel semakin kebingungan, apa mungkin ada orang yang tidak ingin Pak Retno memberikan kabar tersebut? “Cari tahu keberadaan Bryan, untuk Retno, kau berikan kompensasi untuk keluarganya, dan jika keluarganya menemukan informasi mengenai apa yang diketahui oleh Retno segera katakan padaku!” titahnya pada Lukas. *** Keesokan harinya, Laura dan Bryan sudah sampai di Jakarta, sampai di rumah besar Bryan. Laura terlihat terdiam ketika melihat rumah besar William seperti sebuah istana, banyak yang berjaga bahkan mereka begitu hormat pada Bryan. Bryan memberikan kode pada Souta, agar para pelayan untuk melayani Laura dan mengatakan jika Laura adalah istri dari tuannya, Bryan. “Nona, silahkan ikuti saya,” ujar Souta membuat Laura mengangguk dan mengikuti langkah kaki Souta. Laura melirik ke arah Bryan yang berjalan ke arah berlawanan. “Kemana dia?” pikir Laura penasaran. “Mohon perhatiannya, ini adalah Nona Laura, Istri dari Tuan Bryan, kalian harus hormat padanya, dan layani dia selayaknya kalian melayani Tuan Bryan!” ucap Souta tegas pada mereka para pelayan. “Mery, antarkan Nona Laura ke kamar yang sudah saya perintahkan untuk rapikan!” Mery seorang pelayan wanita itu pun lekas membawa Laura ke kamar yang sudah disediakan oleh mereka, kamar yang berbeda dengan Bryan. Laura cukup bersyukur karena mereka tidak tidur di kamar yang sama. “Ini kamar, Anda, Nona, silahkan beristirahat, jika ada sesuatu yang dibutuhkan, Nona bisa memanggil saya dengan memencet tombol ini,” jelas Mery sambil memperlihatkan sebuah tombol merah di remot yang tergeletak di meja dekat ranjangnya. “Ah terima kasih,” ucap Laura canggung. Mery pun meninggalkan Laura di kamar tersebut, sementara Laura melihat-lihat kamarnya yang sangat luas, bahkan luasnya seperti rumahnya di kampung. Laura tidak menyangka Bryan memiliki rumah yang sangat besar dan mewah. Langkah kakinya menyusuri setiap lorong kamar tersebut, lemari pakaian yang terisi penuh pakaian-pakain mewah, tas, sepatu bahkan perhiasan yang lengkap. Laura bahagia? Tidak, bahkan ia merasa tidak pantas untuk memiliki itu semua, karena tentu saja ia merasa sudah dibeli oleh Bryan, bukan menikah karena sebuah perasaan. Namun, Laura tidak bisa membantah ataupun menolak, hidup dengan penuh kekayaan baginya terasa hampa karena tidak ada perasaan yang dimiliki oleh keduanya. “Apakah ini benar?’’ gumam Laura, merasa jika semua ini seharusnya tidak ia rasakan. Karena itu akan semakin ia susah untuk lepas dari Bryan. Bryan tiba-tiba memasuki kamar Laura, membuat Laura terkejut, dan menatap Bryan dengan penuh banyak tanya. “Kau suka? sekarang kau bisa hidup mewah.” “Apa arti pernikahan ini bagimu?” tanya Laura pada Bryan.. “Sebuah ikatan, meski tanpa perasaan, kata sah sudah terucap, kita tidak bisa menyangkalnya,” jawab Bryan. “Maksudku, apa kau serius dengan pernikahan ini?” tanya Laura kembali. Bryan menatap Laura, ia paham betul dengan apa yang ada dalam pikiran wanita di depannya. “Itu semua tergantung padamu, jika kau bisa membuatku jatuh cinta, maka pernikahan ini tidak akan berakhir, sebaliknya jika tidak, maka akhir keputusan akan tetap ada padaku, kau akan menjadi apa? ingat dua miliar bukan jumlah yang sedikit.” Laura terdiam, seolah membenarkan apa yang dikatakan oleh Bryan, jika keputusan tetap ada pada Bryan, karena pria itu sudah memberikan uang yang cukup banyak untuk membelinya. “Ya benar, membeli.” Batin Laura sedih. “Kau bebas melakukan apapun seperti apa yang aku katakan sejak awal, asalkan kau tetap tahu apa posisimu! istri dari Bryan Hiroshi!” ucap Bryan kemudian. “Pernikahan kita adalah rahasia bukan?” “Benar, tapi bukan berarti kau bebas dekat pria lain!” “Aku tahu, jika begitu bolehkan aku bekerja?” tanya Laura. Bryan tersenyum tipis, “kerja?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN