"Masuk, Pak Reno." Reno tergagap. Dia berdiri di depan pintu. Dia pikir Meira mengajaknya ke ruang kerja. Tapi, begitu pintu terbuka setengah, Reno baru menyadari itu adalah kamar tidur. "Saya di sini saja," tolak Reno. Meira hendak menunjukkan beberapa dokumen penting pada Reno, karena Reno terlihat ragu dengan kesungguhannya membeli semua unit di Cluster Kenanga. "Tidak apa-apa. Masuk saja. Ini kamar saya. Saya sudah bercerai dengan suami. Jadi, tak akan ada yang marah," bujuk Meira sembari menghampiri Reno yang masih mematung. Yang menjadi masalah bukan yang marah pada Meira, tapi sisi hati Reno mengatakan kalau itu salah. Reno masih bertahan berdiri di ambang pintu. "Saya tunjukkan sesuatu ke anda," ucap Meira. Mata indahnya menatap Reno, membuat lelaki itu sesaat menelan

