Erza membukakan pintu untukku, yang mana membuatku jauh lebih gerogi. Dia masih belum berkata apa pun. Wajahnya tetap datar. Sulit menebak apa yang sedang ia pikirkan. Kami berdua memasuki restauran dan menduduki salah satu meja di dekat air mancur. Indah sekali. Suasananya yang nyaman, tenang, dan romantis. Diiringi dengan musik jazz yang lembut. Dinginnya AC membuatku ingin memejamkan mata. Tidur. Tapi kurasa, ini bukan waktu yang pas untuk tidur. Jantungku masih memompa kencang. Erza ada di depan mataku saat ini. Erza nampak serius di balik buku menunya. Belum memesan apa pun hingga detik ini. Untungnya, pelayan yang sedang melayani kami malam ini cukup sabar. Aku mengetuk-ketukkan jari telunjukku di atas meja beberapa kali. Tangan satunya menopang daguku. Mataku menatap keluar jende

