“Enggak, Kak. Aku mau ketemu teman,” aku beralasan, menunduk sambil menyembunyikan rasa enggan ingin ikut ke kantor. “Hmm… ketemu Tristan, ya?” Nada suaranya menggoda, mempermainkan aku dengan senyum tipis di bibirnya. Aku tidak menyahut, hanya menghela napas panjang, merasa sedikit terpojok tapi juga lega dia tidak menekan lebih jauh. Melisa terkekeh kecil, lalu berbalik dan melangkah keluar dari rumah, meninggalkanku sendiri di ruang keluarga. Selesai menghela napas, aku mendekati ibuku yang sedang duduk merajut di sofa. Tanpa basa-basi, beliau menyeret tanganku, menatapku dengan tatapan tajam yang membuatku langsung sadar bahwa topik pembicaraan kali ini serius. “Sejauh apa hubunganmu dengan Tristan?” tanyanya, suara lembut tapi penuh perhatian, seolah ingin menilai setiap kata yang

