Usai menerima pesan singkat itu, aku pun berencana untuk keluar rumah. Aku harus segera membereskan urusanku. “Buk, nitip anak-anak sebentar,” ujarku sambil mengangsurkan Dafi ke ibu mertuaku. Aku sudah berdiri di depan pintu rumah mertuaku beserta anak-anak. Seperti halnya mertuaku ke rumahku, aku pun sama. Sudah menganggap rumah mertuaku seperti rumah sendiri. Jarak rumah yang dekat, membuat aku sudah terbiasa menyambangi rumahnya. Ibu mertuaku sedikit terkejut mendapatiku sudah di depan pintu sambil membawa anak-anak. Karena tak biasanya aku datang dengan anak-anak, kecuali bersama dengan Namira. Meskipun ibu mertuaku cemberut padaku, tapi dengan anak-anak dia sama sekali tak pernah cemberut. Beliau sangat sayang pada dua cucunya ini. Bahkan, Dafi dan Dafa terlihat kegirangan saat

