Aaaaahhh!!! Aku menenggelamkan wajah, berteriak di bantal kesayanganku sambil memukulnya berulang kali. Kejadian paling memalukan beberapa jam yang lalu masih terngiang jelas di otakku. Bagaimana jika Erza benar-benar merekamnya, lalu memberikan rekaman itu pada Rio? Haduh, mau ditaruh mana wajahku? Erza benar-benar sialan. Iiiiihhhh!!! Jari-jariku mencengkeram kuat sarung bantalku. Sudah kupastikan wajahku merah padam. Seharusnya aku menolak ajakan jalan Erza tadi. Lagipula, apa, sih, maksudnya seperti itu? Atau jangan-jangan Rio yang menyuruh Erza. Bukannya, kedua makhluk itu bagaikan kutub magnet utara dan selatan yang sampai kapan pun tidak pernah bisa bersatu? Ah, nggak tau, ah! Melihat ponsel yang tergeletak manis di samping bantal kesayangan, aku tergoda untuk menceritakan k

