Episode 16

1051 Kata

Aku masih terdiam di kursi, menatap perlahan wajah Papa dan Mas Gilang. Suasana jadi agak tegang, seperti ada listrik statis di udara. Papa menatapku sejenak, lalu menoleh ke Mas Gilang. “Gilang, memangnya kenapa? Knessa sekarang juga sudah masuk usia yang wajar untuk menikah. Kalau memang ada kesempatan baik, kenapa tidak dipertimbangkan?” Mas Gilang menegakkan punggungnya, matanya menatap Papa dengan tajam. “Aku tidak setuju, Pa. Aku rasa… ini bukan keputusan yang bisa dibuat sembarangan. Knessa bukan sekadar kartu strategi keluarga. Dia bukan boneka yang bisa dijodohkan begitu saja.” Papa menghela napas panjang, tampak sedikit kesal. “Gilang, jangan seperti itu. Ini soal masa depan Knessa, dan kesempatan dia untuk bersinergi dengan keluarga besar lain. Bukankah itu baik?” Aku duduk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN