Nabastala berangsur terang, meninggalkan mega hitam yang semula mendominasi cuaca. Kicau burung terdengar pekak tatkala segerombolan berbondong-bondong meninggalkan pepohonan, membawa serta beberapa jerami untuk membangun tempat berpulang. Pun dengan gemercik tirta yang semula membumi, kini hanya menyisakan beberapa tetes pada dahan rindang, membuat belalang bebas meminum mineral tanpa melangkah. Dia mengulas senyum, mengamati hamparan biru di atas sana yang perlahan kian memerah. Menarik napas dalam, Annelis membayangkan betapa indah kehidupannya dulu, jauh sebelum kematian Kinan. Jika saja dia tidak membiarkan sang mama pergi hari itu, mungkin sampai saat ini mereka masih bersama—tertawa, berbagi kebahagiaan, juga meluapkan segala emosional dalam kehidupan. Sungguh, jika boleh egois

