Dia diam, menahan nafas. Aku mendekat, mendorong dadanya ke bodi mobil—mencium bibirnya dengan kasar, lidahku memaksa masuk, tanganku menarik kerah bajunya. “Jangan macam-macam sama aku, Mas.” Nafasnya memburu, ia membalas ciuman itu dengan geram, satu tangannya menahan pinggangku, satunya lagi mencengkeram rambutku, menarik kepala hingga leherku menegang. Suara napas dan desahan kami terdengar liar di antara mobil-mobil kosong. “Kalau aku pergi, kamu tetap milik aku. Jangan bandel, jangan aneh-aneh di belakangku,” bisiknya tajam di telingaku. Aku hanya bisa menggigit bibir, menahan air mata yang nyaris tumpah, rasa panas di d**a menusuk sekujur tubuh. Aku mencium lehernya, meninggalkan satu tanda merah, lalu mundur perlahan. “Cepet pulang malam ini.” Dia menatapku terakhir kali—ta

