Episode 20

1028 Kata

Suaranya rendah dan berat, masih mabuk gairah. Aku hanya mengangguk, tidak sanggup berkata apa-apa. Kepalaku pening, antara sisa alkohol dan arus panas yang belum sepenuhnya surut dari tubuhku. Ia tersenyum tipis, tangannya membelai wajahku, rambutku yang awut-awutan. Jari-jarinya turun ke daguku, menarikku untuk mencium bibirnya lagi—kali ini lebih pelan, tapi tetap menuntut, seolah menegaskan bahwa aku miliknya, hanya miliknya. Suara gaduh pesta samar-samar terdengar dari luar, membuat jantungku kembali berdebar panik. “Mas… kalau ada yang—” bisikku, tapi ia menempelkan bibirnya lagi di leherku, menggigit kecil hingga aku mengerang. “Biarin aja. Mereka nggak akan peduli, Ness. Di sini, cuma ada kita,” jawabnya, suaranya berat, napasnya membakar kulitku. Aku menutup mata, membiarkan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN