014

1110 Kata
Laura berjalan berdampingan dengan Bryan saat memasuki perusahaan Asahi Nexus, hal itu cukup mengejutkan banyak pihak, karena tidak pernah terlihat Bryan dengan wanita manapun. Bahkan banyak yang mendengar jika Bryan bahkan sangat sulit didekati oleh wanita. Tapi Melvin, telah menegaskan pada mereka, agar tidak bergosip, jika belum tahu apa yang sebenarnya, apalagi menggosipkan bos mereka sendiri. Aturan pun dilayangkan dan akan diberikan sanksi jika mereka berani menyebarkan hal yang belum tentu kebenarannya. Sesampainya di ruangan, Laura terlihat senang, melihat kesana-kemari ruangan kerja Bryan, luas, bersih, dan terlihat mewah. Ekspresi wajah Laura terlihat sangat sehingga Bryan terus menatapnya dan tanpa sadar, ia tersenyum. Laura menatap pada Bryan dengan senyum manisnya. “Terima kasih, sudah mengajakku kemari.” Deg! Jantung Bryan kembali berdetak, seolah mengingatkan saat ia pertama bertemu dengan Laura. “Ya, mungkin aku mencintainya?” pikir Bryan. Entah mengapa ia bisa langsung merasakan cinta itu pada Laura, setelah banyak wanita yang berusaha mendekatinya. Bryan berjalan mendekati Laura, menarik tengkuk leher Laura, dan mencium bibirnya dengan lembut, penuh dengan perasaan, kali ini Laura tidak menolak bahkan mencoba membalasnya. Bryan pun semakin bersemangat, membiarkan cukup lama mereka tertaut, hingga merasa puas, ia menatap Laura dalam, begitupun dengan Laura yang menatap dirinya. “Kau milikku, Laura Anastasya, aku tidak akan pernah membiarkanmu lepas dariku. Apapun yang terjadi, kau mengerti?” tanya Bryan. Laura mengangguk tanpa ragu, karena memang saat ini ia adalah miliki pria di depannya, bukan karena dua milyar tapi karena Bryan yang juga sudah memberikannya kehidupan. “Aku sudah menjadi milikmu, Bryan.” Bryan tersenyum dan kembali menautkan bibir mereka, kembali saling memberikan tanda cinta. Disisi lain, di desa tempat keluarga berada, mereka benar-benar bersenang-senang setiap hari, membeli rumah, barang-barang mewah, makanan enak, hingga mereka lupa apa yang harus dilakukan agar uang itu akan berguna untuk waktu yang panjang. Hadi, ayah kandung Laura terlihat merenung, setelah menghabiskan begitu banyak uang, dengan berjudi. Kalah, dan terlilit kembali hutang, sedangkan Mirna, karena begitu banyak membeli barang mewah, hingga memiliki banyak teman tapi mereka justru memanfaatkannya, sehingga ketika uang itu habis, mereka menjauhinya. Naura, bahkan yang bahkan diputuskan oleh kekasihnya karena uang yang dijanjikan Naura padanya sudah tidak ada, Naura dimanfaatkan oleh kekasihnya, untuk berkencan dengan wanita lain. “Bukankah uang itu banyak, bagaimana habis begitu saja?” geram Naura karena kesal karena kini ia tidak bisa bergaul lagi dengan gadis-gadis kota dekat dari desanya. “Aku perlu uang, agar bisa mendekati pria kaya! pria sialan itu, berselingkuh dariku!” “Kau pikir uang itu tidak akan habis, hah! lihat barang yang kau beli, ibu beli, belum kita selalu membeli makanan enak!” Mirna sangat kesal dengan apa yang dikatakan Naura. “Bagaimana tidak habis, kita hanya tahu menghabiskan uang, tapi tidak menghasilkan!” seru Hadi ikut bicara. Mirna menatap tajam Hadi, berpikir justru Hadi lah yang sudah menghabiskan banyak uang dengan percuma. “Kau bahkan hanya tahu berjudi, hingga meninggalkan pekerjaanmu! kau pikir siapa yang salah disini?” “Aku tidak pernah meninggalkan pekerjaanku, tapi aku dipecat, karena Tuan Arifin yang marah padaku, tidak memberikan Laura padanya!” balas Hadi kesal. “Benar, Laura, mengapa kita tidak mencari Laura saja, suaminya orang kaya, tidak akan sulit memberikan kita uang bukan?” usul Naura pada ayah dan ibunya. Mirna mengangguk, apa yang dikatakan Naura ada benarnya, lagipula mereka sudah tidak bisa terus berada di desa, yang sudah banyak membicarakan mereka, dan mengatakan kejelekan mereka. Mirna sudah tidak sanggup dan merasa tidak nyaman. Terutama Hadi, yang memang berencana meninggalkan desa karena hutang yang sudah menumpuk, ia tidak mau terus ditagih oleh penagih hutang, sehingga akan memalukan dirinya. “Kita perlu modal untuk berangkat kesana! Kau jual barang-barang mewahmu, dan aku akan menjual rumah ini!” ucap hadi setuju untuk meninggalkan desa dan mencari Laura di Jakarta. “Apakah kita harus menjual rumah?” tanya Mirna merasa keberatan. “Kau pikir di kota cukup dengan uang satu atau dua juta? kita perlu rumah, kita perlu pekerjaan atau usaha! Tidak mudah mencari Laura di kota besar!” jawab Hadi kesal dengan Mirna seolah tinggal di kota sama seperti saat di desa. “Ya sudah ibu, jual saja, kita harus diam-diam, jangan sampai warga desa tahu, nanti malah di ambil uangnya karena hutang ayah!”tambah Naura setuju dengan usulan ayahnya, lagipula Naura tidak berencana kembali ke desa jika ia sudah di kota. Tentang uang dan pekerjaan, ia akan mencari cara agar bisa bertahan di sana. Apalagi jika bisa menggaet pria kaya, itu menjadi tujuan besar Naura. Naura pun merasa iri pada Laura jika benar dinikahi oleh pria kaya, bahkan tampan, ia ingin melihat apakah Laura hidup dengan baik, bahagia? jika benar, Naura ingin merebutnya, tidak terima jika Laura bisa lebih baik darinya, karena sudah sejak lama, Laura selalu menderita, agar dirinya bisa bahagia. Hadi mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Naura. Mereka pun mulai bergerak mencari siapa yang mau membeli rumah dan beberapa barang mewah milik Mirna dan Naura. Setelah berhasil,mereka akan mencari Laura, dan mengganggu hidupnya. Namun, mereka tidak tahu jika semua itu akan sia-sia, karena Laura sangat dijaga oleh Bryan, tidak akan ada siapapun yang boleh mendekatinya. Kembali pada Laura yang masih menemani Bryan di ruang kerjanya, tidak ada apapun yang bisa dilakukan selain berjalan-jalan di sekitar ruangan Bryan dan tidak bisa lebih jauh lagi. Laura tidak mengerti mengapa ia sangat dijaga oleh beberapa orang, bahkan tidak boleh keluar sendiri, berjalan sendiri. “Aku bosan, mengapa Bryan tidak memperbolehkan kau keluar dari perusahaan, berada disini pun aku tidak mengerjakan apapun, hanya makan dan menemaninya bekerja,” ucap Laura mengeluh setelah berjalan di sekitar ruang Bryan yang tidak ada yang menarik, selain beberapa ruangan kosong, seperti ruang rapat yang sedang tidak digunakan, dan ruangan lainnya. Awalnya cukup senang dan antusia, tapi jika hanya melihat Laura pun bosan. Hingga Laura memberanikan diri, untuk berjalan di gedung perusahaan, dan akhirnya Bryan mengizinkan, asal ditemani oleh Mery dan juga beberapa pengawal. Hingga sudah sampai lobi perusahaan, Laura terlihat lelah. “Besar juga perusahaan Bryan, Mery apakah masuk ke perusahaan ini sulit?” “Saya tidak tahu, Nona. Tapi yang pasti membutuhkan kriteria khusus yang diinginkan perusahaan,” jawab Mery. “Ya, jika aku hanya lulusan SMA, pasti tidak akan bisa masuk ke perusahaan ini,” ucap Laura mengeluh. “Tapi Nona sudah menjadi Nyonya Bos, itu lebih baik bukan?” “Nyonya bos?” Laura tertawa mendengar perkataan Mery, tapi ada benarnya hanya saja Laura masih belum percaya jika semua ini sudah menjadi takdirnya. Terdengar riuh di dekat meja resepsionis. membuat Laura terkejut. “Itu… bukankah itu Jessica, model yang kita lihat di salon saat itu?” “Jessica? Nona lebih baik anda ke atas, kembali ke ruangan Tuan Bryan,” ujar Mery khawatir Laura bertemu dengan Jessica.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN