Beberapa tamu mulai berteriak ajakan permainan minum, musik semakin keras, dan lampu strobe membuat segalanya seperti mimpi. Aku duduk di pangkuannya, sesekali menunduk malu, tapi juga tak bisa menahan tawa. Gilang menyandarkanku di dadanya, membisikkan hal-hal kecil yang hanya aku yang bisa dengar, sambil tangannya bermain ringan di pinggangku. Aku sadar, di tengah keramaian dan kekacauan ini, hanya ada satu hal yang pasti: meski semua orang menggila di sekeliling kami, meski ada yang belum tahu sisi gelap kami, meski musik berdentum dan minuman mengalir deras—aku merasa aman. Di pangkuannya, di tatapannya, aku merasa dunia ini hanya milik kami berdua, dan tidak ada yang bisa mengganggu. Pesta semakin liar, tawa dan sorakan bercampur dengan dentuman musik, tapi aku dan Gilang seolah men

