013

1078 Kata
“Mengapa aku berbicara seperti itu, bukan itu tujuanku?” bisik Bryan dalam hatinya. Luara sendiri, hanya bisa terdiam menanggapi perkataan Bryan. Karena Laura tidak tahu harus menjawab apa, dan apa ia bisa menolak atau membantah? Bryan merasa bingung sendiri dengan apa yang dikatakannya, tapi yang pasti dalam dirinya tidak ingin membuat Laura jauh darinya. Bukan karena uang, tapi karena ia memang sudah merasa tertarik dengan Laura. “Baiklah, aku akan lakukan apapun yang kamu mau, tidak ada pernikahan yang main, meski aku masih meragukan apa niatmu yang sebenarnya terhadapku, tapi aku tetap merasa bersyukur, karena kamu memberikanku, tempat, dan kenyaman. Maaf tidak akan ada lain kali aku menolakmu,” ucap Laura merasa tidak ada salahnya jika ia bersikap layaknya seorang istri bagi Bryan Hiroshi. Lagipula Bryan sendiri yang menginginkan dirinya untuk berusaha membuat Bryan jatuh cinta padanya, agar pernikahan itu menjadi pernikahan bahagia. Meskipun Laura selalu merasa belum siap untuk hal yang lebih intim karena semua itu adalah yang pertama kali untuknya, kini ia harus siap. Bryan tersenyum tipis, ia berdiri dari duduknya dan menghampiri Laura yang terlihat bergeming. Entah takut atau gugup yang dirasakan oleh Laura saat ini. Laura tidak menundukan lagi wajahnya, ia mengingat apapun perkataan Bryan agar membuat Bryan senang. Setelah Bryan berada di hadapannya, ia kembali menarik tubuh Laura hingga tubuh mereka saling menempel. “Jika kau setuju, maka jangan pernah menolak apapun, Laura. Ingat kau mendapatkan sumber daya dariku, jika kau patuh kau akan memiliki segalanya, tapi jika tidak atau bahkan kau berani dekat dengan pria lain, kau akan menyesal!” Laura mengangguk tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, yang ada jantungnya kian berdetak cepat, malu dan takut bersamaan, saat tubuh mereka kembali menempel. “Tidurlah, aku beri kau waktu sendiri hingga esok. Setelahnya, aku yang memutuskan lagi!” ujar Bryan melepas Laura untuk segera pergi ke kamarnya. Laura mengangguk, ia menatap Bryan dengan penuh, pria seperti apa Bryan? “Terima kasih, aku kembali ke kamar,” ucap Laura pamit dan segera meninggalkan ruangan Bryan. Bryan menatap Laura yang menjauh darinya. Pria dingin itu merasa bingung dengan apa yang kini dirasakan. Tidak pernah ia dekat dengan wanita atau bahkan menjalin hubungan, baru kali ini ia memutuskan hal yang besar, apakah karena ia benar-benar mulai menyukai? Tapi bagaimana dengan statusnya tidak diketahui banyak orang, dan Laura akankah Laura menerimanya? Bryan tahu identitas yang disembunyikan itu bukanlah hal yang bisa dimaklumi atau di banggakan, terlebih di negara yang sangat anti akan hal-hal tersebut. Souta tiba-tiba datang menghampirinya, membuat Bryan kembali duduk di kursi kebesarannya. “Apa ada masalah?” tanya Bryan melihat Souta yang terlihat serius. “Pemimpin Echelon, terlihat di tempat kita biasa transaksi, sepertinya ia ingin merebut tempat kita, yang telah beranggapan Anda tidak lagi di Aokiba,” ucap Souta membuat Bryan tersenyum tipis. Echelon adalah musuh yang sangat ingin menyingkirkannya, menyingkirkan Aokiba yang sangat disegani di dunia bawah. Kepergian Bryan ke Indonesia, membuat banyak anggapan jika Bryan sudah tidak lagi memimpin Aokiba, sehingga mereka berpikir bisa dengan mudah menyingkirkan dan kemudian Echelon yang memimpin. “Bukan itu saja, transaksi kita di daerah utama dibatalkan, ada penyusup yang ingin merusak barang kita, sehingga akan membuat klien kita dirugikan,” tambah Souta melaporkan beberapa hal yang sudah terjadi. “Apakah itu masih mereka?” tanya Bryan, tatapan berubah dingin, senyum tipisnya terlihat menyeramkan. Souta bahkan merasa takut jika sudah melihat Bryan seperti, jika ada yang mengganggunya, sehingga darah dingin itu akan keluar, sisi lain dari Bryan, yang akan tanpa ampun menyerang mereka. “Maaf, mereka kehilangan penyusup itu, tapi sepertinya iya,” ucap Souta, suaranya sedikit melemah, merasa bersalah karena anak buahnya tidak becus dalam hal itu. “BODOH! Tangkap dan cari, jangan sampai penyusup atau bahkan pengkhianat lepas dari pandangan kita!” Aku tidak mau tahu, kalian harus bisa menangkapnya. Dan Cyrus, pemimpin Echelon, biarkan dia terus beranggapan aku tidak lagi di Aokiba. Biarkan dia bersenang-senang, hingga saatnya tiba, Echelon akan kita hilangkan!” Perintah Bryan langsung dilaksanakan oleh Souta yang memberikan perintah pada orang-orang kepercayaan mereka di setiap wilayah Aokiba. Sementara itu, di kamar Laura, yang belum bisa menutup matanya. Karena ia masih kepikiran tentang apa yang terjadi sebelumnya. Bryan dan tindakannya yang tiba-tiba. Masih merasa bersalah karena tidak bisa membalas apa yang sudah Bryan berikan, merasa bersalah karena seharusnya ia tahu posisinya, istri sah dari Bryan Hiroshi. “Aku harus bisa menerima takdirku, ini mungkin jalan terbaik yang tuhan berikan, Bryan sudah begitu meski sedikit egois. Tapi jika tidak karena Bryan, aku akan tetap menjadi Laura yang dimanfaatkan oleh keluarga.” “Bagaimana kabar mereka?” Laura tidak khawatir pada mereka, tapi penasaran apakah mereka masih bisa hidup dengan layak, dengan harmonis dengan uang yang Bryan berikan, atau menjadi gila karena harta yang menjadikan mereka semakin merasa di atas. *** Pagi harinya, Bryan sudah berada di meja makan, dimana Laura yang seperti sebelumnya menyiapkan sarapan untuk dirinya. “Mery, kau bersihkan kamar Laura, barang-barangnya kini masukan ke dalam kamarku, mulai hari ini, kita akan sekamar!” ujar Bryan mengejutkan Laura. Mery yang tidak jauh dari sana pun tersenyum seolah senang dengan apa yang dikatakan oleh Bryan, karena hubungan Bryan dan Laura mungkin akan semakin dekat, akan menjadi layaknya sepasang suami istri. “Kau tidak keberatan bukan?” tanya Bryan pada Laura. “Tidak, bukankah itu sudah seharusnya?” jawab Laura tenang meski ia cukup terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Bryan. Namun mungkin ini memang yang dimaksud oleh Bryan, tentang apa yang sudah dikatakannya semalam. “Apa kegiatanmu hari ini?” tanya Bryan pada Laura. “Tidak tahu, aku belum memiliki rencana apapun, kemarin saja aku ke salon karena usulan dari Mery, aku tidak begitu tahu kota ini, karena baru pertama kali aku kemari,” jelas Laura tidak ada lagi rasa canggung, karena sudah memutuskan untuk menjadi seorang istri yang baik untuk Bryan meski belum ada perasaan dari masing-masing mereka. “Jika begitu, kau bisa ikut ke perusahaanku, kau bisa membantuku disana,kau mau?’ ajak Bryan membuat kedua mata Laura berbinar. Laura selalu bermimpi bisa memasuki perusahaan besar, bekerja disana, tapi semua itu merasa mustahil baginya, hingga kini Bryan memberikan penawaran padanya, meski hanya untuk menemani. Laura sudah sangat senang. “Mau, aku mau, aku senang bisa memasuki perusahaan, bahkan jika bisa aku ingin bekerja, itu… itu impianku…” ucap Laura tanpa sadar terlalu bersemangat menjawab tawaran Bryan. Sedangkan Bryan, ia menatap Laura tanpa teralihkan seolah ia semakin terpikat oleh Laura, dengan sifat Laura yang sebenarnya semakin terbuka padanya, Bryan pun senang melihat Laura yang begitu bahagia mendapat tawaran darinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN