Kemuning mengigit bibir bawahnya. Dia tampak gugup. Dia membayangkan dirinya yang mengecup bibir Rindang. Suaminya itu memang nakal. Ini jelas memanfaatkan kesempatan. Bagaimana kalau ketika melakukannya dia gagal? Melihat Kemuning yang tampak membayangkan sesuatu, Rindang tersenyum geli. Dia akan membiarkan istrinya itu berkhayal setinggi-tingginya tanpa berniat untuk mengganggu. Dia pun mempercepat gerakan tangannya meracik bumbu dapur untuk masak pindang tulang dengan semangat. Dia yakin pindang tulang yang dibuatnya ini membawa keberuntungan. Kemuning menghela nafas berat. Membayangkan itu membuatnya frustasi. Lebih baik dia tidak mengambil pusing hal ini. Yang terjadi biarlah terjadi. Kemuning pun lalu memegang satu papan besar tempe. Dia berniat untuk membantu Rindang memasak. "

