012

1054 Kata
Bryan tiba di rumah dan melihat Laura yang sedang menunggunya di ruang tengah, wanita yang menjadi istrinya itu terlihat tersenyum canggung, tampilannya terlihat berbeda, lebih cantik, dan sangat berbeda dengan tampilan saat Laura masih di desa. Laura yang mengenakan dres pendek, tanpa lengan, dengan rambut yang urai panjang, riasan di wajah yang natural menambah kesan kecantikan Laura, sederhana, tapi berkelas. “Kau tidak sia-sia telah menggunakan uangku, Laura. Mengubah tampilan dan ingin membuatku terkesima?” ucap Bryan terdengar dingin, hal itu membuat Laura merasa takut jika ia telah salah dalam bertindak. “Maaf jika kamu tidak suka, ini bukan keinginanku, aku…aku hanya…” Bryan melangkah dan menarik pinggang Laura, hingga tubuh mereka menempel. Laura terkejut, belum sempat melanjutkan kalimatnya, Bryan sudah bertindak sesuka hatinya. Laura yang didekap oleh Bryan terlihat malu, jantungnya bahkan berdetak cepat dari biasanya. Begitu pun dengan Bryan, yang juga merasa terkejut dengan tindakannya sendiri ingin memeluk Laura, yang terlihat cantik, lebih cantik dari biasanya. “Bersikaplah lebih berani, jika kau memang ingin membuatku semakin terpikat olehmu. Aku akui, kau cantik, tapi aku tidak suka melihat orang bicara padaku dengan menundukan wajahnya!” Mendengar perkataan Bryan, sontak membuat Laura mendongkak kan wajahnya, akan tetapi ia lupa dengan posisi seperti itu, membuat wajahnya mereka berdekatan. Hal itu membuat Bryan semakin tidak terkendali, tanpa ragu ia mencium bibir Laura, yang terkejut dibuatnya. Laura memberontak, merasa ia belum siap dengan apa yang dilakukan Bryan, hal itu membuat Bryan mendorong Laura hingga tersungkur ke sofa. Laura kini melihat sisi lain dari Bryan, menatap Bryan yang berjalan menjauh darinya memasuki ruang kerja, yang tidak bisa ia masuki dengan bebas tanpa izin dari Bryan. Tangan Laura meremas sofa yang didudukinya, ia menyesali apa yang sudah dilakukannya, sehingga berpikir membuat Bryan malah membencinya. “Seharusnya aku terima, walau bagaimanapun dia suamiku…” bisik Laura, air matanya menetes. Tapi hatinya tetap menolak, belum siap dengan hubungan pernikahan yang tidak diinginkannya. Namun, Laura tidak memiliki pilihan dalam hidupnya, dirinya yang sudah menjadi milik Bryan, dengan uang dua milyar. Terbebas dari pernikahan dengan tuan Arifin bukan berarti ia bebas dengan hidupnya. Bryan, adalah pria yang menyambutnya, mengulurkan tangannya, memberikannya kebebasan yang singkat. Namun apakah itu benar, apa yang dipikirkan olehnya? Laura selalu berpikir jika dirinya hanyalah alat atau barang yang sudah dibeli oleh Bryan, tapi bagi Bryan berbeda, pria itu justru memberikan kenyaman padanya, memberikan kesempatan untuk membuat pernikahan itu menjadi nyata seperti yang diinginkan olehnya. Laura berjalan perlahan mendekati ruangan yang tertutup, jantungnya berdegup kencang, ia merasa harus meminta maaf pada Bryan, yang tidak seharusnya menolaknya. Sementara itu Bryan, ia terlihat menyesali apa yang sudah dilakukannya pada Laura, ia tahu itu terlalu cepat untuk bisa menyentuh Laura, bahkan ia mulai bersikap kasar pada Laura. Hal yang tidak pernah dilakukan olehnya, berbuat kasar pada wanita yang bukan musuhnya. Bryan menghisap sebatang rokok di ruangannya, sehingga asap mengepul di sekitarnya. Terdengar suara ketukan pintu yang memecah keheningannya, Bryan menatap pintu yang tertutup rapat, tidak ada suara Souta atau bahkan Malvin yang biasanya menemuinya. Siapa pikir Bryan. “Masuk!” ujar Bryan cukup kencang hingga terdengar dari luar ruangan. Laura yang mendengar suara Bryan yang mengizinkannya masuk, perlahan membuka pintu tersebut, langkahnya pelan memasuki ruangan Bryan yang tidak begitu terang dan banyak asap di dalamnya. Bryan menatap Laura yang berjalan perlahan mendekatinya, sebatang rokok yang dipegangnya ia mematikan di dalam asbak. Saat Laura sudah di hadapannya, wanita cantik itu dengan ragu menatap Bryan, mengingat jika Bryan tidak suka orang berbicara padanya dengan menunduk. “Maafkan aku, seharusnya aku tidak menolakmu,” ucap Laura nyaris berbisik. Bryan menatap Laura yang terlihat bersalah karena menolak dirinya. Padahal, Bryan pun ikut merasa bersalah karena sudah berlaku tidak sopan dan kasar pada Laura. Tapi justru Laura yang meminta maaf pada Bryan. “Kau merasa bersalah?” tanya Bryan pada Laura, menutupi perasaan bersalahnya pada Laura. Laura mengangguk lemah, “walau bagaimanapun aku adalah istrimu.” “Jadi kau sudah menganggapku suamimu?” tanya Bryan kembali membuat Laura terdiam. “Menganggap?” batin Laura bingung. “Bukankah begitu, meskipun tidak ada perasaan di antara kita? jawab Laura. “Karena itu aku minta kau mencoba menerima dan membuatku jatuh cinta padamu. Jika kau ingin hidup lebih baik atau membayar uang yang aku berikan. Tapi kau malah melakukan hal yang membuatku kesal, Laura!” Laura terdiam, mendengar perkataan Bryan yang menyinggung uang dua milyar, karena itu tentu tidak bisa membuatnya berkutik, tapi juga kesal, Laura tahu ia tidak akan bisa mengembalikan uang sebanyak itu. “Ya benar, aku tidak bisa melakukan apapun lagi, seharusnya aku sadar dengan posisiku disini tidak menolak apapun yang kamu lakukan padaku,” ucap Laura lantang, air matanya kembali menetes, hal itu membuat Bryan berdecak kesal. Namun ada rasa kasihan, tidak tega, dan sedih melihat Laura menangis di depannya. Bahkan ia merutuki dirinya yang kembali menyakiti Laura. “Ya aku bebas melakukan apapun yang aku mau. Tidurlah, ini sudah larut!” ujar Bryan tidak mau berdebat dengan Laura, dan tidak mau melihat Laura yang menangis dihadapannya. Laura terdiam, ia kira Bryan akan menghukumnya, tapi justru Bryan menyuruhnya untuk beristirahat, tidak amarah yang sudah ditakutkan sejak awal, saat ia mempersiapkan diri untuk menemui Bryan. Laura menatap Bryan penuh dengan tanya, apa yang sebenarnya Bryan inginkan darinya? “Sebetulnya, apa yang kau inginkan dariku? aku tahu kamu pria kaya, bisa dengan mudah mencari wanita lain yang kamu inginkan, dan uang dua milyar, kau juga bisa menjualku pada orang lain. Tapi kamu menahanku dengan pernikahan, dengan kenyamanan dan kekayaan yang juga kamu berikan. Apakah… apakah kamu benar-benar serius dengan pernikahan? dan ingin hubungan kita semakin baik, tapi kamu selalu mengungkit uang dua milyar itu, itu membuatku sakit, kau tahu aku tidak akan pernah bisa membayarnya.” Laura mengeluarkan isi hatinya, mengeluarkan segala hal yang menjadi keraguan, ketakutan dirinya terhadap Bryan. Bryan terdiam setelah mendengar perkataan Laura, tentang semua keraguan dan ketakutannya. Bryan sendiri bahkan tidak tahu, kemana arah yang akan ia tuju dengan Laura. Apakah hanya ingin mendapat jawaban tentang apa yang dirasakan olehnya? Karena dirasa itu terlalu cepat dirasakan olehnya, tidak mungkin ia bisa jatuh cinta dalam waktu yang singkat saat ia tidak mengenal dengan baik siapa Laura. Tapi, pernikahan memang langkah yang ceroboh yang dilakukan olehnya. “Jika kau tidak menikah denganku, apa kau mau menjadi wanita jalang yang melayani banyak pria? Tidak bukan? maka layani saja aku, dengan dasar pernikahan yang sah!” “Bryan…kau…”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN