Gadis itu mengarahkan tatapannya pada langit yang menggelap, mengantarkan hawa sejuk yang menerpa wajahnya tatkala kaca mobil diturunkan. Siang ini mendadak langit kembali menampilkan kesedihannya, beberapa tetes tirta mulai jatuh menyapu panas bumi yang kian hari kian bertambah. Dia menghela napas, menyandarkan punggungnya pada bahu kursi sembari memperhatikan pria di sampingnya yang menyetir dengan tenang. Selama ini Annelis tidak pernah mempunyai kesempatan untuk melihat Aarav sedekat dan selama ini, biasanya pria itu selalu saja menggodanya. Annelis terkekeh mengingat bagaimana bibir tipis itu selalu melontarkan kalimat bernada ledekan. Entah bagaimana awalnya, mereka yang dulu sering bertengkar kini bisa sedekat ini. Dia tidak pernah berpikir akan menjadi bagian dalam hati Aarav. M

