Melisa, tentu saja, tersenyum penuh arti di sampingku, seolah ingin menekankan kalau semua ini bukan sekadar obrolan biasa, tapi urusan keluarga yang serius. Aku menelan ludah, sadar bahwa dunia yang kukenal baru saja bertambah luas—dan Tristan, yang selama ini kukira cuma teman lama, ternyata anak dari keluarga yang bisa menyaingi Santoso. Aku menghela napas, menutup ponsel, dan menatap mereka. Dalam hati aku berbisik, baiklah, kalau ini urusanku, aku harus siap… tapi aku tetap tidak akan terlihat terlalu terkesan. Aku menatap Melisa dan Arman, mencoba tetap tenang. Tapi jujur, hatiku berdebar. Bagaimana tidak—sejak tadi mereka membicarakan Tristan seolah-olah ini bukan cuma masalah pertemanan atau kesukaan pribadi, tapi urusan strategi keluarga yang bisa menguntungkan Santoso. “Kalau

