Aku terpaku, tubuh kami belum benar-benar terlepas. “Aku… aku nggak tahu,” jawabku, gugup. “Serius?” Ia menatapku, matanya tajam penuh selidik, masih di dalamku, tubuhnya tegang lagi. Aku mengangguk, merasakan kemarahannya yang mulai terasa panas di kulitku. Setelah mengguncangku habis-habisan, kini dia benar-benar menguji batasku. “Papa nanya dia sama kamu?” balasku. “Semalam aku nginap sama aku—kenapa bisa jadi nginap sama dia?” tuduhnya, nadanya sudah hampir putus asa. “Mas, kamu udah tanya istri kamu? Dia yang bikin omongan…” aku mencoba melawan, tapi suaraku bergetar. “Jangan salahin orang, kamu yang ngomong,” tukasnya tajam. Tubuhnya masih menindihku, posisi kami belum terlepas, bahkan aku merasakan ia mulai menegang lagi—kemarahannya berubah jadi gairah baru. “Kamu suka sama

