Langkahku terhenti saat menyadari siapa yang sedang menunggu di ruang depan tempat penerima tamu kantor. “Ngapain kamu ke sini?” tanyaku sambil menatap tajam ke arahnya. Aku pikir, tadi tamu yang dijanjikan Firman, kalau ini sih, benar-benar tamuku. Ingatanku seolah kembali pada saat dia pagi-pagi melabrak istriku, sesaat setelah dia menerima surat pemecatan. Kenapa dia malah ke sini? Apa maunya? Apa dia mau menagih uang dariku lagi? Dari mana dia tahu aku ada di sini? Perempuan yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya itu mendongakkan kepala saat aku bertanya, tanpa menyebut namanya. Ia menatap ke arahku. Matanya membulat karena kaget. “Mas Reno!” pekiknya. Matanya mengerjap karena masih tak percaya memandangiku. Bahkan, mulutnya ikut ternganga. Duh, dia malah memanggilku "Mas",

