Tubuhku langsung menegang. Aku belum sempat menoleh, suaranya makin menusuk, “Mas, sejak kapan di sana?” “Apa? Kaget liat aku? Gak seneng aku di sini?” Ia menghujaniku dengan tatapan tajam, dingin, penuh selidik dan kemarahan yang tertahan. Aku mencoba membantah, “Bukan gitu—” Belum sempat kalimatku selesai, ia sudah menerjang ke arahku. Tangannya merebut ponsel dari genggamanku, lalu melemparnya keras ke lantai. Ponsel itu terhempas, bunyinya pecah, serpihannya terpental ke bawah ranjang. Aku terpaku, jantungku berdegup liar antara takut dan marah. Gilang mendekat cepat, tubuhnya menindihku di ranjang tanpa memberi celah. Kedua tangannya menahan pinggulku, menekan keras seolah menancapkan rasa kepemilikan dan kemarahannya pada kulitku. Nafasnya berat, matanya membakar. “Jangan pernah

