Binar menyusup melalui celah gorden yang terpasang, membuat sosok di dekatnya menyipitkan mata. Dia terpaksa membuka mata kala suara berisik dari arah luar kembali menyapa indera. Perlahan sinar mentari yang tadinya menyeruak kekuningan mulai naik membuat lingkungan sekitar terang. Dia bangkit, melirik sosok yang masih terpejam di atas brankar. Tersenyum, dia merasa lega ketika sudah memastikan sosok itu masih terlelap di sana, lantas dia berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajah. Pagi ini masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Dia bangun tepat di samping Ziyan, disuguhkan pemandangan wajah tampan yang masih terpejam, juga dengan suara lalu-lalang suster yang tak hentinya mendorong brankar. Sera menghela napas. Dia bahkan sudah merasa bosan di sini. Jika saja pria itu bukan Ziya

