Bab 19b

1878 Kata

“Ya, Mas?” Suara Namira menyentakkan lamunanku, yang sedari tadi mengamatinya menyisir rambut. Hal yang hampir tak pernah dilakukan dulu saat masih mengurus anak-anak tanpa pengasuh juga mengurus rumah tangga. Kalau pun sisiran, dulu hanya dilakukan sekenanya, asal rapi saja. Rambutnya akan cepat-cepat diikat, setelah bangun tidur. Kini, kulihat dia sedikit relax, meskipun mungkin lelah karena seharian bekerja. Tapi, wajahnya selalu lebih bercahaya, tidak kusam dan kumal. Sudah lama Namira tidak memanggilku dengan sebutan "Mas". Sejak peristiwa itu, dia lebih sering ber"kamu-kamu" padaku. Mendengar panggilan itu, rasanya seperti aku kembali ke masa-masa bahagia dahulu. “Sini…” ujarku sambil menepuk kasur di sebelahku. Sejak aku bekerja, meskipun belum gajian sekalipun, sikap Nami

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN