Bab 12

1003 Kata

“Ya Alloh, Mas. Masak aku doain kamu dipecat. Ya, nggak lah. Aku cuma doain agar kamu cepet sadar. Mungkin sama Alloh, jalannya kamu sadar itu, ya mesti dipecat dulu. Nggak punya kerjaan. Baru kamu sadar,” sahut Namira dengan intonasi datar. Terdengar menyindir. Bahkan, tanpa menunjukkan rasa bersalah. Mataku melotot mendengar penjelasan Namira. Jadi, benar ini semua kontribusi dari doa istriku? Jadi, mereka benar-benar menganggapku selingkuh dan aku harus merasakan akibat perbuatanku? Aku mengacak rambutku kasar. Aku semakin tak mengerti jalan pikiran ibu dan anak di depanku ini. Keduanya seolah kompromi sengaja memojokkanku. Harusnya mereka memberiku semangat agar aku tak patah arang dan pantang menyerah mencari pekerjaan. Bukan malah menguliti kesalahanku seperti ini. Dasar peremp

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN